• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sosok

Krisna Bayu, Tangan Dingin dan Transparan Pimpin Sambo Indonesia

21 September
20:42 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau, 2012 adalah penutup karir bagi judoka andalan Indonesia, Krisna Bayu. Dalam enam periode penyelenggaraan PON di Indonesia, pria yang karib disapa Bayu ini menjadi momok menakutkan bagi para judoka nasional lainnya, khususnya kelas 100kg. Mereka seolah terintimidasi sejak awal dengan kehadiran atlet yang dijuluki beberapa media dengan sebutan 'raksasa dari semarang' ini. 

Sejak menggantikan era mendiang pejudo legendaris Indonesia Ceto Cosadek, nama  Bayu terus mengembara dari matras ke matras di kejuaraan Judo Nasional, Asia Tenggara, Asia, sampai Internasional. Medali emas SEA Games Kuala Lumpur 2001, medali perunggu Kejuaraan Asia Almaty, Kazakhstan 2004, dan medali perunggu Sea Games Palembang 2011, merupakan kenangan berkesan bagi Bayu. Itu belum lagi dengan keikutsertaannya dalam tiga edisi olimpiade, yakni Atlanta 1996, Sidney 2000, dan Athena 2004.

Tapi ada satu kejuaraan yang boleh dikatakan mengubah kehidupan Bayu sampai sekarang, yaitu ketika ia menyabet medali emas Asian Martial Art Games 2009 yang berlangsung di Bangkok. Mengapa ini mengubah hidup Bayu?

Setelah pensiun sebagai atlet judo, nama Bayu seolah menghilang. Tapi mendadak muncul sebagai Ketua Umum (Ketum) Pengurus Pusat Persatuan Sambo Indonesia (PP Persambi) periode 2017-2022 dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Persambi di Jakarta, Sabtu, 25 November 2017 silam.

BACA JUGA: Jelang Sea Games, Tim Sambo Indonesia Butuh Sparing Partner Sepadan

Pengalaman sebagai atlet judo selama belasan tahun, Krisna Bayu mengemas perjalanan karir dalam mengikuti kejuaraan dari PON, Sea Games, Asian Games, dan Olimpiade, ditambah kejuaraan-kejuaraan bertaraf Internasional lainnya menjadi program-program pembinaan berkualitas bagi para atlet Sambo Indonesia.

Untuk diketahui, Sambo merupakan martial art dengan fokus hybrid martial art, seni bela diri yang berkembang di Uni Soviet sejak 1920-an. Sampai suatu ketika ada lembaga riset bela diri mempelajari, mengambil sari ajarannya, kemudian mengajarkannya kepada para prajurit pasukan khusus (pasukan merah) Uni Soviet sebagai olahraga tempur. Jika diartikan, kata 'Sambo' secara harfiah adalah "pertahanan diri tanpa senjata".

Pada 2018 silam, seorang petarung asal Rusia bernama Khabib Nurmagomedov, membuat heboh jagad UFC setelah berhasil mengalahkan salah satu legenda kejuaraan tersebut, Connor Mc Gregor. Sontak, nama Khabib langsung terkenal seantero jagad, tak terkecuali di Indonesia. Selidik punya selidik, ternyata Khabib merupakan petarung yang tercatat memiliki latar belakang seni bela diri Sambo.

Kalau mau lihat sejarahnya, Profesional Martial Art pertama di dunia itu Sambo. Bahkan atlet juara UFC MMA itu mantan juara Sambo semua. Sehingga, dengan mengambil semua kenyataan sejarah yang ada, ditambah pengalaman malang melintang di atas matras judo keliling dunia, Krisna Bayu coba membina semua Pengprov Persambi di Indonesia.

Sebagai Ketua Umum, Bayu juga turut memperbaiki sistem turnamen khususnya Kejurnas, guna menjaga regenerasi atlet sampai kualitas Sambo Indonesia sebagai salah satu olahraga yang terhitung baru dan belum terlalu dikenal luas masyarakat. Para atletnya juga banyak datang dari background cabang olahraga berbeda, semisal dari judo, kickboxing, muay thai, sampai gulat.

BACA JUGA: Krisna Bayu : Dana TC Uzbekistan Tim Sambo Sudah Disetujui Menpora

Hasil terbaru dari tangan dingin Bayu dalam meramu program latihan adalah, dalam kejuaraan dunia yang berlangsung di Korea Selatan pada 1-6 September 2019, kontingen Sambo Indonesia berhasil mengamankan satu medali perak, dan satu medali perunggu. Dan baru-baru ini, pada kejuaraan Sambo se-Asia di India, 11-16 September 2019, atlet Indonesia berhasil meraih tiga medali emas, satu perak, dan tiga perunggu. Salah satu atlet andalan yang meraih medali emas adalah Ridha Wahdhaniyati Ridwan, yang tampil di kelas Women Sports 80 kg.

Dalam sebuah kesempatan, Bayu membagikan tips bagaimana hingga ia bisa menyatukan seluruh pengurus Persambi dari pusat sampai daerah dalam mencetak atlet-atlet handal.

"Kalau saya prinsipnya memberi kesempatan, ayo siapa rebutan, siapa yang bisa organisasi ayo sama-sama agar tongkat estafet kepengurusan bisa bagus karena kepengurusan yang bagus pasti bisa melahirkan atlet-atlet juara," ujar Krisna Bayu kepada rri.co.id, di Gedung Pusat Pemberitaan RRI, Jakarta Pusat, Sabtu (21/9/2019).

Selain itu, dirinya mengedepankan keterbukaan dalam kepengurusan PP Persambi. Artinya, menurut Bayu, dari program latihan, penerimaan sponsorship, penanganan atlet, sampai masuk-keluar anggaran juga dibuka transparan kepada semua pengurus termasuk atlet itu sendiri. Dengan begitu, kata Bayu, atlet nantinya percaya kepada pengurus dan hanya memikirkan prestasi saja tanpa khawatir akan hal-hal lainnya.

Namun demikian, ada satu hal yang menarik, ketika salah satu atlet andalan Sambo Indonesia yang meraih medali emas Kejuaraan Asia kelas Women Sports 80 kg di India, yaitu Ridha Wahdhaniyati Ridwan, coba mendeskripsikan sosok Krisna Bayu kepada RRI.

BACA JUGA: Sekjen PP Persambi : Target Internal Sambo 2-3 Emas Sea Games

Menurut Ridha, Bayu bisa menjelma menjadi tiga sosok sekaligus di mata para atlet. Ketum PP Persambi itu bisa menjadi senior yang mengayomi para atlet muda, sparing partner yang baik, serta sosok pelindung bagi semua atlet. Terlebih cara Bayu mengedepankan transparansi anggaran, menjadi hal penting yang membuatnya mendapat tempat di hati atlet.

"Iya sih, Ketum cabang olahraga yang ikut latihan mandi keringat bareng atlet ya cuma saya," kata Bayu.

Ketika ditanya mengapa namanya seolah menghilang dari dunia judo sejak pensiun lalu tiba-tiba 'berganti baju' menjadi pengurus Sambo, Bayu menanggapinya sedikit politis.

"Dalam sebuah kepengurusan, mungkin saya belum ingin terlibat di organisasi judo. Bukan berarti organisasi itu tidak mencintai saya. Saya tidak meninggalkan judo, (tetap) ada kesempatan (untuk) judo," ujar Bayu.

Menutup perbincangan, dirinya berterima kasih kepada semua pihak baik masyarakat maupun media yang terus ingat akan dirinya sampai saat ini. Dan itu menjadi pemacu semangat untuk terus membawa Sambo Indonesia sampai ke level tertinggi baik nasional maupun Internasional. Ia menegaskan tidak pernah melupakan judo yang sudah membesarkan namanya, akan tetapi adalah takdir kehidupan yang membawanya memimpin PP Persambi.

"Tahun depan kami akan menggelar Asia Championship di Bali. Semua petarung dari penjuru (seluruh) Asia datang bertarung di Bali. Tunggu saja," pungkasnya mengakhiri perbincangan.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00