• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Virus Corona Menyebar, Ini Serunya Cerita Mahasiswa Indonesia di Wuhan

26 January
09:48 2020
14 Votes (4.5)

KBRN, Jakarta : Dunia saat ini sedang dalam situasi siaga. Masing-masing negara sibuk bersiaga untuk mencegah persebaran virus corona yang penyebarannya semakin meluas.

Menurut data, virus ini telah menyebabkan 41 orang meninggal dunia dan 1.287 orang dikonfirmasi terinfeksi di China. Pemerintah setempat saat ini telah melakukan sistem lockdown agar tidak ada lagi orang keluar-masuk kota Wuhan. Akibatnya, banyak orang yang terjebak di kota Wuhan, termasuk para Warga Negara Indonesia (WNI).

Baca juga : Presiden Jokowi : Waspada, Scanning Siapapun yang Diperkirakan Terjangkit Corona

Warga yang mudik ke Wuhan pada saat Imlek juga terjebak di Wuhan karena adanya sistem lockdown. Berdasarkan catatan PPI Wuhan, sebanyak 93 WNI masih tertahan di Wuhan, China. Termasuk salah satunya Yuliannova Lestari Chaniago (26) mahasiswi Central China Normal University yang mengatakan bahwa saat ini WNI di Wuhan dipantau secara khusus oleh KBRI Beijing dan difasilitasi dengan baik oleh kampus masing-masing dengan pembagian masker, sabun cuci tangan, dan termometer.

"Tidak ada laporan WNI yang menjadi korban infeksi virus Corona hingga saat ini," katanya kepada RRI.co.id ketika dihubungi, Minggu (26/1/2020).

Ia menjelaskan perayaan imlek di Wuhan sepi bukan karena faktor virus corona saja, melainkan memang pada saat hari raya besar warga China memilih berkumpul bersama sanak saudara didalam rumah.

"Ibarat lebaran, siapa yang mau menghabiskan waktu ditoko untuk menjaga toko misalnya? ya, lebih baik tinggal di rumah bersama keluarga menikmati hidangan hari raya," imbuhnya.

Yuliannova sendiri mengakui dirinya menghindari kata isolasi dan karantina dalam mengabarkan situasi Kota Wuhan saat ini. Pasalnya, kebijakan pemerintah China untuk menshutdown sementara transportasi keluar maupun masuk ke Wuhan bukan berarti meniadakan aktivitas warga Wuhan secara total. 

Baca juga : Wabah Virus Korona Tiongkok Semakin Mengkhawatirkan, Menlu RI : Belum Ada WNI Terjangkit di Wuhan

"Disini masih ada kendaraan pribadi yang bisa digunakan untuk beraktivitas. Hampir semua warga Wuhan punya kendaraan pribadi. Saya pun juga punya motor listrik jika ingin beraktivitas bepergian," ceritanya dengan seru.

Menurutnya keputusan untuk tetap tinggal didalam rumah adalah pilihan pribadi masing-masing warga Wuhan. Sebab, sebagian warga Wuhan sendiri masih memilih untuk memberanikan diri keluar-masuk tempat tinggal hanya demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

"Termasuk saya, yang tidak berarti mencerminkan pilihan semua warga Wuhan secara umum. Tidak ada larangan untuk pergi keluar rumah, hanya imbauan untuk selalu menggunakan masker ketika beraktivitas diluar. Saya masih melihat tetangga-tetangga saya keluar masuk apartemen karena kebutuhan mereka dan tentunya menggunakan masker," ungkapnya.

Yuli sendiri saat ini tinggal di asrama kampusnya. Pada saat dihubungi pihak RRI, ia bercerita bahwa dirinya baru saja selesai belanja untuk kebutuhan sehari-hari di asramanya. Saat ini di Wuhan sendiri sedang memasuki libur musim dingin dan libur Imlek.

Baca juga : 12 Mahasiswa Aceh Masih Terjebak di Wuhan, Kota Terpapar Virus Corona Terbanyak

Baca juga : Potret Kota Wuhan Pada Saat Perayaan Imlek

"Aku barusan dari luar, belanja buat stock karna sedang imlek. Disini sejak pertengahan Desember siswa lokal juga udah enggak ada di kampus mereka pulang kampung termasuk orang Indonesia juga," ucapnya.

Terkait komentar netizen Indonesia di media sosial soal virus corona, ia mengaku prihatin masih ada netizen yang mengakitkan virus corona dengan Uighur. Ia menyatakan bahwa warga disini termasuk dirinya sebagai WNI, membutuhkan doa dan dukungan bukan butuh dikomentari dengan sesuatu hal yang tak masuk akal.

"Melihat komentar-komentar tentang virus Corona di Wuhan, sebagian netijen justru menghujat dan menyimpulkan sebagai azab, saya hanya bisa istigfar. Komentar-komentar jahat itu tak ubahnya dengan virus Corona. Sama-sama penyakit. Bedanya kalau komentar jahat itu penyakit hati alias benci yang bisa menambah dosa. Sedangkan virus Corona itu penyakit jasmani yang bisa mengurangi dosa penderita," tegasnya.

"Sekali lagi, kami butuh doa dan dukungan bukan nyinyiran. Agama bukan sekedar ritual, tapi nilai-nilai yang harus dikhayati. Bijaksanalah dalam berkomentar dan hargai perbedaan," tutupnya.

(Foto: Istimewa)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00