• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Mengatasi Pembuangan Limbah B3 dan Mencegah Korban Luka

8 November
19:56 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Pencemaran lingkungan akibat bahan berbahaya dan beracun (B3) dari pabrik industri masih mengancam kesehatan masyarakat di banyak daerah Indonesia. Korban limbah B3 tak mengenal batas usia. Apalagi, limbah B3 sengaja dibuang ke permukiman sekitar pabrik, ataupun senagaja dialirkan ke banyak sungai.

Limbah B3 telah nyata menelan korban sakit luka dan menimpa para warga Lakardowo, Mojokerto, Jawa Timur. Hal itu turut dikuatkan oleh Manajer Kampanye Perkotaan dan Energi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Dwi Sawung.

Pencemaran limbah B3 di Lakardowo, lanjut Dwi, berasal dari PT Putra Restu Ibu Abadi (Pria). Walhi Jawa Timur juga telah melakukan peninjauan langsung di lapangan. Gambar para korban juga telah diungkap oleh pegiat lingkungan Jawa Timur melalui film dokumenter Paradoc Film, pada Juli 2019.

Hasil dokumentasi film itu, terekam banyak anak-anak dan orang dewasa terkena penyakit kulit hingga jatuh sakit. Luka di sekujur tubuh menjadi potret warga Lakardowo.

“Itu alergi air dan udara. Karena ada beberapa limbah B3 dibakar. Itu kayak bernanah, lama lama kering. Tapi, kalau dibiarkan bernanah, ya akan terus menerus bernanah,” ungkap Dwi kepada rri.co.id saat dihubungi di Jakarta, Jumat (8/11/2019).

Ironinya, limbah B3 sengaja dibuang ke daerah permukiman warga di Lakardowo menggunakan banyak drum berwarna biru, dan lengkap dengan stiker peringatan bahan kimia berbahaya.

Pencemaran limbah B3 bukan isu lingkungan baru di Indonesia. Ada limbah B3 di Sungai Citarum, Kali Bekasi, Sungai Cikarang Bekasi Laut, bahkan beberapa hari lalu limbah B3 dengan jelas mengalir di BKT Ujung Menteng (Cakung, Jakarta Timur).

Guna menghentikan atau mencegah daerah terpapar limbah B3, ada pula berbagai cara yang wajib dilakukan oleh pelaku industri. Sebab, tak sedikit masyarakat dirugikan dari sampah sampah dari produksi berbagai macam industri yang ada saat ini.

“Harusnya diolah dulu, tergantung jenis limbah B3 dari abunya. Itu yang harus disimpan atau ditaruh di tempat kedap air, tempat yang tidak mudah bocor,” terang dia.

Bagi pelaku industri yang memiliki inisiatif tinggi, menurut Dwi mereka seharusnya sudah tahu tempat pembuangan limbah B3 yang tepat. Mereka, para pelaku industri sudah pasti akan membawa semua limbah B3 ke PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI).

“Itu di Bogor. Itu terkenal oleh kelompok penampung limbah B3,” kata dia.

Dia menerangkan, limbah B3 itu biasanya pertama diolah para pelaku industri sebelum dibawa ke PPLI. Misalnya seperti limbah B3 zat cair berwarna biru dan berbau. Pengolahan limbah dilakukan di pabrik terkait agar air itu menjadi jernih.

“Dari pengolahan itu biasanya, ada slide bahan B3. Itu dikirim ke PPLI, dan di PPLI ada tempat penyimpanannya. Semacam TPA (tempat pembuangan akhir) tapi khusus limbah B3,”ujar dia.

Limbah B3, kata dia, merupakan zat yang tidak dapat diolah kembali. Maka dari itu, dia sangat menekankan agar seluruh industri di Indonesia sudah menggunakan bahan tidak berbahaya. Khususnya, tidak berbahaya bagi lingkungan.

Sebab, saat ini Walhi mencatat peraturan industri dunia sudah jauh mengatur pemakaian bahan kimia tidak berbahaya.

“Cat tidak berbahan timbal lagi, produk tidak beresidu mercuri lagi. Semua itu harus dilakukan oleh para pelaku industri,” tegasnya. (ANTARA FOTO/Andika Wahyu/mes/13)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00