• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kuliner Nusantara

Kenali Perbedaan Pisang Tanduk dan Pisang Raja

29 December
14:08 2019
2 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Pisang Tanduk dan Pisang Raja, dari namanya saja pasti sudah terbayang kedua jenis banana khas Indonesia ini pasti memiliki ciri tersendiri. Apalagi seperti sudah diketahui luas, baik pisang tanduk maupun pisang raja, sama-sama bisa dijadikan kuliner olahan yang lezat.

Pisang Raja

Adalah jenis yang memilki ukuran tidak besar dan tidak kecil tepatnya sedang. Selain itu pisang raja memilki rasa sangat manis jika sudah benar-benar matang, serta aroma harum yang menggugah selera. Tekstur yang lembut saat sudah matang, ditambah rasa manis membuat sebagian besar orang akan langsung melahapnya tanpa harus mengolah terlebih dahulu semisal dijadikan pisang goreng. Pertanyaannya, dapatkah diolah menjadi pisang goreng? Tentu bisa.

Pisang raja yang masih belum terlalu matang, sangat cocok untuk diolah menjadi pisang goreng, bahkan dapat pula dijadikan keripik renyah. Kenapa dipilih saat belum masak? Karena saat pisang masak, dia akan sangat manis sehingga bakal aneh rasanya apabila dijadikan pisang goreng apalagi keripik.

Jika memang mau dipaksakan membuat pisang goreng dari bahan pisang raja matang dan manis tetap bisa. Akan tetapi Anda harus paham cara membuat adonan terigunya. Jangan sampai manis ketemu manis, pastinya akan lengket dan tidak nyaman di lidah.

Selain untuk konsumsi, pisang raja juga dipercaya berkhasiat menyembuhkan penyakit maag, menurunkan berat badan (program diet), dan menjadi sumber energi tubuh.

Pisang Tanduk

Diberi nama pisang tanduk karena jenis ini memang menyerupai tanduk, panjang dan meruncing diujung. Ini adalah ciri khas alami pisang tanduk yang mudah dikenali. Semakin matang, dia akan memanjang dan melengkung. Tidak main-main, panjang pisang tanduk maksimal bisa mencapai 35 senti meter.

BACA JUGA: Pisang Tanduk Goreng Enak Sehat, Resep Rahasia Pak Sudi

Berbeda dengan pisang lainnya termasuk pisang raja, setiap pohon pisang tanduk hanya menghasilkan 3 sisir saja. Selain itu buahnya juga sedikit, hanya rata-rata 10 buah dalam satu sisir. Bahkan untuk ukuran besar tak jarang hanya berisi 8 (delapan) buah. Tak heran pisang ini cukup mahal di pasaran.

Pisang tanduk dapat diolah menjadi kuliner seperti gorengan dan beragam makanan kecil lainnya. Tapi karena rasanya yang tak begitu manis, disarankan mengkonsumsi pisang jenis ini saat sudah diolah menjadi makanan. Itulah kenapa pisang tanduk goreng sangat laris.

Jika buahnya dimanfaatkan sepenuhnya untuk konsumsi, batang pohon serta daun pisang tanduk juga bermanfaat untuk kerajinan tangan serta upacara adat di beberapa wilayah nusantara.

Pisang Tanduk Raja

Nah, di kalangan pedagang pisang goreng, selain pisang raja dan pisang tanduk, mereka juga mengenal Pisang Tanduk Raja. Jangan salah pengertian, jenis ini tidak ada hubungannya dengan pisang raja. Akan tetapi pisang tanduk raja itu adalah pisang tanduk dengan ukuran jumbo, dimana satu sisir hanya berisi 7-8 buah saja.

BACA JUGA: Resep Pisang Tanduk Goreng yang Katanya Tidak Ada di Google

"Itu ukurannya besar sekali, sangat panjang dan melengkung. Nah, jenis ini artinya pisang tanduk yang sudah sangat masak atau matang. Apabila mau diolah jadi pisang goreng, ya harus bisa meracik adonannya juga," jelas Pak Sudi, salah satu pedagang pisang tanduk goreng kepada National Integrated Newsroom Radio Republik Indonesia (RRI) di Jalan Sumur Batu Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (28/12/2019).

Pisang tanduk raja jarang sekali digunakan oleh pedagang sebagai bahan utama gorengan pisang karena sangat mahal modalnya. Karena pasaran pisang tanduk bukan per sisir atau tandan melainkan satuan. Untuk pisang tanduk biasa, harga dibanderol pedagang pasar Rp 2.500. Sementara untuk pisang tanduk raja bisa antara Rp 3.500 - Rp 4.000.

"Pisang tanduk raja cocok dibuat kolak, bukan gorengan karena rasa manisnya sudah muncul saat sudah sangat besar ukurannya. Jangan spekulasi, itu di sana ada kios gorengan pisang tanduk raja akhirnya tutup," kata Pak Sudi. (Foto: Miechell-RRI)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00