• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Info Publik

Tips Kurangi Populasi Ular di Perumahan Tanpa Harus Dibunuh

12 December
18:36 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Ular-ular yang sedang viral di pemberitaan akibat kemunculan mereka di beberapa perumahan berbagai wilayah Pulau Jawa dimaknai Yayasan Ular Indonesia (SIOUX) sebagai proses ular mudik ke habitat asli, tempat nenek moyangnya hidup dan mencari mangsa. Dan semakin ke depan, konflik ular dengan manusia tidak semakin reda akan tetapi justru bakal semakin meruncing frekuensinya. Hal ini disampaikan trainer senior Yayasan Ular Indonesia (SIOUX) Nurdin Hakim saat dihubungi RRI, Kamis (12/12/2019).

"Kami nyatakan ular-ular itu mudik. Kenapa begitu? Karena sebelum jadi cluster dan perumahan berdiri, tempat itu 'kan tadinya rawa-rawa, tanah hutan, dan kebun terbuka yang merupakan habitat ular beserta mangsanya (makanannya). Ekosistem masih seimbang selama masih ada predator dan mangsanya," terangnya.

Oleh karena itu, dirinya meminta siapapun anggota masyarakat yang tinggal di cluster-cluster atau hunian/perumahan untuk tenang dan humanis menangani kemunculan ular-ular di permukiman, karena ini bukan mistis atau sesuatu hal berbau teror, akan tetapi sebagai bagian dari rusaknya ekosistem akibat kehadiran manusia juga.

"Saya percaya, manusia memiliki toleransi terhadap makhluk hidup lainnya. Sehingga saat sedang marak kemunculan anak ular kobra atau ular apapun seperti sekarang ini, bisa tetap mengedepankan penanganan yang tidak sampai melenyapkan nyawa hewan tersebut. Serahkan kepada kami dari animal rescue, karena kami profesional yang akan menangkap mereka (ular-ular) dalam keadaan hidup. Sebab ular bagian dari alam, punya hak hidup di alam, dan berperan penting bagi keseimbangan alam. Nah, tugas kami sebagai praktisi atau pegiat animal rescue untuk memberikan edukasi ke masyarakat supaya bisa mengubah mindset (dari membunuh ke menangkap hidup-hidup)," terangnya.

BACA JUGA: Praktisi: Ular Masuk Hunian Manusia, Berarti Mudik ke Habitatnya

Berikut ini Nurdin memberikan tips bagaimana mengurangi populasi ular di cluster/hunian/perumahan, dengan tehnik catch and relocation, alias menangkap ular tanpa harus membunuhnya.

1. Gotong-royong bersihkan area yang tidak tertata dan jarang dijamah, serta tumpukan material dan kebun tak terawat yang bisa menjadi tempat nyaman bagi ular untuk bersembunyi.

2. Rumah kosong difogging nyamuk secara berkala agar satwa di dalam tidak betah dan berpindah tempat.

3. Pasang jaring besi di saluran irigasi akses keluar-masuk guna mencegah datangnya ular.

4. Pohon-pohon di atas pagar agar dibersihkan.

5. Warga agar mulai menutup semua lubang di pagar kompleks perumahan masing-masing.

6. Pasang pest trap untuk jebakan tikus, karena tikus adalah mangsa utama ular sehingga jika tikus berkurang, ular akan bergeser. Ini adalah cara yang dinamakan 'memutus rantai makanan ular di kawasan hunian'. 

7. Bagi yang memelihara burung, selalu periksa akses dengan lingkungan karena burung juga makanan ular.

8. Tidak perlu menebar garam, karena ular tidak takut pada butiran asin tersebut.

9. Tidak perlu menggunakan tali ijuk karena ular tidak sakit jika lewat ijuk, alias tetap bisa lolos.

10. Jika menemukan ular, hati-hati dalam menangani (snake handling). Sebaiknya serahkan penanganannya kepada orang yang terlatih dan profesional.

11. Jika melihat pergerakan ular, disarankan cukup foto/amati ke mana dia bergerak, lalu kirim ke group snake handler atau Snake Rescue atau Pemadam Kebakaran (Damkar) agar bisa dikirimkan tim evakuasi hewan buas.

12. Pahami katakter dan tingkah laku ular serta cermati manfaat berikut bahayanya agar manusia nyaman bertetangga dengan ular. Foto: Jorike Fitri/RRI) 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00