• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sorotan Kampus

Prof Musahadi : Internet Sebagai Sumber Fiqih Islam, Picu Kegaduhan Publik

9 January
02:00 2020
0 Votes (0)

KBRN, Semarang : Fenomena belajar agama Islam terutama dibidang fikih melalui online menimbulkan kegaduhan antar umat didunia sosial. Kegaduhan tersebut disebabkan penyebar dakwah Islam di internet belum teruji keilmuaannya bahkan tidak mempunyai sanad atau kesinambungan guru hingga Rasullullah. 

Hal tersebut disampaikan Guru Besar kampus UIN Walisonggo Semarang Prof Musahadi dalam orasi ilmiahnya berjudul “Fiqih Prasmanan”, seusai dikukuhkan Rektor UIN Walisonggo Semarang Prof Imam Taufiq, Rabu (8/1/2020).

Perkembangan hukum Islam, menurut Prof Musahadi saat ini banyak lembaga maupun individu yang belum jelas otoritasnya secara agresif menyebarkan fatwanya melalui internet. Disisi lain organisasi besar seperti NU, Muhammadiyah dan MUI kurang dapat mengimbangi dakwah Islam secara digital

“Saat ini persoalannya masyarakat cenderung instan dalam memahami agama, salah satunya mempelajari melalui internet. Padahal pakar Islam yang teruji keilmuannya seperti dipondok pesantren dan alumni perguruan tinggi Islam kurang menguasai internet. Sedangkan yang disebut ustadz, yang masih minim literasi khazanah Islam aktif menyebarkan ajarannya didunia internet,” imbuhnya. 

Efeknya, kata Prof Musahadi timbul kegaduhan dalam melaksanakan fatwa yang didapat dari internet. Seolah fatwa dari internet merupakan kebenaran mutlak yang harus diikuti oleh semua orang.

“Fikih merupakan produk ulama dalam menyikapi persoalan kekinian dengan berpijak pada literasi ulama-ulama terdahulu. Antar ulama produk fiqihnya pun beragam,” ujarnya.

Dalam karya ilmiahnya “Fiqih Prasmanan” dijelaskan, telah terjadi disrupsi atau perubahan dalam hukum Islam dikalangan milenial. Jika sebelumnya masyarakat memilih NU, Muhammadiyah, MUI atau Kyai Pesantren yang jelas keilmuannya, sekarang cenderung mengambil fatwa dari internet dalam persoalan kehidupan sehari-hari. 

“Proses pengambilan keputusan mengenai menu mana yang akan diambil berada ditangan mereka, dan dapat dilakukan sendiri secara personal. Inilah yang saya maksud dengan fenomena “Fikih Prasmanan”, yang suka atau tidak suka telah hadir dalam era disrupsi ini,” terangnya. 

Sementara itu Rektor UIN Walisonggo Semarang Prof Imam Taufiq dalam sambutan pengukuhan bangga dengan fenomena yang diangkat Prof Musahadi. Menurutnya, disertasi “Fiqih Prasmanan” mencerminkan kehidupan beragama saat ini.

“Saat ini kita hidup dalam tiga ruang: realitas, digital dan virtual reality. Saat ini siapa saja punya kebebasan untuk mengakses informasi, siapa saja boleh membuat fatwa, sehingga kita dihadapkan pada dua hal: otoritas dan kualitas,” tuturnya.

  • Tentang Penulis

    Syamsudin

    Tak Perlu Memikirkan Kemana Akan Berlabuh, Pikirkan Saja Jalan Mana Yang Akan Ditempuh

  • Tentang Editor

    Miechell Octovy Koagouw

    Miechell Octovy Koagouw Editor RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00