• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Renungan Memperingati 15 Tahun Tsunami Aceh

26 December
11:43 2019
0 Votes (0)

KBRN, Lhokseumawe : Minggu pagi 26 Desember 2004 silam, tak ada yang menyadari sebuah peristiwa kolosal sedang terjadi di dasar Samudera Hindia, lepas pantai Sumatera. Di dasar Bumi, di kedalaman 30 kilometer, lempeng Hindia disubduksi oleh lempeng Burma. Akibatnya sungguh tak terbayangkan.

Saat jarum jam menunjuk ke pukul 07.58 WIB, gempa dengan kekuatan 9,1 skala Richter terjadi. Pulau Sumatera berguncang hebat, terutama di Aceh. Lindu kencang selama 10 menit memicu kepanikan, kendaraan-kendaraan dihentikan di tengah jalan, mereka yang sedang olahraga pagi tiarap bahkan berbaring di trotoar atau aspal.

Bayangkan kekuatan gempa tersebut melu­luh­lantakkan hampir sepertiga wilayah pesisir Aceh.  Sekitar   200.000 jiwa  warga Aceh yang bermukim di wilayah pesisir meninggal dunia. Itu belum lagi yang hilang ter­bawa arus gelombang  dah­syat itu.

Ketika itu mayat-mayat  bergelimpangan dimana-mana. Ratusan ribu pen­duduk di wilayah pesisir Aceh yang selamat dari  mu­sibah itu kehilangan tem­pat tinggal.

Mereka terpaksa tinggal  di pengungsian  ber­tahun-tahun. Kita masih menge­nang tidur di barak-barak pengungsian termasuk anak-anak dan lansia. Sambil me­nunggu kepastian menyam­bung hidup  terutama dari bantuan pemerintah dan   lem­baga  kemanusia dunia.

Lantas apa yang dapat kita dipetik dari hikmah gem­pa bumi dan tsunami Aceh 26 Desember 2004  silam? Yang jelas, Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kesanggupannya. Gempa bumi  dahsyat dan tsunami  dengan kecepatan 600 kilo meter per jam, adalah sebuah  bencana terbesar dalam sejarah abad Masehi dan abad Hijriah kehiduapan manusia.

Rasanya belum pernah ada bencana sebesar itu  sepanjang tahun Masehi dan tahun Hijriah ini, kecuali pada 26 Desember 2004 yang terjadi di Aceh. Bahkan  dirasakan  beberapa  negara lainnya di pesisir Sa­mudera Hindia, se­perti Thailand, India dan Sri Langka.

Mengapa bencana se­dahsyat tsunami 26 Desember 2004 ini harus terjadi di Aceh, bukankah Aceh daerah serambi Mekkah, yang men­jalankan Syariat Islam.  Tercata  99 persen masyara­katnya menganut Islam. Ke­napa gempa sekuat 9,1 SR  dengan tsunami sedahsyat itu tidak terjadi di daerah lain yang tidak menjalankan Syairat Islam?

Jawaban atas per­tanyaan-pertanyan seperti ini telah banyak dikupas  para ustad dalam ceramahnya setelah terjadinya tsunami Aceh. Yang intinya, seperti telah  dise­butkan “Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kesanggupannya”.

Masyarakat Aceh,  se­panjang sejarahnya dinilai  pa­ling tahan uji atas segala mu­sibah yang  dihadapi. Konflik demi konflik, perang demi perang sejak  zaman Portugis, Inggris, Belanda  dan  Jepang, telah  dilalui, Masyarakat Aceh  ternyata tetap tegar dan tabah meng­hadapi semua cobaan tersebut.

Begitu halnya dalam meng­hadapi bencana gempa bumi dan tsunami yang luar biasa dahsyatnya pada 26 Desember 2004. Kenapa bencana ini harus terjadi di Aceh. Soalnya masyarakat Aceh  telah dipilih oleh Allah karena ketahanan mentalnya dalam menghadapi musibah.

Allah menegur semua hambanya . Barang kali sudah lalai dengan urusan dunianya. Melupakan kewajibannya dalam berhablumminallah melalui masyarakat Aceh. Perkara apakah masyarakat Aceh  menjalankan Syariat Islam , banyak  perpaling dari ajaran Allah. Sehingga  Aceh mendapatkan teguran  begitu dahsyat melalui gempa bumi dan tsunami?

Dalam pemahaman Islam, bila Allah akan menegur se­suatu kaum yang  ingkar ke­padaNya dengan men­da­tangkan sebuah bala. Bukan hanya  kaum itu  menanggung bala tersebut. Melainkan orang  tidak berdosa pun  ikut mengalami musibah dari bala yang diturunkan Allah.

Oleh sebab itu, dalam pe­ringatan 15 tahun gempa bumi dan tsnami Aceh pada 26 Desember 2019 ini, banyak hal  mesti  direnung­kan. Bukan  hanya oleh ma­syarakat Aceh. Melainkan  juga semua umat.

Peringatan tsunami ini harus menjadikan momentum  sebagai pelajaran kehidupan kita sekarang ini. Orang boleh  berkata, bencana demi ben­cana yang kita hadapi se­karang  karena bumi semakin tua. Tapi pernahkan kita berintrospeksi diri terhadap perilaku dan tingkah kita yang terkadang semakin jauh dari Allah SWT.

Hari ini, 26 Desember 2019, Momentum tahun ke-15 Tsunami di Aceh sudah semestinya menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk berubah ke arah yang lebih baik, adapun dalam hal sikap kita kepada Allah maupun hubungan sosial masyarakat.

Dalam hal sikap kita kepada Allah, kita harus benar memahami bahwa dalam waktu per detik tersebut Allah mampu mencabut ribuan nyawa sekalipun, hingga tak ada yang tersisa jikalau Allah ingin mengakhiri hidup kita diatas permukaan bumi ini. Bukan hal mustahil jika kedepan akan lebih dahsyat lagi melebihi yang terjadi saat itu, mungkin jutaan bahkan milyaran bisa meninggal dalam sekejap.

Rumah-rumah hancur, mayat bergelimpangan, raungan sirene mobil ambulance bersahutan, semua fokus untuk untuk menolong mereka yang tertimbun dan bahkan wajah-wajah sanak famili yang tak dikenali lagi akibat tertimbun berhari-hari serta ada yang sampai saat ini jenazah dikubur di perkuburan Massal yang tak pernah kita menemukannya, semoga Engkau Husnul Khatimah Wahai Saudara-saudariku !

Dalam hubungan kita dengan sesama yang masih hidup, Allah anugrahkan sisa umur untuk kita hidup untuk sementara waktu, bukan Allah tidak mampu untuk tidak mencabut ruh kita daripada jasad, akan tetapi Allah menyisakan kita dan ingin melihat kita kearah mana perubahan setelah Allah memisahkan ruh saudara-saudari kita daripada jasadnya.

Adakah kita saling bersilaturahim,bermanis wajah,menghargai dengan sesama, membantu dalam kebajikan, atau kita saling sibuk menjatuhkan, menghina, ataupun mencela dalam mencapai kepentingan sesaat.

Mari kita merapatkan dan mengatur  saf kita yang telah jarang untuk kebaikan dan pembangunan Aceh dan masyarakatnya, bukan tidak mungkin tatkala kita berpaling dari yang Allah ingin maka kita akan hancur lebih dahsyat dari sebelumnya.

Saudara-saudariku momentum Tsunami ini mari kita jadikan barometer untuk mengukur dan menginstal Jiwa yang murni untuk mengemban amanah Sebagai Rakyat Aceh yang baik dan bermartabat.(RZ).

00:00:00 / 00:00:00