• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Surat Terbuka Enam Keluarga Pengibar Bintang Kejora untuk Kapolri

19 November
21:49 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Keluarga enam tersangka kasus pengibaran Bendera Bintang Kejora di depan Istana Merdeka menulis surat terbuka kepada Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis. Surat itu terkait adanya indikasi diskriminasi pada saat melakukan kunjungan ke rumah tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

“Melalui surat terbuka ini kami menyampaikan protes kami atas perlakuan diskriminatif terhadap akses kunjungan keluarga para tahanan politik,”ujar adik salah satu tersangka Arina Elopere, Nalina Lokbere di Jakarta, Selasa (19/11/2019).

Enam tersangka yang ditahan di Mako Brimob adalah Dano Tabuni, Charles Cossay, Ambrosius Mulait, Isay Wenda, Ketua Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) Surya Anta Ginting dan Arina Elopere.

Pihak keluarga yang membacakan surat terbuka tersebut adalah Lucia Fransisca (keluarga Surya Anta), Nalina Lokbere (adik Arina Elopere), Voni Kogoya (tunangan Isay Wenda), Chika Tua (istri Dano Tabuni), dan Satika Kossaya (adik Charles Kossay).

Surat terbuka itu berbunyi setidaknya terdapat dua kali tindakan diskriminasi yang terjadi saat keluarga melakukan kunjungan ke rumah tahanan. Peristiwa pertama, itu dijelaskan terjadi pada Jumat, 25 Oktober 2019, di mana terdapat tembakan asap yang mengarah ke ruang kunjungan saat keluarga tengah membesuk. Tembakan peluru asap “salah sasaran” itu diketahui berasal dari pihak kepolisian yang sedang berlatih di Mako Brimob.

Pihak keluarga mengaku bahwa tembakan asap “salah sasaran” tersebut terjadi berkali-kali dan nyaris mengenai pihak keluarga dan para tahanan.

“Kami meminta pihak kepolisian agar lebih profesional dan menggunakan jarak yang aman untuk berlatih sehingga tidak mengintimidasi, apalagi mencelakai para tahanan dan keluarga,” ujar Laura Fransisca.

Peristiwa diskriminasi kedua terjadi pada Jumat, 15 November 2019. Saat itu keluarga mendapat informasi dari Provost bahwa kunjungan pada tanggal tersebut ditiadakan lantaran bertepatan dengan perayaan hari ulang tahun Brimob, sekaligus penyelenggaraan rapat pertemuan Kapolda seluruh Indonesia.

Menurut Voni Kogoya, informasi tersebut menimbulkan kekecewaan bagi keluarga, mengingat hari kunjungan hanya terdapat dua kali dalam seminggu, yakni Selasa dan Jumat. Kekecewaan keluarga bertambah setelah diperoleh informasi bahwa pada tanggal tersebut, Forum Kerjasama DPR dan DPR RI asal daerah pemilihan Papua dan Papua Barat menemui para tahanan di Mako Brimob.

Padahal, kata Voni, pihak kepolisian jelas-jelas menegaskan bahwa pada hari tersebut waktu kunjungan ditiadakan.

“Kami sangat menyayangkan peristiwa ini, tidak ada istilah lain yang bisa kami gunakan selain diskriminasi,” ujar Voni.

Pihak keluarga mengatakan surat terbuka tersebut dibuat selain sebagai bentuk protes perlakuan diskriminasi atas akses kunjungan. Selain itu, surat terbuka juga sebagai bentuk koreksi terhadap institusi kepolisian agar lebih profesional, akuntabel dan mengedepankan aspek HAM dan imparsialitas dalam menjalankan tugas.

Penyerahan Berkas

Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat menerima penyerahan berkas dan barang bukti enam tersangka pengibar bintang kejora di depan Istana. Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Nirwan Nawawi mengatakan penyidik Polda Metro Jaya telah menyerahkan semua berkas para tersangka, pada Senin (18/11/2019) kemarin.

“Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat sudah menunjuk tim yang beranggotakan ena orang Jaksa Penuntut Umum untuk menyidangkan perkara dimaksud pada tahap penuntutan,” kata Nirwan di Jakarta, Selasa (19/11/2019) pagi.

Nirwan menjelaskan, penyerahan tahap dua ini sebagai tindak lanjut dari pihak Penyidik Polda Metro Jaya atas diterbitkannya surat Pemberitahuan hasil Penyidikan telah lengkap (P21) dari Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta No: B-9499/M.1.4/Eku.1/11/2019 tanggal 13 November 2019. Selanjutnya, pihak Kejaksaan Negeri Jakpus akan menentukan berkas perkara sudah memenuhi syarat untuk dapat atau tidaknya dilimpahkan ke pengadilan.

“Untuk kepentingan penuntutan Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat melakukan penahanan terhadap para terdakwa di Rutan Salemba, kecuali untuk terdakwa Arina Elopere dilakukan penahanan di Rutan Pondok bambu untuk 20 hari ke depan,”ungkap dia.

Para tersangka, lanjut Nirwan, diduga melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara atau makar dan atau permufakatan makar pada (28/8/2019) di Jalan Merdeka Barat Jakarta Pusat, depan Istana Negara. Para tersangka disangkakan Pasal 106 KUHP Jo Pasal 87 KUHP dan atau kedua Pasal 110 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 KUHP.

(Foto: Antara)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00