• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sorotan Kampus

Prevalensi stunting Demak Capai 50,23 %, Mahasiswa UIN Walisongo Sosialisasi Pencegahanya

27 January
15:27 2020
0 Votes (0)

KBRN, Semarang : Pada medio 2019 lalu, angka Prevalensi Stunting di Kabupaten Demak terbilang memprihatinkan. Data dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Demak menyebutkan, angka prevalensi stunting di wilayahnya mencapai 50,23 persen atau masuk tertinggi ke tujuh di Jawa Tengah.

Tak hanya itu, kabupaten Demak juga menjadi satu dari 60 kabupaten/kota prioritas stunting pada tahun 2019.

Atas dasar itu, Posko 44 KKN MIT UIN Walisongo di desa Karangasem, kec. Sayung turut berusaha menekan angka stunting yang ada. Tindakan tersebut diwujudkan dalam bentuk sosialisasi dengan tema, Meningkatkan Kesadaran Masyarakat dalam Pencegahan Bahaya Stunting  di Balai Desa Karangasem.

"Tentu kita harus berperan aktif dan membuat program yang menyentuh problem di masyarakat," kata Koordinator Desa Posko 44 KKN MIT UIN Walisongo, Karangasem, Sayung, Demak, M. Ilham Afaf, Senin 27 Januari 2020.

Hadir mengisi sosialisasi dua Ahli Gizi dari Puskesmas 2 Kecamatan Sayung, yakni Galih Syevi W dan Maulida NS. Acara yang berlangsung dari pukul 09.00 s d 12.00 WIB itu, dihadiri oleh puluhan ibu hamil dan menyusui.

Galih Syevi W. mengatakan, stunting mengakibatkan penurunan kualitas kesehatan dan intelegensi yang sulit diperbaiki jika anak sudah melewati usia dua tahun.

Ia menyebutkan, stunting disebabkan lantaran kurangnya asupan nutrisi, gizi, pola asuh, dan sanitasi lingkungan.

"Untuk itu, salah satu kunci dari pencegahan stunting adalah memantau berat dan tinggi badan anak serta memenuhi kebutuhan gizi dalam masa 1000 Hari Pertama Kehidupan mereka,” sebutnya.

Selain ini, pihaknya juga menyebutkan kasus stunting di kecamatan Sayung pada 2019 lalu sebanyak 29,7 persen dari total 8.580 balita.

"Di Puskesmas 1 Sayung kemarin terdata 19,26 anak menderita stunting dari 3.879 balita. Sedang, di Puskesmas dua lebih rendah, yakni 9,81 persen dari 4.701 balita," ungkapnya. 

Sementara itu, untuk kasus stunting di desa Karangasem sendiri ditemukan 47 kasus dari total 404 balita.

"Secara keseluruhan angka stunting fluktuatif di kecamatan Sayung," katanya.

Perangkat desa Karangasem, Mufid mengaku terbantu atas kegaitan tersebut. Selama ini, pihaknya mengakui mengalami kesulitan dalam mendeteksi gejala anak terkena stunting.

"Berkat kegiatan ini, semoga turut membantu kami untuk melakukan pencegahan dini," katanya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00