• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

Nasib Buzzer Medsos, Sumber Hoax yang Segera Ditertibkan

4 October
09:30 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Bencana bagi para buzzer di Indonesia, karena Kepala Staf Presiden (KSP), Moeldoko sudah mengemukakan bahwa semua buzzr di media sosial harus ditertibkan. Gayung pun bersambut, Institusi Polri sependapat dengan Moeldoko. Bahkan mereka memastikan telah melakukan penindakan terhadap buzzer-buzzer di media sosial. 

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan kepada wartawan, untuk kreator dan buzzer saat ini akan dipelajari fakta hukum apakah ada perbuatan melawan hukum sesuai alat bukti dan deliknya. Dari situ baru dilakukan penegakan hukum.

"Sudah dilaksanakan penegakan hukum, meskipun ultimum remedium," ujar Dedi, Kamis (3/10/2019).

Selain penegakan hukum, menurut Dedi, pihaknya juga sudah menerapkan upaya pencegahan. Salah satu pencegahan yang dilakukan yakni menjalin kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dalam memblokir akun-akun media sosial yang diduga menyebarkan hoax.

"Untuk langkah-langkah mitigasi juga secara linier sudah dilakukan dari literasi-literasi digital sampai dengan kerja sama dengan Kemkominfo memblokir akun-akun buzzer yang terbukti menyebarkan hoax dan narasi-narasi hatespeach," imbuhnya.

Kumpulan buzzer itu biasanya berisi relawan sampai pendukung fanatik. Mereka tak ingin sosok yang diidolakannya diserang orang lain. Sehingga, jika terjadi serangan terhadap tokoh idolanya tersebut, buzzer akan bereaksi cepat di media sosial dengan berbagai cara, termasuk melawan hukum sekalipun. Disinilah butuh kehadiran Polri untuk menegakkan hukum seadil-adilnya.

Untuk diketahui, senjata buzzer adalah komputer dan smartphone. Bahkan tidak jarang ia hanya menggunakan smartphone saja sebagai senjata utama merambah dunia medsos. Mereka akan mengobrak-abrik isi timeline, mencari apakah ada hal buruk yang diposting orang lain tentang tokoh idolanya. Jika ada, saat itu juga ia akan menyerang akun orang yang memposting hal tersebut dengan metode hoax atau bisa juga hanya hatespeech.

Atau dalam kondisi berbeda, semisal buzzer politisi atau pemilu. Dia akan berusaha menyebarkan hal-hal buruk, entah itu benar, hoax, atau hanya hatespeech, mengenai lawan politik atau lawan pemilu dari tokoh yang membayarnya, atau tokoh idolanya. Harapan yang diinginkan, masyarakat akan terpengaruh sehingga menganggap lawan politik atau lawan pemilu dari tokoh yang diusung si buzzer ini turun elektabilitasnya. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00