• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kuliner Nusantara

Ikan Sogili Raksasa? Ikan Sidat? Begini Informasinya

7 October
19:50 2019
9 Votes (2.6)

KBRN, Jakarta : Sempat viral pada medio 2015, Ikan Sogili atau dikenal juga dengan Ikan Sidat kembali muncul lagi saat ini di WhatsApp Group (WAG). Tak diketahui di daerah mana, tapi beredar foto yang memperlihatkan dua orang pria sedang membersihkan Sogili raksasa tangkapan mereka untuk kemudian dijual dagingnya, Senin (7/10/2019).

Berhasil dihimpun dari berbagai sumber, Ikan Sogili memang ada dan menjadi makanan lezat di wilayah Poso, Sulawesi Tengah, sampai Minahasa, Sulawesi Utara. Ikan Sogili juga pernah kembali viral lewat foto mendiang teroris Poso, Santoso, pada April 2016. Santoso berfoto di tengah hutan sambil menenteng beberapa ekor Ikan Sogili ukuran medium, hasil tangkapannya untuk makan malam.

Ukuran Sogili pada umumnya memang tidak terlalu besar. Tapi di alam liar Papua, ikan sidat (Anguilla spp) atau sogili bisa memiliki berat hingga 10 kg dengan diameter seukuran paha manusia dewasa. Sementara untuk sidat hasil budidaya, biasanya hanya memiliki berat 2-3 kg per ekor. Selain Papua, sogili raksasa bisa juga ditemui di wilayah Maluku, kemudian menyebar juga ke Selandia Baru dan Australia. Dan jenis raksasa ini disebut juga Marmorata atau Anguilla Marmorata.

Mitos yang ada di Maluku, sidat raksasa atau Marmorata di sana adalah hewan gaib yang disucikan. Masyarakat di sana tidak berani menangkap apalagi sampai menjadikannya bahan makanan untuk dikonsumsi. Berdasarkan cerita mistis yang berkembang turun temurun, ikan raksasa tersebut memang kerap muncul di sungai, namun dengan cepat menghilang seketika.

Akan tetapi pendapat ilmiah coba membantahnya dengan sebuah pemahaman bahwa Marmorata tidak menghilang, akan tetapi menyelam ke dasar sungai paling dalam, kemudian bermigrasi ke laut untuk kawin. Waktu kawin Marmorata secara ilmiah diklaim saat berusia 3-5 tahun.

Sogili Ikan Konsumsi Bernilai Ekonomi Tinggi

Sebagai ikan konsumsi, sogili dikatakan melebihi salmon dan sangat baik untuk perkembangan otak anak kecil selama masa pertumbuhan. Bahkan di Banyuwangi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat berkolaborasi dengan TNI AL sampai mengembangkan kampung sidat di Dusun Jopuran, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah. 

Kampung Sidat “Sidawangi” itu diresmikan Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal) V Laksamana Pertama TNI Edwin bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang ditandai dengan tebar benih Sidat pada 25 Juli 2018 silam.

Kampung sidat ini berada di tengah areal persawahan Dusun Jopuran dan dikemas menjadi sebuah obyek wisata alam. Di kawasan tersebut, terdapat kolam-kolam sidat dengan air yang jernih. Maklum saja, airnya mengalir dari hulu pegunungan Ijen.

Di antara kolam tersebut terdapat pemandian alam hasil membendung aliran sungai di Banyuwangi. Di sekitar pemandian, penduduk juga bisa menikmati kuliner khas dusun setempat. Warung-warung di sekitar kampung yang didirikan warga itu menawarkan menu antara lain pepes sidat, abon daun singkong, dan pecel pitik.

Budidaya sidat di Banyuwangi sudah mulai banyak dikembangkan oleh warga lokal setelah dulu hanya korporasi yang mengembangkan. Dengan mulai dikembangkan lebih masif, harapan Pemkab Banyuwangi bisa mengangkat kesejahteraan warga karena nilai jual ikan sidat/sogili yang melebihi ikan air tawar lainnya.

Menu Sidat/Sogili Lezat

Teksturnya empuk dan kenyal, kaya omega 3, protein, dan vitamin, namun rendah kolesterol. Begitulah ikan sidat dalam konteks sebagai manu makanan. Ikan sidat adalah menu yang biasa dikonsumsi orang-orang tua sejak jaman dahulu, namun tak tahu kenapa menjadi kurang populer di masyarakat luas.

Akan tetapi, untuk masyarakat Poso sampai Minahasa, jangan ditanya soal menu ikan sidat ini. Masyarakat minahasa kerap membuat makanan khas 'woku belanga' dengan ikan sidat sebagai bahan baku utamanya. Ramuan rempah tradisional dan cabai, disantap dengan nasi panas, membuat woku belanga sidat menjadi kuliner keluarga mantap di Minahasa. Padahal biasanya woku belanga itu disajikan dengan bahan baku ikan kakap, tuna, atau tongkol.

Untuk di Poso, ikan sogili atau sidat ini biasa disajikan sebagai menu ikan bakar. Diramu dengan olesan bumbu rempah khas sulawesi, ditambah cabai secukupnya, pasti membuat siapapun yang mencobanya ketagihan.

Bahkan di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ikan sidat ini dibuat menjadi 'kicik sidat', tanpa kuah, dengan sensasi tiga rasa, yaitu pedas-asin-manis. Uniknya, resep kicik sidat di Bantul kabarnya turun temurun alias merupakan bumbu keluarga.

Nah, rasa penasaran akan Ikan Sogili atau Ikan Sidat sepertinya sudah terjawab. ikan sidat atau ikan sogili itu ada. Sampai yang berukuran raksasa juga memang ada di Indonesia. (Foto: KKP News) 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00