• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

OJK: Di Era Digital Percayakan Peminjaman Online pada Fintech Legal

27 January
21:02 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Platform Financial Technology (Fintech) atau peminjaman online (Pinjol) menjadi salah satu solusi yang diminati masyarakat di era digital kala menghadapi masalah keuangan.

Deputi Direktur Pengaturan, Penelitian dan Pengembangan Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Munawar Kasan mengakui, saat ini perkembangan industri fintech dan pinjol begitu pesat.

Dalam catatan OJK, ada sekitar 164 perusahaan yang bermain di industri pinjol; 139 terdaftar, Berizin (25),152 konvensional, dan 12 syariah. Total pinjaman yang telah disalurkan melalui fintech telah mencapai Rp81,5 trilliun.

"Kini ada sekitar 164 perusahaan yang bermain di industri pinjol; 139 terdaftar, Berizin (25),152 konvensional, dan 12 syariah," kata Munawar dalam acara  Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Indopos di Hotel Ibis Jakarta Slipi, Senin (27/1/2020). Diskusi ini mengambil tema "Dewasa dalam Menyikapi Pinjaman Online".

Menurut Munawar, tujuan Fintech sebenarnya sangat bermanfaat bagi masyarakat, lantaran pinjol bertujuan membantu pihak-pihak yang ingin meminjam uang secara cepat dengan prosedur yang tergolong mudah dibandingkan ketika meminjam uang dengan cara konvensional.

Namun Munawar menyayangkan industri pinjol dirusak oleh pinjol-pinjol ilegal, yang kemudian meresahkan konsumen karena ada di antaranya yang mengancam dengan kata-kata kasar bahkan dengan cara-cara yang tidak manusiawi, seperti mengancam akan membagikan data-data pribadi sang peminjam.

"Keberadaan fintech yang pada dasarnya membantu pihak-pihak yang ingin meminjam uang secara cepat, namun dirusak dan diganggu oleh fintech ilegal," katanya.

Untuk itu, Munawar pun menyarankan jika ada konsumen yang diganggu oleh fintech ilegal untuk segara melapor ke OJK. Pasalnya, OJK telah menyoapkan sanksi tegas terhadap fintech ilegal.

"Laporkan ke saya, bisa dengan melampirkan screenshoot ancamannya, karena kami sangat tegas terhadap fintech ilegal. Sanksi untuk pihak-pihak yang berkata kasar terhadap konsumen bisa dihapus. Kami serahkan ke Satgas Fintech Ilegal," tegasnya.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi menilai, Pinjol ibarat dua mata pisau dimana satu sisi menjadi solusi, namun di sisi lain juga merugikan masyarakat. Hal itu menurut Tulus, karena Pinjol lahir di tengah masyarakat yang belum dewasa, di mana tingkat literasi digital sangat kurang bahkan sangat rendah.

"Selain itu, kebijakan pengawasan dan dukungan infrastruktur yang belum memadai sehingga banyak hal negatif-negatif yang ditimbulkan," kata Tulus.

Menurut Tulus, permasalahan paling tinggi dalam pinjaman online yang dilaporkan konsumen adalah cara penagihan. Yakni mencapai 39,5 persen. Kemudian, pengalihan kontak 14,5 persen, permohonan reschedule 14,5 persen, suku bunga 13,5 persen serta administrasi 11,4 persen dan penagihan pihak ke-3.

"Permasalahan pinjaman online, paling tinggi adalah cara penagihan. Rata-rata penagihan lewat teror, melalui WA. Saya pernah didatangi lender ke YLKI, dia bilang sengaja menagih dengan cara itu, ketimbang datang. Biaya nagih secara langsung lebih mahal," ujarnya.

Ketua Harian Asosiasi Fintech Lending Indonesia (AFLI) Kuseryansyah berpesan kepada masyarakat untuk menghindari bertransaksi dengan Fintech-fintech ilegal.

Ia menyarankan konsumen untuk menggunakan fintech legal yang telah terdaftar di OJK dan AFPI, yang telah jelas prosedurnya.

"Harus pilih Fintech yang terdaftar di OJK. Selain itu, harus menggunakan prinsip bahwa pinjaman itu adalah kewajiban mencicil tidak lebih dari 30 persen dari penghasilan, serta pinjaman itu harus yang untuk produktif," pesannya.

Direktur Harian Indopos Rizki Darmawindra berharap FGD ini akan menghasilkan output yang bermanfaat buat masyarakat serta  stakeholder (pemangku kepentingan). "Semoga diskusi ini menghasilkan manfaat untuk masyarakat dan pemangku kepentingan yang terkait," kata dia, dalam sambutan pembukaan acara.

Di tempat yang sama, Direktur Indopos Online (indopos.co.id) Syarif Hidayatullah mengatakan, diskusi ini lahir dari gagasan Indopos yang akan berulang tahun ke-17 pada 25 Februari mendatang. "FGD ini diselenggarakan salah satu alasannya adalah menjelang hari ulang tahun ke-17 Indopos," ujar dia.

Sedangkan, Pemimpin Redaksi Indopos Ariyanto mengatakan, pinjaman online ibarat dua sisi mata uang, di satu sisi, memudahkan masyarakat meminjam uang. "Namun di sisi lain, bisa menjebak nasabah. Bunga tinggi dan penagihan tidak manusiawi," ujarnya. (liputan)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00