• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

Kasus Penajam Paser Utara, Konsesi Adat Vs Hukum Positif

18 October
15:08 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Wilayah Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur (Kaltim) dilanda perselisihan yang berujung terbakarnya ratusan rumah nelayan dan sekitar 1.000 kehilangan tempat tinggal. Selain itu, sejumlah fasilitas publik di pelabuhan setempat ikut terbakar akibat amuk massa anarkis, Rabu, 16 Oktober 2019 lalu. 

Masalah berawal dari pertikaian antar remaja yang menewaskan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pelita Gamma PPU bernama Chandra pada 9 Oktober 2019 lalu. Seorang rekan Chandra bernama Rian yang ikut dalam pertikaian juga masih kritis hingga Jumat, 11 Oktober 2019, di RSUD Ratu Aji Putri Botung Penajam,

Usai membunuh Chandra, pelaku yang diketahui berinisial (Ri) sempat melarikan diri ke Balikpapan, namun berhasil dibekuk polisi bersama 2 (dua) orang lainnya yang diduga ikut melakukan penganiayaan terhadap Chandra. 

Langkah mediasi langsung dilakukan aparat, namun tiba-tiba sudah datang sekitar 100 orang massa masyarakat adat yang menuntut keadilan sambil mencari-cari pelaku serta keluarganya di Gang Buaya Km1, Pelabuhan Feri, Penajam, Paser Utara, lengkap dengan senjata tajam. Pelaku (Ri) saat itu masih dalam penahanan Polda Kaltim sehingga tak berhasil didapati. 

Massa kemudian melakukan pengusiran terhadap keluarga pelaku agar keluar dari Penajam, Paser Utara, diikuti dengan membakar rumah keluarganya tersebut. Akibat pembakaran, api merembet melahap permukiman 3 (tiga) Rukun Tetangga (RT) di Gang Buaya Km. Bahkan beberapa fasilitas publik di pelabuhan ikut dirusak massa. Tak puas juga, massa anarkis turut melakukan penghadangan masuknya unit Pemadam Kebakaran (Damkar) untuk memadamkan api. Mereka menghalangi petugas dengan menggunakan Mandau (senjata tajam tradisional khas Dayak). 

Berdasarkan data yang dihimpun RRI, Jumat, 18 Oktober 2019 dari lokasi kejadian, setidaknya ratusan rumah warga berikut fasilitas pelabuhan PPU hangus terbakar. 

Kurang lebih 150 bangunan menjadi korban massa anarkis. Kebakaran Gang Buaya Km1 berlangsung di RT 06, RT 07, dan RT 08. Satu bangunan madrasah serta 90 rumah yang dihuni 108 Kepala Keluarga (KK) menjadi korban keganasan massa di RT 06. Kemudian untuk RT 07, tercatat 55 rumah yang dihuni 85 KK dilumat api. Sementara RT 08, ada 129 KK kehilangan tempat tinggal. Selanjutnya, di area pelabuhan terpantau satu bangunan rumah dan 10 kios maupun warung hangus terbakar,.

Emosi Massa Sulit Diredam

Sebelum pembakaran, ratusan massa yang datang ke pelabuhan mencari dan bermaksud menghakimi pelaku pembunuhan Chandra sempat berusaha diredam kemarahannya oleh petugas gabungan TNI-Polri yang sudah diturunkan ke Penajam, Paser Utara, Kaltim. Kapolda Kaltim Irjen Pol Priyo Widyanto turun langsung ke lapangan untuk bicara dan menenangkan massa. 

Priyo menjelaskan kepada massa bahwa pelaku pembunuhan sudah ditahan sekaligus diproses hukum oleh polisi. Bahkan rekan-rekannya yang ikut melakukan penganiayaan hingga tewasnya remaja bernama Chanda sudah ditahan dan menjadi tersangka. Total tiga pelaku yang jadi tersangka itu diancam hukuman lima tahun penjara. 

BACA JUGA: Aksi Protes Urusan Keluarga Tapi Bakar Fasilitas Publik

Dengan demikian, tidak ada yang harus dikhawatirkan oleh keluarga korban, karena penegakan hukum akan dilakukan tegas kepada pelaku. Berhasil meredakan amuk massa, Kapolda Kaltim langsung menemui tokoh masyarakat PPU agar ikut serta mendinginkan suasana supaya tidak semakin besar dan melebar. Akan tetapi, dengan maraknya berita hoaks di media sosial terkait pembunuhan Chandra, situasi terus memanas. 

Proses negosiasi antara kepolisian dengan tokoh masyarakat dan keluarga korban berjalan alot sampai tengah malam. Seolah tak ada lagi jalan keluar secara damai, akhirnya massa membakar rumah keluarga pelaku pembunuhan, hingga api menyebar dan membakar ratusan rumah di sekitarnya.

Kapolres Penajam Paser Utara AKBP Sabil Umar menginformasikan, ratusan rumah kayu di area Pelabuhan Penajam ikut terbakar akibat pembakaran yang dilakukan massa terhadap kediaman milik keluarga pelaku pembunuhan. Bahkan Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkab PPU Ahmad Usman berani memastikan, ada 400 bangunan rumah (dari kayu) di pelabuhan yang ludes terbakar. 

Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran karena para penghuni rumah sudah diungsikan oleh aparat keamanan ke sejumlah fasilitas yang disediakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat. 

Awal Mula Terbunuhnya Chandra

Korban CH (19) dan RN (18) baru saja selesai main sepakbola di lapangan futsal Penajam, Paser Utara. Keduanya lantas pulang dengan mengendarai sepeda motor sambil menarik-narik gas dengan sengaja hingga menimbulkan suara bising dan mengganggu orang lain pada Rabu, 9 Oktober 2019 lalu.

Melihat dan mendengar kebisingan yang dilakukan korban, pelaku (Ri) naik pitam lantas mendatangi CH dan RN kemudian mengajak dua remaja tersebut duel di Pantai Nipah-Nipah malam hari.

Menjawab tantangan pelaku, korban CH dan rekannya RN datang ke Pantai Nipah-Nipah pada Rabu malam. Namun betapa terkejutnya korban CH dan RN, karena ternyata pelaku datang dengan membawa teman-temannya. Walau tak diketahui persis jumlahnya, pokoknya banyak sekali.

Singkat cerita, dibantu rekan-rekannya, pelaku akhirnya berhasil melukai korban CH dan RN dengan senjata tajam. Setelah itu, pelaku melarikan diri ke Kota Balikpapan.

Sementara CH dan RN dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Akan tetapi nahas bagi CH (19), ia tidak mampu bertahan dan meninggal dunia akibat luka parah di bagian perut. Sedangkan RN (18) masih selamat walaupun menderita luka parah di pinggang kiri.

Karena kejadian sudah dilaporkan, polisi langsung melakukan pengejaran hingga diketahui pelaku lari ke Balikpapan. Setelah berkoordinasi antar daerah, akhirnya pelaku (Ri) berhasil diringkus jajaran Satreskrim Polres Balikpapan.

BACA JUGA: Ini Penyebab Protes Berujung Anarkis di Penajam Paser Utara

Seluruhnya, polisi berhasil menangkap tiga orang termasuk pelaku yang melukai korban. Bahkan kepada polisi, pelaku Ri sudah mengakui perbuatannya dan siap mempertanggungjawabkan di hadapan hukum.

"Ri langsung diamankan karena mengakui perbuatan terhadap korban CH dan RN," demikian keterangan Kasat Reskrim AKP Dian Puspitosari.

Beberapa hari kemudian, tepatnya Rabu, 16 Oktober 2019, ratusan massa nampak berkumpul di Pelabuhan Penajam Paser Utara (PPU) sambil membawa senjata tajam. Mereka mencari-cari keluarga pelaku Ri sambil melakukan perusakan fasilitas publik di dalam area pelabuhan.

Mediasi Adat, Keluarga Korban Tetap Tidak Terima Kematian Chandra

Akibat meletusnya aksi protes berujung pembakaran oleh kelompok masyarakat lokal terhadap kelompok nelayan di pelabuhan Penajam, Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Abdul Gafur Mas’ud bersama sejumlah tokoh adat Dayak dan Paser melakukan upaya mediasi dengan tokoh masyarakat setempat, Kamis (17/10/2019).

Mediasi berlangsung di Rumah Adat Baru Jalan Penajam–Kuaro, Kecamatan Longkali, Kabupaten Paser, dan dihadiri Sekjen Majelis Adat Dayak Nasional Yakobus Kumis, Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur Edi Gunawan, Ketua Lembaga Adat Dayak Kenyah Kalimantan Timur, Ketua Lembaga Adat Paser Penajam Paser Utara Musa, Ketua Dewan Adat Dayak Balikpapan Abriantinus, sesepuh adat Paser Sudirman, tokoh adat Paser Midin, kuasa hukum adat Dayak Padman Hutapea, perwakilan keluarga korban Sapri dan masyarakat adat Paser.

Abdul Gafur mengaku sangat sedih dengan kejadian belakangan ini yang berakibat pada seribu lebih warga nelayan kehilangan tempat tinggal. Dirinya merasa sedih sebagai pemegang amanat seluruh masyarakat, mulai dari suku Paser, Dayak, Jawa, Bugis dan lain-lain untuk menjaga kondusivitas di wilayah Penajam Paser Utara setelah terjadi kerusuhan. 

“Kalau memang masalah ini ditunggangi untuk menolak kehadiran Ibu Kota Negara di PPU, jangan sampai merugikan masyarakat," ujarnya.

Dirinya lanjut menuturkan, walau Penajam Paser Utara dan Paser berbeda dari segi wilayah, namun kedua daerah diketahuinya masih serumpun, sehingga tidak perlu ada perbedaan maupun perselisihan yang merugikan sesama. 

Sementara sesepuh adat Dayak Paser Sudirman dalam musyawarah tersebut mengucapkan terima kasih kepada bupati yang menyempatkan hadir mendengarkan keluh kesah masyarakat. Sudirman berharap dengan pertemuan ini dapat meredam amarah masyarakat adat lokal di wilayah Kabupaten Paser. 

"Mari jaga jangan sampai masalah ini nantinya justru ditunggangi oknum-oknum tak bertanggung jawab,” kata Sudirman.

Akan tetapi, satu hal yang masih sulit dicapai kesepakatan damai adalah, pernyataan Sapri, dari pihak keluarga Chandra (korban), yang menyiratkan tidak bisa menerima begitu saja musyawarah damai. Mereka tetap menginginkan polisi menghukum setimpal pada tersangka pelaku pembunuhan yang menghilangkan nyawa keluarganya. 

“Kami masyarakat Paser tidak terima dengan hilangnya nyawa keluarga kami. Dan kami memiliki hukum adat sehingga harus mengikuti hukum adat kami,” tegas Sapri.

Akhirnya, dari mediasi itu, lahir dua kesepakatan bersama:

1. Masyarakat adat Paser akan melaksanakan sidang adat yang dihadiri oleh tokoh-tokoh besar adat Dayak secara internal tanpa keterlibatan aparat hukum. 

2. Semua peserta sepakat untuk meredam amarah masyarakat adat Dayak Paser yang berada di wilayah Kabupaten Paser, khususnya Kecamatan Long Kali agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat mengganggu stabilitas keamanan serta merugikan masyarakat banyak.

Situasi Kondusif dan Upaya Penegakan Hukum

Berdasarkan pantauan RRI, keadaan sudah berangsur kondusif dan membaik pasca insiden pembakaran dan perusakan fasilitas publik oleh kelompok masyarakat lokal. 

"Kepolisian dan TNI masih berjaga di lokasi," pantauan RRI dari lokasi kejadian, Jumat (18/10/2019).

Kabid Humas Polda Kaltim Komisaris Besar Ade Yaya Suryana membenarkan bahwa situasi juga sudah berangsur kondusif di wilayah Pelabuhan Penajam Paser Utara. Ade meminta masyarakat tenang serta menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kepada kepolisian yang menurutnya akan menjerat pelaku pembunuhan sesuai ketentuan undang-undang yang berlaku (hukum positif).

Mengenai pembakaran rumah-rumah warga nelayan oleh kelompok massa, dirinya menyebutkan polisi sedang mempelajari kemungkinan pengenaan pasal melawan hukum kepada massa. 

"Aktivitas pembakaran ini bisa dikategorikan pidana perusakan dengan ancaman hukuman dua tahun penjara. Apalagi imbas peristiwa ini menyebabkan lumpuhnya aktivitas layanan publik penyeberangan pelabuhan PPU," demikian Kabid Humas Polda Kaltim.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00