• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Krisis Air Bersih, Warga Perbatasan Atambua Konsumsi Air Keruh

12 December
17:48 2019
0 Votes (0)

KBRN, Atambua : Krisis air bersih cukup dirasakaan warga perbatasan Atambua Kabupaten Belu Propinsi Nusa Tenggara Timur saat ini, dimana karena sulit memperoleh layanan air bersih wargapun terpaksa mengkonsumsi air keruh.

Seperti yang dialami warga RT 35 lingkungan Lidak Kelurahan Umanen Kecamatan Atambua Barat Belu ini, setiap hari harus antri berebutan menimba air dilokasi sumur gali.

Karena tak kunjung turun hujan, sumber mata air pada unit sumur gali semakin mendangkal, kondisi air terlihat semakin keruh karena bercampur lumpur, tetapi apa boleh buat puluhan kepala keluarga yang bermukim dilingkungan setempat tetap bergantung hidup pada sisa ketersediaan air yang ada.

"Tiap hari jaga terus sampai malam sampai pagi, ini air kurang sama sekali, tiap tahun begini tapi sekarang ini lebih susah sekali sampai Desember. Kita mau bagaimana ya air sukotor sekali kita saring dulu baru pakai," keluh Maria Banamtuan warga RT setempat, Kamis (12/12/2019).

Karena berebutan timba, kata ibu rumah tangga yang sudah belasan tahun bermukim di Kelurahan Umanen Belu ini, seringkali harus ada saja warga bercecok mulut ketika tidak kebagian air. Kondisi ini menjadi sebuah persoalan sosial yang harus juga dihadapi warga saat berebut air.

"Itulah terkadang ada yang sampai berkelahi disini, hanya karena air inilah setiap hari," cetusnya.

Seperti halnya juga dikeluhkan Adi warga lingkungan setempat, karena tuntutan kebutuhan hidup yang semakin mendesak, Iapun harus bermalam ataupun terpaksa antri di lokasi sumur gali hingga subuh hari.

Hal ini dilakukan agar bisa kebagian timba air sekedar bisa memenuhi kebututan baik untuk keperluan memasak, mandi cuci ataupun keperluan lain sebagainya.

"Kami setiap hari jaga kadang dari malam sampai pagi kembali tidur di sumur sini, dan sampai siang baru dapat," kata Adi. 

Sumur gali yang sedianya masih bisa memberi harapan hidup akan pemenuhan layanan air bersih bagi warga diwilayah perbatasan Atambua dengan Negara Timor Leste ini, walaupun kondisi keruh, karena merupakan satu-satunya sumber air yang sedianya bisa dimanfaatkan warga. 

"Yang datang duluan timba dulu baru satu lagi bawa jerigen saja juga pake ember. Ini krisis air betul kita mau bagaimana lagi tidak hujan," ungkapnya.

Karena krisis air bersih, menurutnya sudah menjadi pemandangan lasim setiap hari dilakoni warga yang sebenarnya  menetap di lingkungan yang bisa dibilang cukup dekat dengan kompleks Kantor Bupati Belu ini. Setiap hari terlihat berderet puluhan jerigen dibawah warga terparkir dilokasi sumur gali menunggu giliran timba.

Tidak ada pilihan lain warga tetap memanfaatkan ketersediaan sisa air sumur yang semakin mendangkal, walaupun terlihat keruh karena bercampur lumpur, sekedar untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup yang semakin mendesak.

"Ini jerigen ember tiap hari penuh kita pikul jerigen, kondisi su begini, kita dekat kantor Bupatu Belu tapi Pemerintah bagi-bagi air bulan Mei itu kita tidak pernah dapat," terang Pemuda yang baru saja tamat bangku sekolah ini.

Secara umum lingkungan setempat memang diketahui belum juga terpasang instalasi perpipaan air bersih PDAM Belu, padahal cukup dekat salah satu bak induk Reservoar lokasi Weaituan milik PDAM Belu.

Akan hal demikian wargapun hanya bisa berharap adanya keberpihakan Pemerintah bisa memperhatikan kondisi kehidupan mereka yang sedianya perlu dibantu.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00