• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Yurnalis Petani Saka, Kejar Impian Bersama Sepeda Motor Penggiling Tebu

26 January
21:39 2020
0 Votes (0)

KBRN, Bukittinggi : Petani Saka (gula merah) Yurnalis Sutan Mantari (65), mengolah sepeda motor miliknya menjadi sarana untuk menggiling tebu. Hal ini terpaksa dilakukannya karena tak punya kerbau, maupun mesin giling untuk memproduksi gula merah. 

Kakek dua cucu ini merupakan salah satu petani Saka tradisional di Lukok, Jorong Batang Silasiah, Nagari Bukit Batabuah, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar).

Saka itu sendiri dikenal sebagai pemanis lokal yang terbuat dari sari tebu. Sebelum Saka bisa diolah, terlebih dahulu tebu itu harus diperas airnya dengan menggunakan mesin yang ditarik oleh kerbau atau mesin.

"Saya sudah 50 tahun memproduksi Saka. Sebelumnya pakai kerbau, tapi kerbaunya sudah tak ada karena sudah diambil oleh pemiliknya. Harga kerbau itu Rp 15 juta, sedangkan mesin giling pabrik Rp 25 juta. Saya tak punya uang dan butuh makan. Karena itu saya cari cara. Akhirnya muncul ide pakai sepeda motor," ucap Yurnalis saat ditemui RRI di Pondok Saka miliknya, Sabtu (25/1/2020).

Mekanisme kerja sepeda motor untuk menggiling tebu kreasi Yurnalis tergolong simpel. Sepeda motor diikat pada dua gagang kayu yang terkoneksi ke mesin peras, di sadel belakang dan bagian kemudi. Kemudian, tali gas diikatkan ke sebuah penampang agar menimbulkan tarikan yang konstan. Lantas sepeda motor itu akan memutari trek seperti yang dilakukan kerbau.

Sambil mesin kreasinya bekerja, Yurnalis hanya perlu memasukkan tebu ke mesin peras. Hasilnya, sangat efektif, sepeda motornya mampu menghasilkan air tebu sebanyak mesin yang ditarik seekor kerbau. 

"Saya mulai jam delapan pagi, selesai jam satu siang. Saya mampu menghasilkan 500 liter air tebu. Kalau dengan kerbau, sama hasilnya. Dari air tebu sebanyak itu, lalu dimasak dan diproses, hingga menjadi 30 kilogram Saka. Jika pakai mesin pabrik, bisa 100 kilogram sehari, sayang mesinnya gak mampu dibeli," sambungnya.

Menyaksikan sepeda motor Yurnalis cukup mengasyikkan karena unik juga ceritanya. Sepeda motor itu dibelinya seharga Rp 700 ribu saja. Hanya bisa berjalan saja, maklum sepeda motor jaman dulu (jadul) dan sudah bekas pakai. Body sudah copot sana-sini, knalpot memekakkan telinga dan sangat gaduh saat beraksi.

"Sudah 2,5 tahun pakai sepeda motor (untuk menghasilkan Saka). Semoga mesin pabriknya bisa dibeli walau kelihatannya sulit dijangkau," imbuhnya.

Dengan menggunakan sepeda motor untuk membuat Saka, Yurnalis mengaku hanya mengeluarkan biaya 2 liter bensin setiap harinya. 

"Kebun tebu saya sedikit, jadi saya mengerjakan tebu milik orang. Dalam sehari paling penghasilan setelah dibagi dua dengan pemilik tebu, hanya Rp 100 ribu saja. Tapi tak masalah, yang penting dapur tetap ngebul dan saya tetap bisa bekerja dengan sedikit inovasi,'' tutupnya.

Luas lahan tebu di Bukit Batabuah yang berada di lereng Gunung Marapi mencapai ratusan hektar. Diperkirakan ada puluhan petani Saka di sini yang memanfaatkan jasa kerbau dan mesin pabrik dalam mengolah Saka. Yurnalis merupakan satu-satunya petani yang berinovasi dengan mengganti tenaga kerbau dengan sepeda motor. 

Rekomendasi Berita
tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00