• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Opini

Makna Imlek dan Dinamikanya di Suku Tionghoa dari Waktu ke Waktu

23 January
07:52 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Masyarakat Tionghoa akan merayakan hari raya/Tahun Baru Imlek (Sin Cia), yang jatuh pada hari Sabtu, tanggal 25 Januari 2020, atau dalam penanggalan Imlek, jatuh pada tanggal, 1 Cia Gwee 2571 Kongzili. 

Hari raya Imlek selalu dirayakan oleh masyarakat Tionghoa pada setiap tahunnya, yang ditandai dengan musim semi atau musim hujan, karena memang dalam catatan sejarah Imlek di peringati sebagai hari raya musim semi (Xin Chun).

Imlek tidak hanya melulu mempunyai makna angpau, kue China (kue keranjang) Dodol dan juga yang tidak kalah menarik adalah lampion yang berwarna merah. 

Unsur merah ternyata tidak pada lampion saja, tapi juga busana yang dikenakan biasa dominan merah. Warna merah sebagai semarak imlek dari catatan tradisi, selian bermakna kebahagiaan juga dipandang sebagai lambang ketulusan, kebenaran dan keberuntungan (hoki). 

Tahun Baru Imlek merupakan sebuah rangkaian peribadahan kepada Tuhan, kepada alam dan kepada leluhur. Perayaannya sudah dimulai sejak seminggu sebelum Imlek yang dikenal dengan Dji Si Siang Ang/Er Si Sheng An atau Hari Persaudaraan. 

Er Si menunjukkan tanggal 24 bulan 12, Sheng berarti naik/menaikan, dan An berarti aman/selamat. Er Si Sheng An berarti saat menaikan/memanjatkan rasa syukur Kehadiran Tian karena sudah selamat melewati waktu satu tahun. 

Tanggal 24 bulan 12 Imlek juga dikenal dengan Hari Persaudaraan, saat dimana masyarakat Tionghoa secara umum berbagi kepada saudara-saudaranya yang kurang mampu. Semangat berbagi kepada saudara-saudara yang kurang mampu ini merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan atas berkah yang sudah diterimanya selama satu tahun.

Dilanjutkan dengan persembahyangan kepada leluhur (Chu Xi) yang dilaksankan satu hari menjelang Tahun Baru Imlek tanggal 29, atau 30 bulan Imlek dilaksanakan Chu berarti menggeser, Xi berarti penghujung/penghujung hari (sembahyang penutupan tahun). 

Digelar dengan acara makan bersama (Nian Ye Fan). Acara makan bersama ini menjadi momen penting bagi keluarga Tionghoa (keluarga menjadi pilar penting dalam budaya masyarakat Tionghoa), karena merupakan reuni (Tang Yuan) bagi setiap keluarga Tionghoa.

Esok paginya, pada hari pertama Imlek, semua bersembahyang menyampaikan syukur kepada Tuhan, seraya menyampaikan prasetya dan berkomitmen untuk berusaha lebih baik dalam menjalani tahun yang baru. Dilanjutkan dengan memberikan hormat dan mengucapkan Selamat Tahun Baru kepada kedua orangtua dan saudara-saudara yang lain. 

Banyak aturan (pantangan) pada masyarakat Tionghoa di Bogor, Tanggerang maupun sebagian kecil Jakarta (Kota) khususnya penganut agama Khonghucu pada saat tahun baru Imlek, di antaranya tidak boleh lagi bersih bersih rumah hingga tiga hari ke depan. 

Dalam penanggalan imlek, selain menjadi penanda akan jatuhnya hari raya, juga terdapat shio yang diberi lambang binatang sebanyak dua belas. 

Imlek yang jatuh pada tanggal 1 Cia Gwee 2571 atau 25 Januari 2020 disebut dengan tahun Tikus (Ci). Tikus adalah simbol pertama dalam 12 shio atau horoskop versi Tiongkok. Setiap awal Tahun Baru Imlek, simbol shio akan berganti dan berulang kembali setiap 12 tahun. 

Shio tikus melambangkan sifat cerdik-cendikia, kreatif/berpikir out of the box, selalu berusaha mencari solusi, berani dan cepat memutuskan, jujur dan murah hati. Namun bila tidak terkontrol baik, orang bershio tikus cenderung mudah terbawa suasana hati, ceroboh dan ambisius. Shio tikus senang dan giat belajar.

Kaitan dengan shio biasanya para ahli Fhengsui memberi gambaran akan adanya kebutuntungan dan keburukan. Walaupun dari tafsir itu banyak juga orang yang tidak percaya tapi tidak sedikit yang sangat meyakinkan akan hitungan itu. 

Hari Raya Imlek pernah mengalami masa suram, utamanya pada zaman kepemimpinan Soeharto sebagai Presiden RI. Semua kegiatan yang berbau tradisi Tionghoa dan agama Khonghucu dilarang habis habisan. Sehingga pelayaan Imlek dan kegiatan perayaannya dilaksanakan secara sembunyi sembunyi. Sehingga dikesankan Tradisi Imlek dan implikasi ke Khonghucuan sebagai organ terlarang yg tidak boleh berkembang di Indonesia.

Namun di era Presiden Gus Dus tradisi Imlek dan agama Khonghucu mulai dihidupkan lagi dengan mencabut Inpres No. 14 tahun 1967 tentang Pelarangan Kegiatan Agama dan Kepercayaan Khonghucu. Agama Khonghucu serta kepercayaan Tionghoa seperti mendapat angin segar setelah diterbitkan Perpres No. 6 tahun 2000. Hal itulah sebagai bentuk adanya kebebasan agama khususnya buat etnis Tionghoa yang masih setia kepada agama Khonghucu.

Setelah adanya Perpres No. 6 tahun 2000, dampaknya sangat terasa. Semua kegiatan Imlek dan kegiatan agama Khonghucu geliatnya luar biasa disambut oleh masyarakat Tiong Hoa, bukan hanya yang berlatar belakang agama Khonghucu, tetapi gebyarnya disambut oleh agama-agama lain.

Contoh yang paling nyata, di Gereja Katolik ST Matias Rasul, Kosambi Baru Jak Bar, kegiatan perayaan Imlek diadakan untuk tiap tahunnya, bahkan bukan hanya Katolik tapi juga agama-agama lainnya sepanjang di sana ada umat suku Tionghoa.

Dengan begitu, secara tidak langsung Imlek yang biasa dirayakan secara diam-diam dan dalam bentuk kelompok kecil yang eksklusif sejak tahun 2005 sudah tidak lagi. Karena sejak itu perayaan Imlek milik semua masyarakat Indonesia suku/etnis Tiong Hoa. 

Dampaknya luar biasa, bukan hanya Imlek yang membudaya, akan tetapi hal-hal lain utamanya dalam masalah perkawinan, yaitu Cio Tao (doa orang tua kepada kedua mempelai dihadapan Tuhan), disertai dengan menyisir rambut sang Calon Pengantin yang dimaknai sebagai orang yang sudah dewasa dan boleh berumah tangga. 

Cio Tao adalah bagian kecil tradisi yang mulai diterima dan jalankan, namun masih banyak kegiatan lainnya yang mulai dilestarikan seperti Ceng Beng/Qing Ming (sembahyang kepada leluhur) atau dikenal dengan ziarah makam dan bersih-bersih makam.

Kegiatan perayaan ini bagi orang Tionghoa di Medan sangat besar animonya, dan itu berlaku juga di Bogor, Tanggerang serta daerah lainnya. 

Barangkali semangat melestarikan tradisi  dan ajaran nenek moyang bagi suku Tionghoa, baik untuk Hari Raya Imlek dan kegiatan hari raya besar lainnya adalah menjadi tugas masyarakat Tionghoa pada umumnya. Karena dengan begitu khasanah budaya tidak lenyap dari bumi Indonesia, dan ini juga baik buat kekayaan budaya Indonesia yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. 

Maka sejatinya, Tahun Baru Imlek memiliki makna spiritual dari sebuah ajaran agama yang digenap sempurnakan oleh Confucius.

Semoga perayaan Tahun Baru Imlek kali ini dan tahun-tahun selanjutnya selalu didasari oleh semangat persaudaraan agar tercipta keharmonisan, bukan hanya untuk kelompok, suku, atau etnis tertentu, tetapi bagi semua orang. Sebagaimana diajarkan Confucius bahwa sesungguhnya "Di empat penjuru lautan semua adalah Saudara."

Gong He Xin Xi Wan She Da Ji

Penulis: Pemerhati agama Khonghucu dan budaya Tionghoa, C. Suhadi.

00:00:00 / 00:00:00