• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

Artificial Intelligence Harus Dilihat Sebagai Sarana Pendukung, Bukan Menggantikan Pekerjaan Manusia

29 September
07:58 2019
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Sebanyak 200 lulusan perguruan tinggi dan mahasiswa tingkat akhir dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia mengikuti Seminar "Masa Depan Kecerdasan Buatan di Bidang Keamanan Siber" yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bekerja sama dengan Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta.

Seminar yang digelar di Tower Kampus UMB Meruya, Jakarta Barat, pada Sabtu (28/9/2019) tersebut menghadirkan dua narasumber, masing-masing Alen Boby Hartanto, S.Kom, MM - CEO PT Sinergi Digital dan IGN Mantra, M.Kom, MM - Pengurus Academic Computer Security Incident Response Team (ACAD-CSIRT), dengan moderator Dr Wachyu Hari Haji - Dosen Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) UMB.

Dalam materinya, Alen Boby menekankan bahwa Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) hendaknya dipandang sebagai sarana pendukung (supporting tool) untuk memudahkan pekerjaan di era industri 4.0 dewasa ini.

"Bahkan, saat ini kita sendiri pun sudah banyak mengadopsi AI untuk memudahkan pekerjaan, seperti di pabrik-pabrik, autonomous vehicle, Robotic, Face Recognation, dan lain sebagainya. Kemudian yang tidak kita sadari adalah Assistant Virtual yang ada di handphone kita masing-masing seperti iOS, Siri atau Google Assistant," jelasnya.

Mengenai kekhawatiran masyarakat bahwa Artificial Intelligence bisa disalahgunakan untuk hal-hal negatif bahkan kriminal, seperti yang sedang booming belakangan ini, pidato mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dengan menggunakan teknik Deep Fake bernama Recurrent Neural Network (RNN), yang memungkinkan AI dapat menirukan mimik sintesis seorang tokoh, Alen

Boby mengakui bahwa hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan digital expert.

Untuk itulah, ia menekankan pentingnya regulasi Artificial Intelligence itu segera dibuat. Jadi, kalau sudah ada regulator yang mengatur tentang AI, maka jelas pasal-pasal mana yang akan menjerat pelaku Deep Fake tersebut.

"Regulasi AI di Indonesia memang belum ada, baru sebatas Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE). Bahkan di luar negeri pun lembaganya sedang diproses," terang Alen Boby.

Ke depannya, ia memprediksi Artificial Intelligence akan semakin berperan dalam pekerjaan sehari-hari manusia, baik di kota maupun di desa termasuk petani, nelayan, perusahaan dan industri pun dituntut menggunakan AI. Bahkan industri Perbankan dan Telco wajib hukumnya menggunakan AI untuk Risk Analysis, Predictive Correction, dan lain sebagainya. 

"Di masa yang akan datang layanan Contact Center Perbankan ataupun Telco dimungkinkan seluruhnya menggunakan jasa Robotic tanpa melibatkan unsur manusia. Namun hal ini bukan berarti AI akan menghilangkan pekerjaan manusia, namun jenis-jenis pekerjaan yang sifatnya prediktif dan repetitif itu bisa diotomasi," imbuhnya lagi.

Dr Wachyu Hari Haji dalam kapasistasnya sebagai Dosen Fasilkom Universitas Mercu Buana, melihat mahasiswa itu wajib belajar Artificial Intelligence, karena dengan semakin banyak mempelajari AI mahasiswa akan faham bahwa AI itu tujuannya bukan untuk menggantikan pekerjaan manusia melainkan supporting tool untuk memudahkan pekerjaan manusia. 

"Jadi mahasiswa dituntut untuk dapat menciptakan tools baru berdasarkan data-data yang diolah sedemikian rupa sehingga pekerjaan mereka dapat diselesaikan dengan lebih mudah dan lebih cepat. Nantinya juga akan ada penerapan-penerapan AI di bidang industri. Jadi mahasiswa jangan pernah berpikiran bahwa AI itu akan menggantikan pekerjaan mereka, tetapi berpikirlah untuk menciptakan sesuatu dengan teknologi-teknologi yang ada saat ini," pintanya.

Sementara itu, IGN Mantra dalam materinya menjelaskan banyak peluang bagi Cyber Security di Indonesia di masa depan, baik itu sebagai senjata maupun alat pertahanan negara.

Menurut dia, security secanggih apapun tetap biasa diakali oleh manusia. Ia mencontohkan dibomnya kilang minyak milik Saudi Aramco oleh gerilyawan Houthi Yaman dengan menggunakan pesawat Drone, padahal keamanan kilang minyak tersebut di darat demikian ketat.

Sementara untuk keamanan siber dalam negeri, IGN Mantra menilai yang paling rawan adalah maraknya berita-berita hoax di media sosial seperti yang terjadi di Surabaya dan Wamena, Papua, baru-baru ini.

"Yang perlu kita cermati adalah bagaimana kita bisa bertahan dari serangan hoax. Belum lagi sekarang mahasiswa sudah mulai bergerak. Asusmsi saya, mungkin mahasiswa salah menangkap informasi, padahal dari pihak pemerintah sudah menahan diri untuk meneruskan RUU KPK," ujarnya.

Di bidang militer, IGN Mantra menilai Tentara Nasional Indonesia (TNI) sudah memiliki Cyber Security yang memadai di bidang pertahanan menghadapi perang Perang Siber, namun tidak memiliki kapasitas untuk menyerang seperti negara-negara maju Amerika Serikat yang memiliki US Cyber Command dipandang sebagai angkatan militer kelima dari negara tersebut, yang kemudian diikuti oleh negara-negara lain seperti China, Rusia, Jepang dan Korea.

"Panglima TNI belum lama ini memang sudah mendeklarasikan Cyber Army yang terdiri dari berbagai angkatan baik darat, laut dan udara, namun sifatnya lebih ke arah defense daripada untuk melakukan Perang Siber terhadap negara lain," tandasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00