• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Info Publik

Startup Diingatkan Risiko Bubble dan Money Illusion dalam Bisnis Digital

19 September
18:52 2019
0 Votes (0)

KBRN, Yogyakarta : Deputi bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama, Kemenko PMK, Agus Sartono, mengingatkan bahwa industri startup (perusahaan rintisan) dapat saja memunculkan risiko bubble dan money illusion dalam praktik bisnis digital.

Pernyataan tersebut disampaikan Agus pada Rapat Senat Terbuka dalam rangka Peringatan Puncak Dies Natalis ke-64, Kamis Pagi (19/9/2019), di Auditorium Pusat Pembelajaran FEB UGM, Bulaksumur, DI Yogyakarta, dan dipimpin Ketua Senat Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Prof. Marwan Asri. 

Agus berkesempatan menyampaikan orasi ilmiah bertajuk: “Bisnis Digital: Tren dan Perubahan Lanskap Keuangan”, dihadiri para guru besar, dosen, mahasiswa, alumni, tenaga kependidikan, dharma wanita dan mitra FEB UGM.

“Bisnis digital merupakan tren di kalangan masyarakat namun terdapat risiko yang tidak disadari oleh masyarakat dan juga investor terutama terkait dengan penilaian perusahaan semacam ini. Konsep penilaian bisnis yang diajarkan di sekolah bisnis nampaknya perlu dikaji lagi apakah masih sesuai dan dapat diterapkan untuk menilai perusahaan-perusahaan teknologi?” ujar Agus dalam orasinya. 

Selain itu, Agus juga menekankan perlunya kewaspadaan baik imbas maupun risiko yang akan dialami seiring bertumbuhnya aneka model bisnis digital. 

“Akses kemudahan permodalan atau pinjaman dari perusahaan Fintech misalnya, tentu dapat mengancam keuntungan yang diperoleh dari layanan perbankan konvensional, baik sebagai layanan jasa perbankan maupun kredit. Masyarakat juga perlu diedukasi bahwa kemudahan pinjaman itu tidak dipergunakan utk konsumsi tetapi untuk kebutuhan usaha misalnya,” papar Agus yang ditemui media usai acara. 

Kewaspadaan itu secara keseluruhan tentu akan dampak meluas bagi perekonomian negara dan masyarakat. 
“Pelajaran dari perusahaan  rintisan yang mampu bertahan dan menguntungkan adalah dengan adanya inovasi yang mampu mengubah peta persaingan, menciptakan segmen pasar baru, menciptakan produk yang tidak pernah ada sebelumnya, dan menciptakan  proses yang sama sekali baru dan lebih efisien,” tambah Agus lagi.

Dalam orasi ilmiahnya ini, Agus justru mengungkapkan kerisauannya terhadap model penilaian perusahaan. Selama ini, menurutnya, corporate value dapat diukur menggunakan discounted cash flow model; multiple model; atau menggunakan option pricing model. Discounted cash model pada dasarnya dilakukan dengan cara free cash flow diukur nilainya sekarang menggunakan discount rate. Model ini mensyaratkan adanya free cash flow yang positif. Persoalan muncul karena begitu banyak bisnis digital yang bahkan belum membukukan laba, tetapi nilai perusahaannya sangat tinggi.

Pendekatan kedua menggunakan pembanding perusahaan sejenis. Hanya saja kesulitan yang sering muncul adalah bagi bisnis digital, start up maupun fintech sulit dicari perusahaan pembanding. Pendekatan lain yakni menggunakan option pricing model. Karena perusahaan pada prinsipnya dapat dipandang sebagai portfolio aset atau portfolio liabilities/equity. Dari perspektif investor ekuitas, nilai perusahaan dapat diukur dengan option pricing model. Nilai perusahaan dikatakan in the money jika lebih tinggi dari exercise price dan sebaliknya.

Terlepas dari model penilaian yang digunakan, Agus mengingatkan risiko dan potensi terjadinya bubble. Selain itu Agus mewanti-wanti agar tidak terjadi money illusion, di mana perusahaan gagal menghasilkan free cash flow yang positif. Kegagalan tersebut dapat saja disebabkan karena bisnis digital tidak mampu melakukan monetisasi user ataupun pelanggannya.

Agus juga mengingatkan potensi bubble fintech terlebih yang sudah menjadi unicorn ataupun decacorn. Jika angle investor justru didominasi oleh asing, bisa jadi dengan mudah repatriasi laba keluar negeri dan berdampak buruk terhadap neraca pembayaran. Hal lain yang perlu diantisipasi adalah bahwa angle investor dapat dengan mudah keluar dari bisnis digital. Apabila bisnis digital tersebut menyangkut user atau masyarakat luas, dampak negatif akan sangat besar.

Mengakhiri orasi ilmiah, Agus sebagai Guru Besar Bidang Keuangan justru mengajukan pertanyaan untuk dikaji lebih lanjut, "Masih relevankah materi pembelajaran selama ini? Masih tepatkan model discounted dalam corporate valuation?"

Meski potensi risiko bisnis digital, startup dan fintech sangat tinggi, Agus masih optimis bahwa bubble yang pernah terjadi di negara lain masih belum tentu terjadi di Indonesia. Namun demikian perlu diwaspadai krn sewaktu-waktu dapat saja terjadi.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00