• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Tanggap Bencana

Suara Hati Sebangau sampai Pelalawan, Keikhlasan Melawan Kedegilan

21 September
14:04 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Personel regu pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Taman Nasional (TN) Sebangau, Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), masih terus berupaya memadamkan titik-titik api yang tersisa dari pembakaran hutan gambut di sana sejak Jumat kemarin hingga Sabtu (21/9/2019).

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 20 September pukul 16.00 WIB tercatat 499 titik panas berada di Kalimanta Tengah, termasuk yang ada di Taman Nasional Sebangau.

Oleh karena itu, sesuai SOP pemadaman yang dimiliki, usai memadamkan kobaran api, lantas menjinakkan titik api, langkah selanjutnya adalah mencegah titik panas atau hotspot agar tidak berubah menjadi titik api yang dapat berubah jadi kobaran api lalu membakar sisa-sisa ranting maupun akar pohon. Terlebih TN Sebangau sebagian besar merupakan lahan hutan gambut, pastinya sulit sekali menanganinya jika api sudah menyala.

Kepala Seksi Pengelolaan TN Sebangau wilayah III Katingan, Ferie Ariessandy sudah menemukan indikasi kuat bahwa pembakaran dilakukan oknum manusia. Hal itu mengemuka setelah tim penyelidikan TN Sebangau menemukan dua buah pondok semi permanen di dekat areal terbakar yang masuk kawasan TN Sebagau wilayah III Katingan itu. Dan ada jalan setapak yang tembus sampai km 24 Jalan Tjilik Riwut Palangka Raya. 

BACA JUGA: Pemadaman Kebakaran Hutan Taman Nasional Sebangau Terus Dilakukan

Artinya, ada orang-orang yang membuka jalan setapak menuju TN Sebangau, namun belum diketahui maksud dan tujuannya. Akan tetapi dengan kebakaran ini, semua seolah menjadi terang benderang.

"Dugaan kami ada warga yang sengaja (dibayar korporasi) untuk membakarnya," tandas Ferie, Kamis (19/9/2019).

Ulah oknum-oknum tak bertanggung jawab yang rela dibayar para pengusaha perkebunan sawit untuk membakar lahan hingga mengorbankan Taman Nasional Sebangau kebanggaan rakyat Kalteng itu memang sangat menyedihkan. 

Satu hal yang tak terpikir para oknum tersebut adalah, bencana besar yang mereka bawa demi sejumlah uang itu telah mengorbankan keringat dan peluh saudara-saudara sendiri, yakni para personel penanggulangan kebakaran hutan TN Sebangau.

Keikhlasan Melawan Kedegilan Manusia

Tertangkap kamera, beberapa anggota regu penanggulangan Karhutla nampak kelelahan bermandi keringat dan air setelah memadamkan satu titik api di tengah hutan yang terbakar habis, Sabtu (21/9/2019).

Sudah sejak Kamis, 19 September 2019, puluhan pria pemberani berjuang di tengah api dan asap hanya demi memadamkan sekaligus mencegah agar kebakaran yang disebabkan tangan-tangan saudaranya sendiri itu membakar seluruh area Taman Nasional Sebangau. 

Semua dilakukan ikhlas dengan mengorbankan waktu dan meninggalkan keluarga, yakni isteri dan anak-anak di rumah. Memang ini sudah tugas, tapi apabila menanggulangi apa yang disebabkan orang-orang yang sebenarnya senasib sepenanggungan dalam menjalankan amanat mempertahankan setiap inchi tanah Kalteng dari bahaya maupun bencana, sepertinya agak menyekitkan. Bahkan bukan tidak mungkin, mengingat sekecil apapun kesalahan yang dilakukan saat pemadaman, sekecil apapun salah perhitungan, nyawa taruhannya.

Akan tetapi, semua risiko kerja dan tugas seolah terlupakan. Terutama ketika tiba waktu istirahat setelah kerja keras memadamkan api, para petugas nampak sejenak memanfaatkannya untuk sekedar membayangkan apa yang dilakukan anak, isteri, dan sanak keluarga di rumah masing-masing.

BACA JUGA: Sebagian Lahan Taman Nasional Sebangau Ludes Dibakar Orang Tak Dikenal

Momen terbaik seperti yang diabadikan fotografer Hafidz Mubarak adalah saat para petugas masih sempat bercanda dengan sesama anggota lainnya setelah sama-sama berhasil memadamkan api. Miris memang, mengingat betapa besar bencana yang baru saja mereka tanggulangi, tapi di sisi lain ada manusia bergelimang uang dari hasil menyulut bencana.

Selesai istirahat sejenak, apakah para personel penanggulangan Karhutla bisa pulang menengok keluarga? Tentu tidak. Karena sehabis beristirahat, mereka bergerak kembali, menggulung selang air, kemudian pindah ke titik panas maupun titik api berikutnya di area Taman Nasional Sebangau.

Sebelumnya, RRI juga menangkap hal serupa di belahan Provinsi lain, yakni Riau. Hamdani, adalah salah seorang personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pelalawan.

Dirinya mengatakan, dari semua kendala yang dihadapi di lapangan, yang paling sulit itu yakni harus jauh dari istri dan anak-anak. Hal itu harus dijalani karena dalam melakukan tugas pemadaman tidak pasti waktunya.

BACA JUGA: Jauh dari Keluarga, Duka yang Harus Ditanggung Personil Pemadam Karhutla

"Kami di lapangan ini tidak tahu sampai kapan. Pernah sampai satu bulan. Jadi selama bertugas harus rela dan ikhlas berpisah dengan istri dan anak-anak," ujarnya kepada Radio Republik Indonesia (RRI), Sabtu (21/9/2019).

Pernah suatu ketika, kenang Hamdani, saat dirinya harus memadamkan api, tiba-tiba dapat kabar dari rumah anaknya sakit. Tetapi ia tidak bisa mendampingi sang buah hati dan itu membuatnya sedih. Namun tugas harus tetap dilaksanakan sampai tuntas.

"Pernah saat saya di lapangan sedang memadamkan (api), dapat telepon dari istri kalau anak sedang sakit. Tapi waktu itu saya tidak bisa mendampinginya. Sedih rasanya, tapi mau bagaimana lagi? Tugas harus tetap dilaksanakan," ucap Hamdani.

Hamdani dan personel penanggulangan Karhutla Pelalawan, Riau lainnya di lapangan lantas berharap hujan segera mengguyur Provinsi Riau, agar api yang membakar dapat segera padam.

"Saya harap hujan turun, agar api dapat segera padam," pungkasnya. 

BACA JUGA: Suara Lantang Tak Patah Arang, #SaveKalimantan #SaveSumatera

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00