• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Harga Gas Masih Tinggi, Industri Terpuruk

7 November
16:37 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta:Pengusaha di Tanah Air resah dengan masih tingginya harga gas industri. Contoh, harga gas untuk pelaku industri kaca lembaran di Jawa Barat mencapai U$9,14 per Million British Thermal Unit (mmbtu),  sedangkan di Jawa Timur, harganya U$ 8,2 per mmbtu.

Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi, Ahmad Safiun mengatakan kondisi industri dalam negeri kelimpungan dengan harga gas yang masih tinggi. Ahmad mencontohkan, dari 12 perusahaan sarung tangan latex, yang masih bertahan hanya 3. 

"Kondisi industri rumit. Hampir semua industri dari tekstil drop,  keramik 30 persen (drop). Saya juga  Ketua Asosiasi Sarung Tangan Latex, tinggal 3 dari 12 industri. Masih banyak lagi industri terutama kaca. Pasca Peraturan Presiden Nomor 40   keluar, investor dari Jepang ingin masuk ke Indonesia tapi kok tak kunjung turun harga gas, dia pindah ke Malaysia," kata Ahmad Safiun dalam diskusi di Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Dia menegaskan gas bagi industri sangat penting. Apabila harga gas industri mahal, maka dikhawatirkan daya saing industri dalam negeri akan turun . Mengenai harga ideal, menurut nya U$6 per mmbtu sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016.

"Gas bagi industri seperti energi untuk infrastruktur. Kalau harga mahal mak industri kita tidak bersaing. Harga harus turun bukan naik. Peraturan Presiden, harga U$6. Itu sudah di hitung oleh ESDM, Menko Perekonomian. Kok sekarang malah mencari win-win. Harga harus dibawah U$6. Sekarang sudah lunglai apalagi ada wacana mau naik, langsung roboh. Kalau harga pantas U$6 per mmbtu, itu harga pantas," ujarnya.

Sementara itu, pakar perminyakan Kurtubi mengatakan pemerintah harus melindungi industri di Tanah Air apalagi Indonesia menargetkan menjadi negara industri maju pada 2045. Untuk menuju menjadi negara industri maju, harus memilik industri yang kuat dan pertumbuhan ekonomi diatas 8 persen. Harus ada upaya untuk melindungi industri diantaranya dengan pembatasan harga atas .

"Untuk keperluan dalam negeri, melindungi harus ada batas atas. Jangan sampai ekspor ke Tiongkok, dikasih batas. Harga minyak dunia U$17 , ke Tiongkok U$3 mbbtu. Jangan sampai harga minya mentah dunia U$100, ke Jepang U$13 mmbtu, ke Tiongkok U$3 mmbtu. Itu tidak benar. Kalau ada pembatasan formula,  pembatasan harga gas harus diterapkan dalam negeri," ujar Kurtubi.

Kurtubi menyebut salah satu penyebab masih tingginya harga gas industri, karena panjangnya mata rantai bisnis penyaluran disisi hilir.

"Salah satu penyebab mahal karena panjangnya proses bisnis penyaluran disisi hilir. Misal sekarang saya dengar ada industri yang membayar U$10 per mmbtu, itu real dibayar. Apabila kenaikan tidak ditahan, mereka bisa-bisa membayar U$12-13 mmbtu. Ini luar biasa," ujarnya.

Plt Dirjen Migas ESDM, Djoko Siswanto menegaskan Presiden Joko Widodo memastikan tidak akan menaikan harga gas industri. Mengenai penentuan harga, ditentukan oleh banyak faktor.
 
"Pemeritah menyatakan tidak ada kenaikan harga gas bumi . Kalau harga cukup bervariasi tergantung harga hulu, ongkos angkut. Kalau LNG pakai kapal, kalau memakai pipa, ada ongkos angkut pipa, termasuk berdasarkan transportasi," ukar Djoko.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00