• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kuliner Nusantara

Tahu Balut Pak Dudi, Merajut Mimpi di Pinggir Sumur Batu Raya

28 December
22:34 2019
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Kawasan Jalan Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat, terkenal dengan jejeran kuliner kaki lima sejak pagi hingga lewat tengah malam. Pagi hari, mulai pukul 06.00 WIB, mulai berjualan pedagang makanan untuk sarapan seperti nasi uduk, lontong sayur, nasi campur, soto ayam, bubur ayam, bubur sehat untuk bayi dan dewasa, sampai pedagang pisang goreng.

Menjelang siang, formasi mulai berubah, karena mereka yang berjualan sarapan digantikan para pedagang kaki lima (PKL) yang menjual beragam menu makan siang. Namun ada sebuah gerobak merah yang menarik perhatian, ada tulisan 'Tahu Balut' di bagian atasnya.

"Tahu Balut itu istilah saja. Arti sebenarnya tahu yang digoreng menggunakan adonan tepung. Biar menarik dan unik saya namakan Tahu Balut. Tapi tetap ada ciri khasnya," terang Pak Dudi, pemilik sekaligus penjual Tahu Balut kepada National Integrated Newsroom Radio Republik Indonesia (RRI), Sabtu (28/12/2019).

Ciri khas Tahu Balut yang dimaksudkan Pak Dudi adalah isinya. Jika tahu isi biasa hanya tauge dan tepung adonan serta bawang putih, tapi kuliner yang satu ini bisa diisi beragam toping adonan seperti sayur, ayam pedas, bakso, ayam keju, serta nugget.

Tofu atau tahu sebagai bahan dasar dagangan Pak Dudi diperolehnya langsung melalui pabrik yang ada di kawasan Kemayoran. Tahu pesanannya sudah dipotong sesuai ukuran yang diinginkan, digoreng, lantas sudah dibelah bagian tengahnya untuk diisi beragam toping adonan tadi.

"Tahu saya khusus sesuai pesanan, langsung dari pabrik. Sudah digoreng di sana, tinggal terserah saya mau isi apa saja di dalamnya. Semisal hari ini saya isi adonan bakso dan sayuran pedas," ujar Dudi.

Dengan adonan tepung racikan khusus sebanyak 2 (dua) kilogram, Dudi dapat menggoreng sebanyak 300 buah Tahu Balut setiap berjualan Senin sampai Jumat setiap pekannya. Dan untuk akhir pekan Sabtu sampai Minggu yang dimulai hari ini, Dudi harus menyediakan 5 (lima) kilogram adonan untuk 500 lebih Tahu Balut.

"Sehari adonan dua kilogram untuk 300 Tahu Balut dari buka pagi hari hingga malam. Kalau Sabtu-Minggu saya harus menyiapkan lima kilogram adonan untuk 500 lebih Tahu Balut. Akhir pekan ramai soalnya," kata dia.

Satu yang disyukuri Pak Dudi, dagangannya selalu habis setiap hari. Dari 300 sampai menggorang sebanyak 500 buah, semua pasti habis. Sehingga ini membuatnya semakin bersemangat.

Satu buah Tahu Balkut dibanderolnya seharga Rp 2.500. Sehingga jika menjual 300 buah, ia akan meraup omset Rp 750.000. Dan pada Sabtu hingga Minggu besok, dengan 500 buah Tahu Bulat Pak Dudi dapat meraup omset Rp 1.250.000. Dan semua ini adalah setiap hari. 

Artinya, jika dipukul rata per hari 300 Tahu Balut saja, dengan berjualan 30 hari tanpa libur, Pak Dudi diperkirakan bisa meraup omset Rp 22.500.000. Pencapaian yang Wow, Bukan? Memang belum dipotong modal, operasional dan kebutuhan hidup sehari-hari, tapi angka itu adalah hal yang luar biasa untuk dagangan Tahu Balut.

"Buat kejar pendapatan harian ya di Sabtu dan Minggu akhir pekan ini. Kami tidak ada libur jualan, setiap hari buka. Saya dan isteri jaga sekaligus goreng tahu bergantian saja," imbuhnya.

Namun sayangnya, pria yang tinggal di kawasan Sumur Batu, Kemayoran ini mengatakan dagangannya bukan franchise dan tak terpikirkan pula untuk mengembangkan Tahu Balut menjadi franchise.

"Belum ke situ saya mas. Maksudnya saya sadar saja, orang kecil juga pasti punya impian. sekarang untuk anak bisa sekolah dan isteri terpenuhi kebutuhannya saja saya sudah bahagia. Mungkin suatu saat bisa ke sana (mengembangkan Tahu Bulat sebagai franchise), belum sekarang," pungkasnya.

Kalau begitu, sukses selalu dan semoga tercapai semua impianmu, Pak Dudi.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00