• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Tanggap Bencana

Taman Nasional Sebangau Dibakar, Omzet Warga Kereng Bangkirai Anjlok

21 September
22:07 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Ketua Asosiasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Indonesia, Ikhsan Ingratubun mengatakan, sektor usaha kuliner di wilayah terdampak kabut asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mengalami penurunan omzet sekitar 20 persen karena berkurangnya aktivitas warga di luar rumah.

Salah satu yang mengalami penurunan drastis adalah daerah Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Hal itu dikemukakan Ikhsan setelah memantau penurunan pengunjung di kawasan wisata kuliner Pesona Wisata Alam Air Hitam Sungai Sebangau, Dermaga Kereng Bangkirai, Palangka Raya, Kalteng, Sabtu (21/9/2019).

Dermaga Kereng Bangkirai Pintu Menuju Taman Nasional Sebangau

Belakangan ini Obyek Wisata Dermaga Kereng Bangkirai menjadi salah satu tujuan wisata yang banyak diminati wisatawan lokal, karena pemandangan dan panorama alam sekitarnya. Akses menuju obyek wisata ini berjarak kurang lebih 10 km dari Pusat Kota Palangaka Raya, dan mudah karena banyak tersedia transportasi umum untuk menuju kawasan tersebut. 

Dermaga Kereng Bangkirai merupakan pintu gerbang utama menuju kawasan Taman Nasional Sebangau yang merupakan destinasi wisata alam, wisata minat khusus, serta tempat atau lokasi penelitian gambut yang dikelola Center for International Co-operation in Sustainable Management of Tropical Peatland (Cimtrop) Universitas Palangka Raya (Unpar).

BACA JUGA: Sebagian Lahan Taman Nasional Sebangau Ludes Dibakar Orang Tak Dikenal

Dermaga Kereng Bangkirai dahulu merupakan tempat para atlet dayung untuk berlatih dan juga menjadi lokasi penyelenggaraan kejuaraan dayung tingkat nasional di Kalimantan Tengah. Banyak tribun tua dan usang yang direnovasi dan ditambah pondok-pondok kecil di pinggiran Sungai Sebangau. Dengan penambahan pondok-pondok kecil dan renovasi, dermaga akhirnya menjelma jadi salah satu pusat wisata yang banyak diminati wisatawan lokal maupun mancanegara.

Banyaknya wisatawan yang berkunjung dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk membuka warung-warung kecil dan juga menyediakan berbagai wahana wisata yang dapat disewa oleh para wisatawan yang berkunjung. Wahana wisata air yang ada di Dermaga Kereng Bangkirai yaitu sepeda bebek air, susur sungai, wisata ke batu ampar, dan masih banyak lagi.

Biaya yang dikenakan untuk wahana wisata tidak terlalu menguras kocek pengunjung karena harga menikmati wahana yang ditawarkan hanya berkisar Rp 5.000 sampai Rp 20.000 saja. Ada beberapa fasilitas lain seperti Gazebo, panggung berbentuk bundar dan tersedia tempat foto selfie yang dibuat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya. Selain itu juga Wisatawan juga dapat melihat dan berkunjung ke Sungai Koran untuk tracking ke dalam hutan selama kurang lebih 30 menit dan setelah itu menuju ke Batu Ampar.

Dermaga Kereng Bangkirai dapat dinikmati bersama keluarga, teman , pacar, maupun gebetan, karena memiliki spot-spot foto yang indah untuk foto bersama maupun selfi. 

Pembakar Hutan dan Lahan Merenggut Segalanya

Akan tetapi, semua keindahan yang ada ditawarkan Pesona Wisata Alam Air Hitam Sungai Sebangau, Dermaga Kereng Bangkirai, Palangka Raya, Kalteng, lenyap dalam sekejap pada Kamis, 19 September 2019 lalu, ketika orang-orang tak bertanggung jawab diduga kuat membakar hutan lindung kawasan Taman Nasional Sebangau. Karena segepok uang, masyarakat Kereng Bangkirai sekarang kehilangan penghasilan yang menjadi sandaran hidup mereka sehari-hari.

Bahkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng kehilangan pemasukan dari obyek wisata yang dibuka dengan susah payah bersama masyarakat setempat. Lebih jauh lagi, Pemerintah Indonesia kehilangan aset wisata nasional yang sangat dibanggakan.

BACA JUGA: Suara Hati Sebangau sampai Pelalawan, Keikhlasan Melawan Kedegilan

Wisatawan pengguna jasa wisata Susur Sungai Sebangau anjlok. Hanya satu atau dua orang saja yang kini datang dan menggunakan jasa perahu hias milik penduduk setempat. Penyebabnya, selain kabut asap pekat dari pembakaran hutan Taman Nasional Sebangau, juga kemarau panjang yang membuat air sungai yang khas berwarna hitam mengalami penyusutan. Namun penyebab terbesar adalah akibat asap Karhutla, wisatawan enggan datang.

Saat ini, tak ada pilihan lain bagi penduduk pemilik perahu susur sungai selain menambatkan perahu kayu hias milik mereka di pinggir sungai sambil menunggu kabut asap memudar. Entah kapan itu menjadi kenyataan, tak satupun bisa menjawabnya.

Pemadaman Taman Nasional Sebangau Masih Berlangsung

Taman Nasional (TN) Sebangau, Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) terbakar ludes seluas lebih kurang 20 hektar pada Kamis, 19 September 2019 lalu. Melalui foto udara saat itu, nampak begitu luar biasa api melahap kawasan konservasi hutan lindung tersebut seolah sedang dibuka menjadi lahan siap tanam.

Pemadaman berlangsung selama tiga hari dan belum padam seluruhnya hingga Sabtu (21/9/2019).

Personel regu pengendalian Pembakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus berupaya sekuat tenaga sejak Kamis lalu, berharap jika pemadaman dan pengairan terus dilakukan, akan mengurangi titik api di lahan hutan gambut TN Sebangau.

Meski begitu, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Sabtu, 20 September 2019, pukul 16.00 WIB kemarin, tercatat masih ada 499 titik panas (hotspot) berada di Kalimantan Tengah, sebagian besar disebabkan pembakaran Taman Nasional Sebangau yang diduga kuat hasil ulah oknum tak bertanggung jawab.

Para anggota regu pengendalian kebakaran hutan dan lahan tak kenal lelah terus memeras keringat guna mencegah api melahap seluruh area hutan. Hingga hari ini, tercatat sudah beberapa titik api yang dapat dikendalikan sejak Jumat kemarin.

BACA JUGA: Pemadaman Kebakaran Hutan Taman Nasional Sebangau Terus Dilakukan

Seperti diberitakan RRI sebelumnya, Kepala Seksi Pengelolaan TN Sebangau wilayah III Katingan, Ferie Ariessandy mengatakan, sebagian kawasan TN Sebagau wilayah III di Kabupaten Katingan dilaporkan terbakar sepanjang musim kemarau 2019 ini. 

Selain kawasan resort Mendawai Kecamatan Mendawai, wilayah yang dilahap api juga mencakup empat hektar bagian resort Baun Bango, Kecamatan Kamipang.

"Tapi resort Baun Bango itu sudah berhasil dipadamkan," kata Ferie kepada wartawan di lokasi kejadian, Kamis (19/9/2019).

Walau belum mengetahui pasti penyebab kebakaran, namun Ferie meyakini, ada ulah tangan-tangan tak bertanggung jawab dibalik tragedi lingkungan hidup terbesar di Kalteng ini. Pasalnya, kawasan yang terbakar ini tidak jauh dari perbatasan dengan kawasan TN Sebangau wilayah I Palangka Raya.

"Setelah kami periksa lokasi saat pemadaman kemarin, ada dua buah pondok semi permanen di dekat areal terbakar yang masuk kawasan TN Sebagau wilayah III Katingan itu. Dan ada jalan setapak yang tembus sampai km 24 Jalan Tjilik Riwut Palangka Raya," ungkapnya.

Artinya, ada orang-orang yang membuka jalan setapak menuju TN Sebangau, namun belum diketahui maksud dan tujuannya. Akan tetapi dengan kebakaran ini, semua seolah menjadi terang benderang.

"Dugaan kami ada warga yang sengaja (dibayar korporasi) untuk membakarnya," tandas Ferie.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00