• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sorotan Kampus

Lulusan Pasca Sarjana UGM Teliti Pasar Keroncong Kotagede

26 January
15:42 2020
0 Votes (0)

KBRN, Yogyakarta : Kawasan Kotagede sangat lekat dengan sejarah keroncong, karena di tempat ini, Orkes Terang Bulan sudah memainkan musik tersebut sejak tahun 1930.

Faktor historis ini, menyebabkan Kotagede dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan event tahunan Pasar Keroncong, yang sudah berlangsung sejak tahun 2015 dan bisa disaksikan secara gratis oleh masyarakat umum.

Dedi Novaldi, lulusan Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pasca Sarjana UGM, begitu tertarik mencermati penyelenggaraan pertunjukan musik tersebut.

Sekitar tahun 2018, ia membuat tesis setebal 230 halaman, tentang Pasar Keroncong Kotagede. Sesuai kajian dalam tesisnya, Dedi melihat event itu tidak sekedar hiburan, yang menampilkan para musisi dan penyanyi keroncong.

”Ketertarikan saya terhadap Pasar Keroncong karena format penyelenggaraan, sesuai kajian saya karena event-nya sangat berbeda dengan event keroncong lain, karena menggunakan tiga panggung,” katanya di Yogyakarta, Minggu (26/1/2020).

”Masyarakat, penyelenggara, kemudian penonton, termasuk pemain atau penampil ikut merayakan, sehingga terjadi interaksi, karena tidak bertemu di keseharian akibat rutinitas sehingga Pasar Keroncong ibarat lebaran,” imbuhnya.

Kreatifitas penyelenggara memanfaatkan media sosial, untuk mempopulerkan Pasar Keroncong di kalangan anak-anak muda terbukti efektif. Keberhasilan ini, juga menjadi kajian dalam tesis yang ditulis Dedi Novaldi.

”Nyatanya pengunjung datang karena media sosial, bukan melalui media promosi cetak atau media konvensional, di pasca event penting juga dikelola dengan baik, karena banyak  orang yang tidak datang saat event, mereka melalui postingan di medsos terpancing untuk datang di event berikutnya,” katanya.

Bulan Oktober 2019, seratusan musisi muda ikut memeriahkan Pasar Keroncong Kotagede, mereka tampil di atas tiga panggung berbeda. Salah satu musisi Aditya Oktavianto, pemain cello usia 35 tahun yang tergabung di Orkes Keroncong Kali Bening, menyampaikan pendapatnya.

”Saya melihat Pasar Keroncong ini sebagai salah satu wadah yang positif dan bagus sekali, karena berbagai macam grup dari Jogja dan luar Jogja berkumpul di satu tempat ini, kita bisa bertukar ilmu, melihat secara live, diharapkan ke depan terus ada seperti ini,” ungkapnya.

Sebagai produk budaya, musik keroncong perlu dilestarikan, seperti harapan Natsir Dabey, penggagas Pasar Keroncong Kotagede. Upaya pelestarian serta pendokumentasiannya lewat Pasar Keroncong, agar musik ini tidak kehilangan penggemarnya.

”Semua elemen masyarakat, ayo kita bareng-bareng melestarikan musik keroncong, jangan sampai api keroncong itu padam, jadi setiap tahun ada kualitas yang selalu kita tingkatkan, baik jenis musiknya, pengisi acaranya, menata panggung hingga manajemennya,” terang dia.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00