• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

PBNU: Bom Bunuh Diri Bukan Jihad

13 November
16:08 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Bom bunuh diri baru saja mengguncang Mapolresta Medan, Sumatera Utara, tadi pagi. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) A Helmy Faishal Zaini menegaskan bahwa dalam Islam, bom bunuh diri itu bukan jihad.

"Islam mengutuk kekerasan. Bahkan tidak ada satupun agama dan ideologi di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan. Bom bunuh diri bukan jihad, bukan perintah agama, tegas Helmy kepada wartawan melalui pernyataan resminya, Rabu (13/11/2019).

Helmy lanjut menuturkan, jihad dalam pemaknaan Islam justru sebagai usaha untuk memuliakan manusia, semisal orang tua yang bekerja siang-malam untuk menafkahi keluarga. Itulah bagian dari jihad menurut Helmy.

"Jihad dalam pemaknaan Islam justru segala usaha untuk memuliakan manusia, contohnya Orang tua yang bekerja siang malam untuk menafkahi keluarganya adalah bagian dari jihad," sambung Helmy.

Helmy menambahkan, PBNU mendorong kuat aparat penegak hukum mengusut tuntas motif dan akar pelaku tindakan bom bunuh diri. Selain itu, masyarakat juga diminta tenang dan tidak terprovokasi narasi apapun yang disebarkan oknum-oknum tak bertanggung jawab.

BACA JUGA: Akibat Bom Medan, Mapolda Jatim Batasi Ojol Hanya Sampai Gerbang

Sementara itu, Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) melalui Ketua Kajian Strategis PP GP Ansor Mohammad Nurzzaman juga menegaskan bahwa aksi bom bunuh diri sebagai tindakan brutal dan tidak beradab. Dirinya bahkan menduga kuat Jamaah Ansharut Daulah (JAD) merupakan dalang insiden bom bunuh diri Mapolrestabes Medan.

"Kami menduga aksi terorisme (bom Mapolrestabes Medan) dilakukan JAD atau ISIS. Tujuannya (sebagai) balas dendam atas tewasnya pimpinan atau khalifah ISIS, Abu Bakar Al Baghdadi," ujar Nuruzzaman.

Tak cukup sampai disitu, Nuruzzaman juga menduga, pelaku bom bunuh diri Mapolresta Medan berkaitan erat dengan pelaku yang melukai mantan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto beberapa waktu lalu. Semua dugaan ini bukanlah tanpa alasan, karena menurut Nuruzzaman, seperti apa yang berhasil mereka dapati, jaringan komunikasi pengikut ISIS yang disebut ISISER sedang terputus, sehingga mereka berkomunikasi lewat media sosial.

Untuk mengikis habis terorisme, perlu segera digiatkan program deradikalisasi untuk meredam paham radikalisme, yang mirisnya, saat ini sudah merasuk di lingkungan Aparat Sipil Negara (ASN) dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sikap keras dan tegas PBNU dan GP Ansor ini bukan sebuah isapan jempol yang tanpa kerangka landasan. Karena menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan menegakkan Pancasila sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. 

Teladan Jihad dan Syahid Anggota Banser NU Riyanto

Bahkan salah satu insiden yang membuat semua mata terbelalak akan komitmen NU berikut semua organisasi sayap dalam berjihad sekaligus syahid  melawan terorisme dan radikalisme adalah insiden Bom Gereja Eben Haezer, Mojokerto, Jawa Tengah.

Saat itu, tepatnya malam Natal 24 Desember 2000 silam, Riyanto, anggota Banser NU dari satuan koordinasi cabang Kabupaten Mojokerto, bersama empat rekannya mendapat tugas menjaga Gereja Eben Haezar Mojokerto. Penjagaan rumah ibadah umat Kristiani dilakukan karena saat itu Indonesia sedang marak teror bom. Oleh karena itu, Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor menginstruksikan jajarannya, untuk membantu polisi dan TNI dengan menjaga dan mengamankan perayaan Natal umat Kristiani.  

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Perjalanan ibadah baru separuh, tiba-tiba ada yang menyampaikan kabar bahwa di depan pintu gereja ada bungkusan hitam yang mencurigakan. Mendengar hal itu, tanpa ragu Priyanto dan empat rekannya langsung datang ke lokasi yang diduga ada bom tersebut.

Dengan berani, tanpa menunggu tim gegana dari kepolisian, Riyanto maju dan membuka bungkusan tersebut. Ternyata isinya memang benar rangkaian bom dengan kabel yang saling terhubung serta mulai memercikkan api. Melihat itu, dalam jeda waktu yang sangat singkat, Riyanto mengangkat bungkusan tersebut dan mendekapnya erat-erat sambil berteriak.

"Tiaraaaaaaaapppppp," teriak Riyanto sambil memeluk erat bungkusan berisi rangkaian bom yang siap meledak.

Riyanto berlari sambil mendekap erat bom dalam bungkusan, menjauh dari para jemaat Gereja yang tertegun dan sebagian masih mengikuti ibadah di dalam. 

"Duaaaarrrrrrr"

BACA JUGA: Tampak Wajah Terduga Bomber Mapolresta Medan

Suara ledakan keras terdengar dari dalam dekapan Riyanto. Tubuhnya terpental sekitar 100 meter lebih akibat kuatnya ledakan. Beton gereja sampai roboh, begitu pula wajah, jari tangan, serta tubuh depan Riyanto hancur lebur. Riyanto dinyatakan tewas untuk menyelamatkan banyak sekali nyawa manusia, yaitu orang-orang yang tidak seiman dengannya.

Aksi Riyanto diacungi jempol oleh semua kalangan, walau merupakan duka mendalam bagi GP Ansor dan PBNU karena kehilangan seorang kader terbaik. Namun baik NU maupun GP Ansor sangat bangga dengan aksi Riyanto, karena hal itu membuat semua mata di Indonesia bisa melihat, bagaimana komitmen seorang warga negara dalam menjaga keutuhan bangsa dan negaranya dari ancaman terorisme yang dipicu paham radikal.

Pada saat kejadian, Riyanto baru berusia 25 tahun. Tapi keberanian dan militansinya betul-betul mewakili semangat menjaga keutuhan Indonesia. Atas pengorbanan Riyanto, Gus Dur berujar, 

"Riyanto telah menunjukkan diri sebagai umat beragama yang kaya nilai kemanusiaan. Semoga dia mendapatkan imbalan sesuai pengorbanannya," ujar Abdurrahman Wahid atau karib disapa Gus Dur, sesaat sebelum pemakaman Riyanto, seperti dilansir nu.or.id, 25 Desember 2000 silam.

Peristiwa heroik Riyanto sepertinya mewakili sekaligus meneguhkan pernyataan PBNU mengenai jihad dan syahid. Bahwa dalam Islam, bom bunuh diri itu bukan jihad. Detilnya, dalam pemaknaan Islam, menurut Sekjen PBNU A Helmy Faishal Zaini, jihad justru sebagai usaha untuk memuliakan manusia, semisal orang tua yang bekerja siang-malam untuk menafkahi keluarga. Itulah bagian dari jihad menurut Helmy.

Bahkan Menteri Agama Mesir DR Muhammad Mukhtar Jum‘ah menyampaikan bahwa seorang Muslim yang tewas ketika menjaga gereja mendapat derajat syahid di sisi Allah. Menurutnya, partisipasi umat Islam dalam pengamanan peribadatan umat Kristiani tidak berbeda dengan pengamanan peribadatan dalam agama Islam itu sendiri. 

Baca juga :Ini Identitas Pelaku Bom Bunuh Diri di Medan

Demikian disampaikan Menteri Wakaf dan Urusan Agama Mesir DR Muhammad Mukhtar Jum‘ah dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Abbasi, Port Said, Mesir, Jumat (22/12) siang. 

“Orang yang tewas ketika menjaga gereja, ia terkategori syahid di jalan Allah,” kata Mukhtar Jum‘ah dalam khutbahnya seperti dirilis al-yaumus sabi‘ dengan link youm7.com, seperti dilansir NU Online, 22 Desember 2017 silam.

Baca juga : Soroti Ledakan Bom di Medan, Ketua MPR: Pemahaman Pancasila PR Bersama

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00