• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sosok

Nadiem Makarim, Sosok Mendikbud Dikti Muda, 'Bapak Pengojek Asia Tenggara'

23 October
16:53 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Nadiem Anwar Makarim resmi duduk sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi (Mendikbud Dikti) RI, Kabinet Indonesia Maju, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin periode 2019-2024, Rabu (23/10/2019).

Pengusaha kelahiran Singapura, 4 Juli 1984 berusia 35 tahun tersebut menggantikan Mendikbud sebelumnya Muhadjir Effendi.  Nadiem Makarim dikenal luas sebagai pendiri PT GoJek Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang moda transportasi online (daring) dan berhasil mengembangkan sayap bisnis daring tersebut sampai ke bidang lainnya.

Bahkan hingga penghujung 2019 ini, Gojek tercatat sudah beroperasi di beberapa negara Asia Tenggara seperti Singapura, Vietnam dan Thailand.

Nadiem Anwar Makarim merupakan putra dari pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadri. Ayahnya adalah sosok aktivis dan pengacara terkemuka keturunan Arab-Minang, sedangkan ibunya seorang penulis lepas putri dari Hamid Algadri, salah satu perintis kemerdekaan RI.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, Nadiem banyak berpindah-pindah dari Jakarta ke Singapura. Sampai akhirnya ia menamatkan pendidikan sekolah mengenah atas di Singapura pada 2002, langsung melanjutkan studi jurusan Hubungan Internasional di Brown University, Amerika Serikat (AS). Setelah meraih gelar sarjana pada 2006, berselang tiga tahun kemudian, pria yang pernah mengikuti program pertukaran pelajar di London School of Economics itu kemudian menempuh pendidikan untuk gelar Master of Business Administration di Harvard Business School.

Selepas menempuh studi pada 2006 silam, Nadiem mengawali karir sebagai konsultan manajemen di McKinsey & Company, dan berkarir sebagai konsultan di perusahaan itu selama tiga tahun. Setelah memperoleh gelar MBA, ia terjun sebagai pengusaha dengan mendirikan Zalora Indonesia (Co-Founder) kemudian ikut ambil bagian dalam operasional perusahaan dengan duduk sebagai Managing Director pada 2011.  

Pada 2012, Nadiem memutuskan keluar dari Zalora untuk membangun startup sendiri, termasuk Gojek yang pada waktu itu memiliki 15 karyawan dan 450 mitra driver. Dia mengaku telah belajar cukup banyak di Zalora, yang merupakan tujuan utamanya ketika menerima pekerjaan di perusahaan itu. Di Zalora, Nadiem memiliki kesempatan membangun mega startup dan bekerja dengan sejumlah talenta terbaik di kawasan Asia.

Pada Agustus 2016, Gojek memperoleh pendanaan sebesar USD 550 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun dari konsorsium yang terdiri dari KKR, Sequoia Capital, Capital Group, Rakuten Ventures, NSI Ventures, Northstar Group, DST Global, Farallon Capital Management, Warburg Pincus, dan Formation Group, hingga akhirnya PT Gojek Indonesia, perusahaan yang didirikannya berhasil menjelma jadi perusahaan rintisan terbesar di Indonesia hingga 2019.

Untuk diketahui, setelah keluar dari Zalora, dan sementara merintis Gojek, ia sempat pula duduk sebagai Chief Innovation Officer (CIO) Kartuku. Saat awal berdiri, Kartuku tidak ada kompetitor dalam sistem pembayaran non-tunai di Indonesia. Sampai kemudian ketika Gojek semakin besar, Nadiem melalui Gojek mengakuisisi Kartuku guna memperkuat GoPay.

Sejak didirikan Nadiem makariem pertama kali pada 2010, kini Gojek sudah menjadi salah satu dari 19 decacorn di dunia, dengan valuasi mencapai USD 10 miliar. Padahal, awalnya Gojek berdiri hanya sebagai call centre, menawarkan hanya pengiriman barang dan layanan ride-hailing dengan sepeda motor. Sekarang, Gojek telah bertransformasi menjadi super app, menyediakan lebih dari 20 layanan, mulai dari transportasi, pengantaran makanan, kebutuhan sehari-hari, pijat, bersih-bersih rumah, logistik hingga platform pembayaran digital yang dikenal dengan GoPay.

Karier bisnis suami dari Franka Franklin bersama Gojek tersebut masuk dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia versi Majalah Globe Asia. Dari hasil usaha dan pengembangan bisnisnya, Nadiem Makarim diperkirakan memiliki nilai kekayaan mencapai US$100 juta.

Karir Nadiem akhirnya berujung indah pada pagi hari, 22 Oktober 2019, dirinya resmi dipanggil Presiden Jokowi untuk duduk di jajaran menteri kabinet Indonesia Maju 2019-2024. Selepas bertemu Jokowi, Nadiem langsung mengumumkan pengunduran dirinya dari kegiatan operasional perusahaan sebagai CEO PT Gojek Indonesia. Pada 23 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo mengumumkan kabinet menteri dengan nama Nadiem Anwar Makarim sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi.

Dari pernikahannya dengan Franka Franklin pada 2014 silam, Nadiem dikaruniai seorang anak yang diberi nama Solara Franklin Makarim.

Seperti dilansir wikipedia, pada 2016, Nadiem menerima penghargaan The Straits Times Asian of the Year, dan merupakan orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan tersebut sejak pertama kali didirikan pada 2012. Penghargaan Asian of the Year diberikan kepada individu atau kelompok yang secara signifikan berkontribusi pada meningkatkan kesejahteraan orang di negara mereka atau Asia pada umumnya.

Beberapa penerima sebelumnya termasuk pendiri Singapura, Lee Kuan Yew, Perdana Menteri India Narendra Modi, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Myanmar Thein Sein. Penghargaan tersebut datang karena perusahaan dinilai berfokus pada peningkatan kesejahteraan sektor informal. Pada saat yang sama, ini dapat membantu menyediakan mata pencaharian bagi masyarakat Indonesia dengan mengubah pasar dan model bisnis tradisional.

Pada 2017, Gojek masuk dalam Fortune’s Top 50 Companies That Changed The World, dan mendapatkan peringkat 17 untuk kawasan Asia Tenggara.

Terus berkembang, PT Gojek Indonesia yang didirikan Nadiem, berhasil masuk daftar Bloomberg 50 versi 2018. Bloomberg menilai tidak ada aplikasi lain yang telah mengubah kehidupan di Indonesia dengan cepat dan mendalam seperti Gojek. Aplikasi Gojek diluncurkan pada 2015 dengan fokus pada pemesanan ojek, dan kemudian berkembang menjadi aplikasi untuk membayar tagihan, memesan makanan, hingga membersihkan rumah.

"The Bloomberg 50" itu sendiri berisi sosok-sosok ternama dalam bidang bisnis, hiburan, keuangan, politik, hingga ilmu pengetahuan dan teknologi. Sepak terjang Nadiem yang berhasil mengembangkan Gojek ke Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam membuat Bloomberg menyandingkan namanya dengan presiden Mexico Andres Manuel Lopez Obrador, pendiri Spotify Daniel Ek, pop star Taylor Swift dan grup idol Kpop BTS.

Pada Mei 2019, Nadiem menjadi tokoh termuda se-Asia yang menerima penghargaan Nikkei Asia Prize ke-24 untuk Inovasi Ekonomi dan Bisnis. Penghargaan Nikkei Asia diberikan kepada individu atau organisasi yang berkontribusi bagi pengembangan kawasan Asia dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Asia.

Nadiem menggandakan hadiah yang diterima menjadi Rp 860 juta untuk donasi pendidikan anak mitra pengemudi Gojek. Penghargaan ini berkaitan dengan kontribusi Gojek dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, memudahkan keseharian pengguna hingga meningkatkan pendapatan mitranya.

Hingga kini, Gojek dinilai berkontribusi Rp 55 Triliun terhadap perekonomian Indonesia, dengan penghasilan rata-rata mitra Go-Ride dan Go-Car naik 45% dan 42% setelah bergabung dengan Gojek, dan volume transaksi UMKM Kuliner naik 3.5 kali lipat semenjak menjadi mitra GoFood.

Pada tahun yang sama (2019), Gojek kembali menjadi satu-satunya perusahaan Asia Tenggara yang masuk ke daftar Fortune’s 50, dan naik ke peringkat 11 dari 52 perusahaan kelas dunia.

Pro dan Kontra Pemanggilan Nadiem Anwar Makarim Sebagai Calon Menteri Kabinet Indonesia Maju 2019-2024

Seperti diberitakan RRI sebelumnya, belum jadi menteri Kabinet Presiden Jokowi, mantan CEO moda transportasi online Gojek, Nadiem Makarim sudah diminta mengundurkan diri oleh sebuah komunitas pengemudi ojek online (Ojol) Tim Anti Begal Tekab melalui Ketua Umum Ari Ojol.

Mewakili puluhan ribu anggota dari seluruh Indonesia, Ari mengutarakan seharusnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau kembali keputusan menempatkan Nadiem Makarim sebagai calon menteri untuk periode 2019-2024. Apa alsannya?

"Nadiem sebagai menteri, banyak ditentang para driver ojol, khususnya rekan-rekan dari Gojek yang ada di dalam barisan Tekab. Alasannya? Teman-teman belum merasakan kesejahteraan itu secara utuh, malah semakin sulit sepertinya menggapai sejahtera," ujar Ari saat dihubungi RRI, Selasa (22/10/2019).

Ari lantas mengungkit demonstrasi pengemudi ojol di kantor Gojek kawasan Pasaraya, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu yang menuntut perusahaan mengubah kebijakan skema tarif yang diberlakukan.

Seperti diketahui, sekitar 5.000 massa pengendara moda transportasi online Gojek berdemonstrasi di depan kantor Gojek di Pasaraya Blok M, Jakarta, Senin, 5 Agustus 2019 lalu. Mereka berasal dari Organisasi Anggota Sewa Khusus Indonesia (Oraski), Gerakan Hantam Aplikasi Nakal (Gerhana), dan Gabungan Aksi Roda Dua (Garda).

Para rekanan Gojek menuntut pembukaan suspend terhadap sejumlah mitra Gojek dan pengaktifan kembali status putus mitra, pengubahan skema insentif baru Gojek, menghapus pungutan asuransi sebesar Rp2.000 per pengemudi, Gojek tidak melakukan perekrutan pengemudi baru, Gojek menghentikan perpindahan driver dari Grab ke Gojek, serta perbaikan pola kemitraan antara PT Gojek Indonesia dengan mitra pengendara khususnya dari GoCar.

Tapi dalam demonstrasi tersebut tak satupun perwakilan perusahaan turun menemui pengunjuk rasa, termasuk CEO Nadiem Makarim. Para pengemudi ojol kemudian emosi dan mulai membakar ban bekas serta atribut Gojek milik mereka seperti jaket dan helm untuk mengekspresikan kekecewaan.

Bentrokan ringan sempat terjadi dengan aparat kepolisian saat peserta aksi unjuk rasa berusaha masuk ke dalam gedung Gojek, namun akhirnya bisa dihalau petugas keamanan sekaligus membuat keadaan berangsur kondusif.

"Itulah yang saya bilang tadi, Gojek ini masih menyisakan masalah pelik dengan driver-nya sendiri lalu mantan CEO Nadiem Makarim jadi menteri? Bagaimana penyelesaian tuntutan pada 5 Agustus kemarin? Belum selesai," kata Ari menambahkan.

Dirinya mengakui, Gojek memang sudah melakukan ekspansi ke sejumlah negara, tapi itu bukan sebuah ukuran baku untuk menentukan kesuksesan Nadiem mengelola Gojek kemudian naik jadi menteri. Karena sejatinya keberhasilan yang harus diperhitungkan adalah bagaimana kehadiran Gojek itu bisa menyejahterakan orang Indonesia terlebih dulu sebelum beranjak ke warga luar negeri.

Menutup perbincangan, Ari berharap pemilihan Nadiem sebagai menteri tidak ada aroma politik. Karena jika aroma itu tercium, pastinya ini sesuatu yang sangat merugikan rakyat, terutama mereka yang bekerja sebagai rekanan PT Gojek Indonesia.

"Saran saya tidak usah dijadikan menteri. Pak Nadiem itu harus menyelesaikan masalah dan tuntutan para driver Gojek dulu. Itu hal paling penting yang harus dilakukannya. Bagi yang setuju Nadiem jadi menteri, buat saya mereka cuma para penjilat," pungkas Ari Ojol.

Dukungan Mengalir Untuk Nadiem Makarim Jadi Menteri Kabinet Indonesia Maju

Salah satu Driver Online yang juga Ketua Forum Komunitas Driver Online Indonesia (FKDOI) Cang Rahman mengaku dirinya bangga dengan adanya representasi keluarga besar transportasi online yang dipanggil ke Istana Negara.

"Kami pro Pak Nadiem jika jadi menteri di kabinet Jokowi dan Ma'ruf Amin. Sosok yang bisa diperhitungkan dalam membangun indonesia ke depan," ujar Cang Rahman dalam keterangan tertulis, seperti dilansir detikcom, Senin (21/10/2019).

Menurutnya, kepemimpinan Nadiem sudah terbukti di Gojek. Bagaimana perusahaan bisa terus bertumbuh dan menarik minat investasi banyak pihak dari dalam dan luar negeri. Nadiem Makarim dinilainya sebagai sosok leader inovator dalam memprakarsai ojek online dan tidak hanya di Indonesia tapi juga tingkat dunia.

Menurut Rahman, bisa saja di dunia transportasi online Uber adalah pionir. Tapi, untuk memaksimalkan kendaraan roda dua seperti ojek online (ojol), kata dia, Gojek adalah pionir.

Cang Rahman juga membantah adanya anggapan bahwa mitra ojek online tidak sejahtera. Menurutnya, bicara hal tersebut sangat subyektif dan banyak faktor itu tergantung sudut pandang masing-masing.

Bagi Rahman, konsep kerjasama yang diterapkan Gojek, justru mendididik driver ojek online menjadi lebih mandiri dan dianggap sebagai seorang entrepreneur.

"Kenapa kami bilang entrepreneur? Karena kami mitra bukan pegawai, bukan karyawan. Kami bekerja atas kemampuan sendiri," tambahnya.

Ia pun merasa bahwa pengalaman-pengalaman dan latar belakang Nadiem Makarim tentunya akan dapat membantu memajukan bangsa Indonesia.

Pendapat yang sama juga disampaikan Astri, anggota Aliansi Nasional Driver Online Indonesia (Aliando), dimana ia bangga terhadap pencapaian Nadiem bersama Gojek.

Menurut Astri, berdasarkan pengalaman pribadinya, Nadiem bersama Gojek telah mendatangkan banyak manfaat bagi masyarakat Indonesia. Ia juga merasa bahwa Nadiem sudah sangat pantas menjadi menteri karena telah berhasil membantu banyak rakyat kecil.

"Pak Nadiem sudah membangun untuk rakyat kecil dan sangat terasa sekali. Dalam empat tahun saya di GoCar sudah merasakan itu. Saya pikir sudah sangat pantas pak Nadiem jadi menteri karena sudah banyak membantu rakyat kecil," ungkap ibu dari tiga anak itu.

Maun Radit dari Komunitas Energi Satu Aspal turut serta menyatakan dukungan terhadap Nadiem sebagai menteri.

"Kami mendukung karena melihat Gojek sangat signifikan memajukan dari sisi ketenagakerjaan," ujarnya.

Kreativitas Gojek yang menjalankan bisnis secara inovatif, menurut Radit, diharapkan juga berlanjut di pemerintahan. Dia tidak khawatir Gojek akan terganggu ketika Nadiem benar-benar sudah masuk pemerintahan. Sebab, kata dia, bisnis digital bisa bergerak sendiri.

"Pak Nadiem hanya memberikan arahan umum tetapi sistem sudah bisa berjalan dengan sendirinya. Pak Nadiem lebih dibutuhkan untuk masyrakat luas," jelas Radit.

Menurutnya, sudah saatnya Nadiem naik level agar bisa berkontribusi lebih luas. Bukan hanya kepada Gojek dan sekitar dua juta mitra saja tetapi juga ratusan juta masyarakat Indonesia.

"Kami ingin gaya mas Nadiem yang cepat membangun Gojek bisa diadopsi di pemerintahan," tutupnya.

Menunggu Gebrakan Program Pendidikan Ala Nadiem Makarim

Sebagai Menteri Pendidikan, Kenudayaan dan Pendidikan Tinggi, Nadiem Makarim menghadapi tantangan besar dalam menyusun sistem pendidikan akurat untuk masyarakat Indonesia di tengah isu global yang fluktuatif. Apalagi sistem zonasi yang diterapkan pendahulunya, Muhadjir Effendi juga banyak menuai pro kontra dari masyarakat.

Mengacu pada program pembangunan prioritas Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin periode 2019-2024, yakni pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang berdaya saing Internasional, sepertinya banyak pekerjaan rumah menanti Nadiem. Dari bersinergi dengan kementerian terkait dalam upaya membentuk SDM Indonesia sejak masih dalam kandungan, sampai masuk pada program induk Kemendikbud Dikti yang dipimpinnya untuk mengembangkan SDM Indonesia sejak kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga dewasa.

Untuk menjadi pengusaha sukses, pendidikan harus tinggi juga. Akan tetapi ada pula fenomena pengusaha sukses yang bahkan tidak tamat sekolah menengah pertama di Indonesia. Sosok mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti adalah contoh aktual pengusaha ikan yang tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi, kemudian berhasil duduk sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Kerja pasangan Jokowi-Jusuf Kalla periode 2014-2019.

Tapi itu tergantung dari manusianya, apakah dia pekerja keras atau bagaimana. Jika tanpa pendidikan lalu malas, pastinya tidak akan tumbuh menjadi manusia Indonesia berdaya saing Internasional. Jika berpendidikan tapi malas, dia akan tumbuh menjadi SDM yang mengekor pada pekerjaan selamanya. Namun jika seorang manusia bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, kemudian bermental pekerja keras, memahami ilmu agama secara utuh, serta menghargai keragaman budaya bangsanya sendiri, itulah sosok yang bisa tumbuh sebagai SDM Indonesia unggul berdaya saing Internasional. Contoh sosok itu adalah Nadiem Anwar Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi (Mendikbud Dikti) Republik Indonesia periode 2019-2024.

Rakyat menunggu hasil kerjamu dalam 100 hari pertama.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00