• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Komisi B DPRD Dapati Anggaran Formula E Pemprov DKI Mencurigakan

7 November
04:15 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Anggaran 'aneh' Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus menjadi pergunjingan. Bukan tanpa sebab, karena tidak hanya sebatas masalah lem aibon atau ballpoint (pulpen) saja melainkan banyak sekali komponen-komponen yang dicurigai anggota DPRD DKI Jakarta.

Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Eneng Malianasari mengutarakan, usai terungkapnya anggaran fantastis lem Aibon Rp 82,8 M dan Rp 124 M untuk pengadaan pulpen di Dinas Pendidikan (Disdik), pihaknya menyimpan pertanyaan besar kepada Dinas Pariwisata Pemprov DKI.

Pasca terungkapnya anggaran influencer sebesar Rp 5 M, muncul lagi anggaran Formula E sebesar Rp 15 M di Dinas Pariwisata. Dan itu tanpa perincian, hanya total nilainya saja yang dikeluarkan.

"Ini belum dibahasa secara serius, karena baru Senin kemarin separuhnya dibahas. Mungkin masyarakat mencermati bahwa setelah Rp 5 M dana influencer, muncul anggaran Formula E sebesar Rp 15 M di Dinas Pariwisata, yang tanpa menunjukkan 
perincian," sebut legislator PSI yang karib disapa Milliyya itu ketika ditemui RRI di Kompleks Gedung DPRD DKI, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (6/11/2019).

Untuk diketahui, Formula E atau nama resminya FIA Formula E Championship, adalah balap mobil kursi tunggal yang menggunakan energi listrik. Kejuaraan ini digagas pertama kali pada 2012, dan musim perdananya berlangsung di Beijing, Tiongkok, pada September 2014. Kejuaraan ini disetujui oleh Federasi Otomotif Internasional.

Penting-Tidak Penting Event Formula E

Jika bicara acara, Formula E boleh dikatakan penting bagi Jakarta, tapi dana Rp 15 M hanya untuk publikasi tanpa ada pula perinciannya tentu menimbulkan tanda tanya besar. Demikian menurut Milliyya. Apabila itu memang acara yang sangat penting dan besar, pertanyaan mudahnya adalah apakah tidak ada stasiun televisi yang mau diajak bekerja sama? Kemudian, jika event ini adalah bertaraf internasional, pasti media asing akan datang untuk meliput tanpa diminta.

"Ini menurut saya orang media lebih paham. Pasti (dalam peliputan) ada pertimbangan value berita dari acara yang bakal diliput. Sampai harus diliput, harus ada nilai tambah dari acara tersebut. Artinya jika sangat penting dan bernilai tinggi, siapapun media akan datang bahkan dari luar negeri sekalipun. Jadi kalau misalnya (Pemprov DKI) mengeluarkan dana sendiri lagi untuk advertorial, itu keliru," papar Milliyya.

Atas dasar itu, dari Komisi B, utamanya Fraksi PSI menyatakan keputusan penyelenggaraan Formula E dan rencana anggaran yang akan dikeluarkan adalah kekeliruan besar. Bahkan PSI sendiri menurut Milleyya tidak setuju dengan event Formula E itu.

'Ini menghabiskan uang yang sangat besar untuk acara dengan satu kali penyelenggaraan, belum lagi ada alasan sustain. Pokoknya kalau acara ini penting sekali dan bernilai tinggi, media pasti tertarik. Tidak usah ada anggaran Rp 15 M di Dinas Pariwisata," kata Milliyya.

Anggaran Semakin Mencurigakan

Hal yang paling membuatnya semakin curiga adalah, Rp 15 M yang ada di Dinas Pariwisata, bukan satu-satunya temuan. Ada dana serupa yang diselipkan ke anggaran SKPD lain, seperti Rp 17 M di Dinas Energi dan Rp 1 M di Dinas UMKM, serta masih ada beberapa lagi, sehingga jika ditotal, hasilnya diklaim akan ketemu angka triliun rupiah.

Padahal, menurut Milliyya, untuk diketahui oleh masyarakat, guna menyelenggarakan Formula E itu nanti, listrik sudah dibiayai negara Rp 1 M, kemudian sebanyak 200 unit sepeda listrik yang akan digunakan juga dibeli menggunakan APBD. Jadi sebenarnya sudah cukup besar biaya yang dikeluarkan.

"Ini (katanya) event besar. Walau itu event besar tapi menghabiskan semua uang dari sana-sini, tidak sepadan. Kecuali misalnya 30 persen biaya APBD, kemudian 70 persen hasil kerja sama atau sebaliknya, oke lah. Tapi ini anggaran seperti diselipkan untuk setiap SKPD berbeda, tanpa perincian, yang seharusnya dirincikan. Semisal satu SKPD Rp 15 M, kalikan 10 SKPD sebagai contoh, ketemu total nilainya bisa triliun 'kan," imbuhnya.

Komisi B, menurut Milliyya, terutama dari Fraksi PSI ingin anggaran Formula E ini jangan dieksekusi, melainkan dicermati dan diskusikan dulu, duduk bersama dengan semua pihak terkait. Karena DPRD sekali lagi menurutnya berhak mempertanyakan itu. 

Dan dana Formula E itu, kata Milliyya, belum dihapus serta masih dalam pembahasan. Perinciannya sedang dikejar dari masing-masing SKPD.

"Itu juga munculnya kemarin, bukan di Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Juli 2019, tapi sudah muncul di akhir Oktober, dan bisa diakses awal November 2019 ini," pungkasnya.

Sebelumnya, banyak media asing memberitakan, beberapa negara yang pernah mengadakan Formula E mengalami kerugian dibandingkan menuai keuntungan. Namun hal itu dipandang sebagai tantangan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. 

Bahkan dirinya menilai wajar jika mengalami kerugian dalam hal penyelenggaraan Formula E di tahun-tahun awal. Anies bahkan menyebutkan, Jakarta masuk sebagai penyelenggara setelah gelaran itu balik modal alias Break Event Point (BEP).

"Jakarta masuk di waktu yang tepat. Kalau Jakarta masuk sebagai penyelenggara Formula E yang dulu-dulu (awal), Jakarta ikut dalam rombongan yang belum BEP. Kami masuk sesudah mereka BEP," ujar Anies di Gedung DPRD DKI Jakarta, seperti dilansir cnnindonesia, Kamis (19/9/2019) lalu.

Meski demikian, Anies sendiri mengakui, umur penyelenggaraan yang masih muda menyebabkan Formula E tidak untung di tahun pertama penyelenggaraan. Setidaknya, kata dia, Formula E merugi di empat tahun pertama dari enam tahun penyelenggarannya. Namun beberapa waktu terakhir Formula E disebut mulai meraup pendapatan bagi negara penyelenggara.

"Jadi memang mereka menjelaskan bahwa ini sebagai sesuatu yang baru mereka kerjakan. Sekarang masuk ke sesi keenam. Nah, sebagai sebuah kegiatan baru, emang di tahun pertama sampai keempat mereka mengalami yang mereka sebut tidak untung (kerugian). Sesudah itu mereka mulai untung," kata Anies.

Dengan perhelatan acara ini, Anies menargetkan perputaran uang DKI yang bergerak sekitar Rp1,2 triliun. Angka ini disebut Anies belum termasuk keuntungan lain yang diklaim tak terhitung. Sementara itu, jumlah anggaran yang sudah diusulkan untuk perhelatan Formula E sekitar Rp1,3 triliun. Angka ini terdiri sekitar Rp360 miliar untuk pembayaran komitmen fee dan angka sekitar Rp934 miliar untuk biaya penyelenggaraan. (Foto: @milliyya)


tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00