• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Tanggap Bencana

Palangka Raya Makin Parah, Greenpeace Gantung Pesan Buat Jokowi

22 September
16:52 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda Palangka Raya dan sekitarnya di Kalimantan Tengah (Kalteng) sudah mencapai puncak kedegilan manusia. Para pembakar lahan di sana sudah tidak lagi mengindahkan bagaimana keterkaitan lingkungan sekitar dengan kehidupan masyarakat, apalagi memiliki rasa nasionalisme dalam bentuk menjaga tanah air sendiri dengan tidak merusaknya.

Kasus terakhir dan terbesar yang menjadi public concern adalah dibakarnya hutan konservasi gambut Taman Nasional (TN) Sebangau di Palangka Raya, hanya demi membuka lahan komoditas sawit demi kepentingan para pengusaha 'hitam'.

Menyikapi bencana kemanusiaan yang mengintai dibalik pembakaran lahan dan hutan kawasan Palangka Raya, sejumlah aktivis lingkungan Greenpeace Indonesia dan Save Our Borneo melakukan aksi pembentangan spanduk raksasa di bawah Jembatan Kahayan, Palangka Raya, Kalteng, Minggu (22/9/2019). 

Dalam aksinya mereka mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) bersama Pemerintah Pusat, khususnya Presiden RI Joko Widodo mengambil langkah hukum tegas, karena apa yang terjadi di Kalteng bukan lagi kebakaran biasa, akan tetapi perbuatan kriminal yang dapat dipidanakan, yakni pembakaran hutan lindung. 

Semua pihak yang terlibat harus ditindak tegas menurut hukum dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Bahkan jika lari ke luar negeri sekalipun, para kreator atau pembakar lahan harus bisa dikejar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Spanduk raksasa yang dibentangkan Greenpeace Indonesia dan Save Our Borneo bertuliskan pesan singkat yang mewakili puncak kegeraman rakyat Kalimantan Timur kepada para pembakar lahan di sana.

"Pak Jokowi, Tegakkan Hukum Untuk Cegah Karhutla," demikian pesan yang digantung para aktivis itu di atas Sungai Kahayan, Palangka Raya, Minggu (22/9/2019).

BACA JUGA: Palangka Raya Menyala Lagi, Darurat Karhutla Sampai 30 September

Tak hanya mengancam nyawa manusia, akan tetapi pembakaran hutan di Palangka Raya juga dinilai sudah mengancam ekosistem alam yang dibangun sejak puluhan tahun sebelumnya. Bahkan mata pencaharian warga ikut menjadi korban.

Seperti diberitakan RRI sebelumnya, akibat pembakaran lahan di Palangka Raya, ternyata api mulai merambat dan perlahan ikut melumat lahan milik warga Palangka Raya, Kalteng, Minggu (22/9/2019) dini hari. 

Menyadari keadaan sangat darurat, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hingga 30 September 2019. 

Kebakaran hutan dan lahan yang dipicu oleh oknum-oknum pembakar lahan sudah meluluhtantakkan ratusan ribu hektar lahan di seluruh Kalteng. Bahkan sektor pariwisata juga harus menerima penurunan omzet, yang berimbas pada hilangnya pendapatan warga sekitar lokasi wisata untuk bisnis UMKM yang mereka jalankan.

Beberapa hari lalu, Ketua Asosiasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Indonesia, Ikhsan Ingratubun mengatakan, sektor usaha kuliner di wilayah terdampak kabut asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mengalami penurunan omzet sekitar 20 persen karena berkurangnya aktivitas warga di luar rumah.

Salah satu yang mengalami penurunan drastis adalah daerah Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Hal itu dikemukakan Ikhsan setelah memantau penurunan pengunjung di kawasan wisata kuliner Pesona Wisata Alam Air Hitam Sungai Sebangau, Dermaga Kereng Bangkirai, Palangka Raya, Kalteng, Sabtu (21/9/2019).

Belakangan ini Obyek Wisata Dermaga Kereng Bangkirai menjadi salah satu tujuan wisata yang banyak diminati wisatawan lokal, karena pemandangan dan panorama alam sekitarnya. Akses menuju obyek wisata ini berjarak kurang lebih 10 km dari Pusat Kota Palangaka Raya, dan mudah karena banyak tersedia transportasi umum untuk menuju kawasan tersebut. 

Dermaga Kereng Bangkirai merupakan pintu gerbang utama menuju kawasan Taman Nasional Sebangau yang merupakan destinasi wisata alam, wisata minat khusus, serta tempat atau lokasi penelitian gambut yang dikelola Center for International Co-operation in Sustainable Management of Tropical Peatland (Cimtrop) Universitas Palangka Raya (Unpar).

Dermaga Kereng Bangkirai dahulu merupakan tempat para atlet dayung untuk berlatih dan juga menjadi lokasi penyelenggaraan kejuaraan dayung tingkat nasional di Kalimantan Tengah. Banyak tribun tua dan usang yang direnovasi dan ditambah pondok-pondok kecil di pinggiran Sungai Sebangau. Dengan penambahan pondok-pondok kecil dan renovasi, dermaga akhirnya menjelma jadi salah satu pusat wisata yang banyak diminati wisatawan lokal maupun mancanegara.

Banyaknya wisatawan yang berkunjung dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk membuka warung-warung kecil dan juga menyediakan berbagai wahana wisata yang dapat disewa oleh para wisatawan yang berkunjung. Wahana wisata air yang ada di Dermaga Kereng Bangkirai yaitu sepeda bebek air, susur sungai, wisata ke batu ampar, dan masih banyak lagi.

BACA JUGA: Mengerikan, Begini Penampakan Karhutla di Malam Hari

Biaya yang dikenakan untuk wahana wisata tidak terlalu menguras kocek pengunjung karena harga menikmati wahana yang ditawarkan hanya berkisar Rp 5.000 sampai Rp 20.000 saja. Ada beberapa fasilitas lain seperti Gazebo, panggung berbentuk bundar dan tersedia tempat foto selfie yang dibuat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya. Selain itu juga Wisatawan juga dapat melihat dan berkunjung ke Sungai Koran untuk tracking ke dalam hutan selama kurang lebih 30 menit dan setelah itu menuju ke Batu Ampar.

Dermaga Kereng Bangkirai dapat dinikmati bersama keluarga, teman , pacar, maupun gebetan, karena memiliki spot-spot foto yang indah untuk foto bersama maupun selfi. 

Akan tetapi, semua keindahan yang ada ditawarkan Pesona Wisata Alam Air Hitam Sungai Sebangau, Dermaga Kereng Bangkirai, Palangka Raya, Kalteng, lenyap dalam sekejap pada Kamis, 19 September 2019 lalu, ketika orang-orang tak bertanggung jawab diduga kuat membakar hutan lindung kawasan Taman Nasional Sebangau. Karena segepok uang, masyarakat Kereng Bangkirai sekarang kehilangan penghasilan yang menjadi sandaran hidup mereka sehari-hari.

Bahkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng kehilangan pemasukan dari obyek wisata yang dibuka dengan susah payah bersama masyarakat setempat. Lebih jauh lagi, Pemerintah Indonesia kehilangan aset wisata nasional yang sangat dibanggakan.

Wisatawan pengguna jasa wisata Susur Sungai Sebangau anjlok. Hanya satu atau dua orang saja yang kini datang dan menggunakan jasa perahu hias milik penduduk setempat. Penyebabnya, selain kabut asap pekat dari pembakaran hutan Taman Nasional Sebangau, juga kemarau panjang yang membuat air sungai yang khas berwarna hitam mengalami penyusutan. Namun penyebab terbesar adalah akibat asap Karhutla, wisatawan enggan datang.

Saat ini, tak ada pilihan lain bagi penduduk pemilik perahu susur sungai selain menambatkan perahu kayu hias milik mereka di pinggir sungai sambil menunggu kabut asap memudar. Entah kapan itu menjadi kenyataan, tak satupun bisa menjawabnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00