• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Cegah Meluasnya HIV/AIDS, Pemda Kubar Siapkan Klinik VCT Lengkap

2 December
23:57 2019
0 Votes (0)

KBRN, Sendawar : Kabupaten Kutai Barat (Kubar) kini memiliki klinik voluntary counselling and testing(VCT) atau tempat konseling dan tes HIV sukarela yang cukup lengkap. Layanan ini bertujuan untuk membantu pencegahan, perawatan, serta pengobatan bagi penderita HIV/AIDS.Pasalnya hingga Desember 2019 Dinas Kesehatan Kubar menemukan 91 kasus HIV/AIDS dengan korban meninggal mencapai 27 orang.

Kepala seksi pelayanan medik yang menangani klinik VCT Rumah Sakit Umum Daerah Harapan Insan Sendawar (RSUD HIS) Kutai Barat dr.Eri Sarudin menjelaskan VCT perlu dilakukan sebagai langkah awal untuk segera mendapat informasi mengenai HIV. Juga agar penderita HIV bisa dilakukan deteksi sedini mungkin dan mendapat pertolongan kesehatan yang dibutuhkan. Hal ini sangat membantu sebagai langkah pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS. 

“Untuk diketahui bahwa saat ini rumah sakit memiliki fasilitas pemetaan untuk penegakan diagnosis untuk infeksi HIV. Jadi tidak perlu dirujuk atau mengambil obat ke Samarinda, cukup di Kutai Barat saja,” ucap Eri Sarudin kepada RRI di Sendawar, Senin (2/12/2019).

Menurutnya infeksi HIV/AIDS harus diwaspadai karena tidak memiliki gejala awal yang jelas. Sehingga tanpa pengetahuan yang cukup penyebaran HIV akan semakin sulit dihindari. Salah satu penyebab utama jelas Sarudin seperti perilaku seksual berisiko yakni sering berganti pasangan dan tidak menggunakan kondom sebagai pengaman, melakukan tindik/tato, atau menggunakan narkoba melalui jarum suntik.

“Kalau yang merasa pernah berkunjung ke tempat-tempat prostitusi atau penggunaan jarum suntik bersamaan, atau mengalami penurunan berat badan yang signifikan tanpa sebab yang jelas harap segera memeriksakan diri ke rumah sakit, melalui klinik VCT yang ada di RSUD HIS,” ujarnya.

Kendati belum terdapat pengobatan yang dapat mengentaskan HIV/AIDS secara tuntas, namun sebaiknya tidak perlu berkecil hati karena sudah tersedia pengobatan antiretroviral (ARV) yang digunakan untuk menekan perkembangan virus HIV dalam tubuh penderita, sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup dan daya tahan tubuh penderita HIV agar bisa beraktivitas seperti biasa.

Kemudian di rumah sakit kita juga sejak 2017 bisa pengobatan untuk obat antiretroviral (ARV). Jadi pada prinsipnya kalaupun sudah pengobatan, itu obatnya diminum seumur hidup dengan harapan angka harapan hidup meningkat,” katanya.

Dan yang terpenting ia mengingatkan masyarakat untuk tidak diskriminasi atau melabelkan stigma negatif kepada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Kemudian untuk keluarga penderita diharapkan tetap memotivasi serta tidak mengucilkan penderita yang hanya akan menambah beban mental. Sebab meski penyakit berbahaya, HIV tidak akan menular melalui sentuhan tangan bahkan menggunakan peralatan makan yang sama.

“Jangan dijauhi, karena penyakit HIV ini penularannya melalui cairan khusus jadi kalau kita berinteraksi sosial, makan bersama, menggunakan sabun atau alat kelengkapan yang sama tidak akan menular kepada kita. Kecuali kita memiliki riwayat kontak dengan darah atau cairan tubuh,” jelas dokter Sarudin.

“Harapannya keluarga mendukung, memberi motivasi dan semangat jika diantara anggota keluarganya sedang menjalani pengobatan,” pesannya.

Diberitakan RRI sebelumnya bahwa Dinas kesehatan Kabupaten Kutai Barat (Kubar) Kalimantan Timur menemukan 91 kasus Human immunodeficiency Virus dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) sampai Desember 2019 ini. Penyakit mematikan itu bahkan sudah merenggut 27 nyawa.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Barat dr.Rita Sinaga melalui Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dr. Rafaela Wisdafiesta Hinuq menyebut walau penderita nampak sedikit, tetapi penyakit ini ibarat fenomena gunung es.

"Masih ada kelompok-kelompok yang beresiko bahkan positif mengidap AIDS tapi tidak mau memeriksakan diri secara sukarela, karena mungkin penyakit tersebut dianggap aib. Sementara dari data yang tercatat, ada 91 kasus yang positif menderita HIV AIDS di Kabupaten Kutai Barat,” katanya.

Jika dilihat dalam 3 tahun terakhir ODHA yang meninggal mencapai 27 jiwa. Masing-masing pada 2017 sebanyak 10 orang 2018 tercatat 8 orang dan tahun 2019 ini penderita HIV/AIDS sudah mencapai 91 orang dan meninggal dunia sebanyak 9 orang.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00