• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

Mahasiswa UGM Ubah Limbah Onggok Menjadi Panel Akustik Ramah Lingkungan

25 October
18:47 2019
0 Votes (0)

KBRN, Yogyakarta : Sekelompok mahasiswa UGM berhasil mengolah limbah onggok hasil pengolahan tepung dari pohon aren yang kurang dimanfaatkan menjadi panel akustik.

Inovasi para mahasiswa UGM  mengubah limbah onggok menjadi panel akustik berhasil mengantarkan mereka meraih medali emas dalam ajang internasional 2nd World Innovation Technology Expo (WINTEX)  2019 yang diselenggarakan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA), 9-12 Oktober 2019 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). 

Ardhi Kamal Haq mengungkapkan, Jumat (25/10/2019), ide mengolah limbah onggok ini bermula dari keprihatinannya atas limbah onggok yang dihasilkan oleh UMKM pengolahan tepung dari pohon aren yang telah melebihi batas standar yang ditetapkan pemerintah dan berpotensi mencemari lingkungan.

Salah satunya adalah UMKM di Dusun Bendo, Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten,  propinsi Jawa Tengah. Setiap Industri menghasilkan sekitar 600-700 Kg limbah onggok per-harinya.

“Kami melihat limbah onggok yang melimpah di desa Daleman, Klaten. Dan limbah itu terdiri dari dua bagian, yang pertama berupa fiber (serat) dan kedua berupa bubuk. Dari situ ikta ingin membuat sebuah inovasi maka tercetuslah membuat panel akustik,” jelas Ardhi kepada RRI di laboratorium Fisika FMIPA UGM, Jumat (25/10/2019).

Pembuatan panel akustik oleh keempat mahasiswa UGM ini tidak hanya mampu mengatasi persoalan pencemaran lingkungan akibat limbah onggok. Namun juga memberikan alternatif panel akustik yang ramah lingkungan.

Sebab, panel akustik yang banyak beredar di pasaran masih memakai bahan sintetis berupa busa dan styrofoam. Panel akustik yang dikembangkan keempat mahasiswa tersebut, dengan dimensi 29,7 cm x 42 cm berbahan utama serat fiber limbah onggok dengan proses dimulai dari mengeringkan limbah onggok dibawah sinar matahari terlebih dahulu.

“Kita campur dengan tepung kanji dengan perbandingan 1:2 kita campurkan antara serat dan bubuknya serta tepung kanji dan kemudian kita campur sehingga merata lalu kita cetak dengan cetakan yang sudah kita siapkan, baik dalam bentuk silinder, kubus maupun dalam bentuk sesuai skala industri,” tutur Ardhi tentang proses pembuatan panel akustik.

“Lalu kita press dengan tekanan 100 psi, selanjutnya kita furnish selama 2 jam dalam suhu 200 derajad Celsius baru kemudian kita cetak dan finishing,” tambah Ardhi yang menyebutkan bahwa panel yang mereka hasilkan memiliki impedansi atau kemampuan menyerap suara hingga 95 persen.

Keempat mahasiswa yang mengolah limbah onggok menjadi panel akustik adalah Ardhi Kamal Haq, Said Ahmad, Muhammmad Dwiki Destian Susilo dari Jurusan Fisika, serta Pamela Chanifah Zahro dari Kimia, dengan bimbingan Dr. Mitrayana. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00