• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Akibat Virus Corona, Cina Kacau Balau Terancam Chaos

24 January
17:49 2020
0 Votes (0)

KBRN, Beijing : Semua rumah sakit di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China sempat mengalami kekacauan setelah sedikitnya 20 juta orang tak terlayani untuk pemeriksaan kesehatan akibat pembatasan yang diberlakukan otoritas kesehatan setempat guna menghindari penyebaran Coronavirus yang hingga saat ini sudah menelan 26 orang korban tewas dan mempengaruhi lebih dari 800 orang di China.

Transportasi umum tidak beroperasi dengan semestinya di setidaknya 10 kota di provinsi Hubei tengah yang juga telah diisolasi sebagai upaya menghentikan penyebaran virus Corona. Demikian dikutip The Guardian, Jumat (24/1/2020).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggambarkan wabah itu sebagai keadaan darurat bagi China, tetapi belum merekomendasikannya sebagai keadaan darurat global.

Media China setempat menginformasikan, bahwa saat ini kota Wuhan sedang membangun rumah sakit darurat setelah otoritas setempat menambah sekitar 1.000 fasilitas bangsal atau tempat tidur guna menangani pasien-pasien yang diperiksa untuk memastikan apakah terjangkit Coronavirus atau tidak.

Suasana ini mirip dengan kejadian pada 2003 silam di Beijing, ketgika wabah SARS menewaskan hampir 800 orang dan menjangkiti sekitar 30 negara di dunia.

Harian Changjiang menulis, selama krisis itu, 7.000 pekerja di Beijing membangun rumah sakit Xiaotangshan di pinggiran utara hanya dalam waktu sepekan. Dan dalam waktu dua bulan saja, rumah sakit tersebut telah merawat seperlima dari semua pasien SARS di negara itu.

"Itu menciptakan keajaiban dalam sejarah ilmu kedokteran," tulis Harian Changjiang.

Kekacauan yang terjadi di rumah sakit kota Wuhan selama sepekan terakhir adalah akibat orang-orang yang mencari perawatan ditolak oleh otoritas medis setempat akibat sudah terlalu penuh sesak pasien. Demikian dikeluhkan warga kepada The Guardian.

Bahkan melalui video amatir, nampak pemerintah setempat sudah menurunkan petugas keamanan dari polisi anti huru-hara guna mengantisipasi jikalau keadaan menjadi tidak terkendali.

Fasilitas dilaporkan kehabisan tempat tidur dan peralatan diagnostik untuk pasien dengan gejala seperti demam. Berdasarkan cuplikan video yang diposting di Weibo, menunjukkan adegan kekacauan dan keputusasaan. 

Satu video tampaknya diambil di Rumah Sakit Rakyat Hankou, dimana nampak jelas antrian panjang pasien yang memakai masker. Pemotretan pria itu mengklaim hanya ada empat dokter yang bertugas dan bahwa orang telah menunggu beberapa jam untuk perawatan. Video lain menunjukkan seorang pasien terbaring di lantai, diduga pingsan.

Dalam klip lain, seorang wanita yang memakai masker wajah berteriak minta tolong, mengatakan, "Saya demam".

Video yang diambil di tempat lain di Wuhan juga menunjukkan rak-rak toko dikosongkan oleh pembeli yang bergegas untuk membeli persediaan makanan.

Seperti dilansir surat kabar utama Partai Komunis China The People's Daily, untuk mencegah penyebaran Coronavirus Jumat ini, warga kota Wuhan banyak yang mengisolasi diri di kediamannya masing-masing walaupun mereka tidak mengalami gejala-gejala yang merujuk pada infeksi virus Corona.

Kota-kota seperti Wuhan, Ezhou, Huanggang, Chibi, Qianjiang, Zhijiang, Jingmen dan Xiantao, semuanya telah terisolasi, tak ada yang keluar maupun masuk.

Di kota Zhijiang, semua fasilitas umum telah ditutup kecuali rumah sakit, supermarket, pasar petani, pompa bensin dan toko obat. Tempat hiburan dalam ruangan di kota Enshi juga telah ditutup.

Para pejabat khawatir liburan tahun baru Imlek selama sepekan yang rencananya dimulai pada Sabtu nanti akan memperburuk keadaan. Karena ratusan juta warga China dipastikan akan keluar merayakan Tahun Baru.

Bahkan surat kabar pemerintah, Beijing News melansir bahwa pihak Ibu Kota sudah membatalkan acara termasuk dua pameran memperingati Tahun Baru Imlek. Kompleks Istana di Beijing yang sekarang menjadi museum juga sudah mengumumkan penutupan sementara hingga waktu yang tak bisa ditentukan sejak Sabtu besok. (Sumber/Foto: TheGuardian/Reuters)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00