• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Asyiknya Belajar Angklung di Bumi Parahyangan

2 November
15:20 2019

KBRN, Bandung: Angklung, merupakan alat musik tradisional, yang terbuat dari potongan bambu, dan disusun layaknya pipa berjajar apik hingga mampu menimbulkan keharmonisan nada. Dari kekhasan suaranya, dan bentuknya yang unik, alhasil pada tahun 2010, angklung berhasil dinobatkan sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO.

Dengan latar belakang ini, angklung menarik perhatian banyak pegiat seni dan budaya di Tanah Air. Bahkan sejak tahun 1966, pasangan Uglo Ngalagena dan Uum Sumiati tertarik mengembangkan budaya tradisional hingga dikenal banyak publik, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.

Upaya ini, dilakoni mereka dengan mendirikan Sanggar Budaya dan Kesenian, di Bandung Timur, bernama Saung Angklung Udjo (SAU). Pusat belajar seni musik dan budaya yang berada, di Jalan Padasuka No.118, Pasirlayung, Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat, berhasil menjadi magnet luar biasa bagi penikmat angklung dan pecinta musik daerah.

Azhar, salah satu pemain angklung muda, di Saung Angklung Udjo Bandung, menceritakan, sudah satu tahun terakhir ini dia belajar di SAU. Dia mengaku, selama berlatih angklung di kawasan tersebut telah menemukan banyak tambahan pengetahuan.

"Saat belajar angklung, saya tidak mengalami kesulitan. Semua pengajar di sini baik dan sabar saat memberi pengarahan baik untuk mengenal musik maupun olah tari," kata Azhar, saat ditemui RRI Kediri, usai mengisi pertunjukkan angklung, di Saung Angklung Udjo, Bandung, Sabtu (2/11/2019).

Pelajar laki-laki kelas satu sekolah dasar yang mengenakan baju adat khas Jawa Barat, mengaku, memiliki keinginan besar untuk mempelajari seni dan budaya di berbagai daerah di Tanah Air. Lantaran, di sanggar tersebut pihaknya diajarkan beragam tarian, lagu, dan bisa sekaligus belajar tampil di hadapan penonton.

Sementara itu, di lokasi serupa, Pengarah Acara di Pertunjukan Saung Angklung Udjo (SAU), yang sering dipanggil Ocha, menyatakan, angklung adalah alat musik sederhana yang mudah dimainkan. Misalnya, pada pertunjukan seni di Saung Angklung Udjo kali ini, terdapat penampilan Bambu Saung Angklung Udjo meliputi Demonstrasi Wayang Golek khas Sunda. Aksi memakai boneka kayu yang menyerupai badan manusia dan lengkap dengan kostumnya, biasa dipentaskan oleh seorang Dalang baik dalam upacara bersih desa dan ngaruwat.

"Dalam penampilan kami ini, aksi wayang golek mempunyai pesan moral agar kita selalu patuh pada Pencipta dan berbuat baik terhadap sesama," kata Ocha.

Di samping itu, di Saung Angklung Udjo ini pula, juga dipentaskan acara Helaran. Yang mana, pada agenda ini angklung yang dimainkan dengan nada Salendro/Pentatonis atau nada asli angklung Subda yang terdiri dari Da Mi Na Ti La Da. Kemudian ada lagi perhelatan Tari Topeng, Angklung Mini, Arumba, serta Angklung Massal Nusantara. Bermain Angklung Bersama, Angklung Orkestra, dan Menari Bersama.

"Dalam kegiatan ini, pengunjung juga bisa melihat sinergitas permainan gitar dan drum, yang membuahkan beragam lagu, baik lagu anak, lagu daerah, lagu bahasa Indonesia, maupun lagu bahasa Inggris dan lainnya. Contoh, Melati Kenanga, The Song Of Do Re Mi, dan Burung Kakatua," katanya.

Perempuan cantik berhijab ini memaparkan, bahwa dari tahun ke tahun kehadiran Saung Angklung Udjo kian diminati wisatawan lokal, maupun mancanegara. Misalnya saat pagelaran atraktif nan rancak yang dipersembahkan oleh SMK Negeri 10 Bandung yang berlangsung, Jumat sore (1/11/2019) terlihat sejumlah tempat duduk di area pertunjukkan SAU dipenuhi penonton. Selain penonton usia anak, orang dewasa, ada pula wisatawan asal Singapura yang datang bersama keluarga tercintanya.

Di lain pihak, Kepala Bidang Humas PT GG Tbk, Iwhan Tri Cahyono, mengamini, bahwa pada saat ini, dia sengaja berkunjung ke Saung Angklung Udjo Bandung dengan mengajak puluhan media massa asal Kediri melalui Program Studi Banding 2019. Alasan memilih SAU, karena lokasi ini sangat sesuai sebagai sentra edukasi budaya dan seni tradisional.

"Harapan kami, acara ini bisa bertujuan memberikan manfaat bagi kalangan jurnalis agar mereka bisa mempublikasikan kekayaan budaya Indonesia, terutama dari Bandung, yang dikenal masyarakat luas sebagai Bumi Parahyangan. Khususnya kepada warga Kediri agar mereka lebih mencintai Budaya Bangsa Indonesia," katanya.

Ke depan, Iwhan meyakini, perhelatan semacam ini bisa berdampak positif bagi kelestarian Budaya Indonesia. Terlebih lagi, supaya generasi penerus bangsa di Tanah Air memahami dan dapat mempertahankan aneka warisan kekayaan leluhur. (ac)

00:00:00 / 00:00:00