• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Peneliti: DPR dan Pemerintah Ingin KPK "Garang" atau Jadi "Anak Manis"?

18 September
02:40 2019
1 Votes (1)

KBRN, Jakarta : Keinginan DPR RI dan pemeritah dalam membuat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) "garang" terhadap kasus korupsi dipertanyakan. Sebab dengan kewenangan yang "dikebiri" bukan tidak mungkin KPK menjadi "anak manis".

Peneliti Transparansi Internasional Indonesia, Wawan Heru Sudjatmiko menilai ada beberapa pasal di Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2019 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU KPK) seolah-olah "mengebirikan" kewenangan komisi anti rasuah. Pengebirian itu kata dia bukan tidak mungkin akan menjadi bumerang bagi agenda pemberantasan korupsi di negeri ini.

"Ini yang menjadi pertanyaan juga. Apakah ketika kewenangan KPK yang "dikebiri" sedemikian rupa bisa menjadi bumerang juga," katanya saat berbincang dengan Radio Republik Indonesia, Selasa (17/9/2019).

Pasalnya menurut dia, undang-undang yang baru itu bisa menggoyahkan independensi KPK sebagai lembaga. Misalkan terkait penyidik harus meminta izin ke dewan pengawas untuk melakukan penyadapan dan penyitaan. Sementara, dewan pengawas sendiri nantinya akan ditunjuk oleh Presiden.

"Bagaimana mungkin sebuah penegakan hukum yang tidak independen akan mengusut kasus besar lagi. Ini menjadi pertanyaan kemudian begitu," ujarnya.

Padahal, lanjut dia, bukan tidak mungkin nantinya KPK akan mengusut kasus dugaan korupsi yang melibatkan birokrasi tingkat tinggi.

"Bagaimana kalau misalkan ini permasalahan melibatkan birokrasi tingkat tinggi, conflict of interest-nya nanti pasti akan keluar dong. Hal-hal seperti ini sebenarnya juga menjadi pertanyaan juga buat publik," tandasnya.

"Pemerintah dan DPR ini mengharapkan KPK nanti seperti apa, yang memang garang untuk menghajar koruptor atau KPK yang menjadi anak manis ketika melakukan penegakan hukum," pungkasnya. (Foto: Antara)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00