• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Menkes Kritisi Penanganan Korban Terdampak Kabut Asap di Pekanbaru

17 September
17:49 2019
0 Votes (0)

KBRN, Pekanbaru : Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek, Selasa (17/9/2019) usai meninjau korban kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Puskesmas Rumbai Pesisir dan Puskesma Sidomulyo, Posko Korban kabut asap di kantor Dinas Sosial Provinsi Riau, rumah singgah di Jalan Gajah Mada Pekanbaru dan ruangan kantor Dinas PUPR Provinsi Riau mengkiritis penanganan terhadap korban atau warga yang terdampak kabut asap, yang belum sesuai dengan standar kesehatan.

Kepada RRI di sela-sela kunjungan tersebut, Menteri Kesehatan Nila Moeloek memastikan kurangnya pengetahun tata cara menghindari asap, sebagaimana dengan rumah singgah dan posko kesehatan yang didirikan.

"Kalau seperti ini ruangannya maka kabut asap masih bisa masuk karena ruangan yang disediakan tidak tertutup, sehingga partikel asap masih bisa masuk, saya mengusulkan agar didirikan satu rumah atau satu ruangan yang tertutup sebagai tempat penampungan korban kabut asap," ungkapnya.

Menurutnya, sebab jika korban pindah ke rumah singgah tetapi tetap menghirup kabut asap maka persoalannya tetap sama.

"Hanya beberapa posko yang bisa dijadikan tempat penanganan yang baik, yaitu rumah jabatan Asisten II Setdaprov Riau dan ruang tertutup milik kantor dinas PUPR. Karena selain ruangan tertutup juga disediadakan ruangan pendingin udara, sehingga korban juga diberikan pengobatan secara baik dan benar, termasuk memberikan oksigen," urainya.

Diakui, akibat kebakaran hutan dan hutan yang diperkirakan jutaan orang terpapar asap dan terkena infeksi saluran pernapasan akut, di sejumlah provinsi di Indonesia, dirinya mempertimbangan untuk menetapkan darurat kesehatan terutama di daerah yang terkena dampak kebakaran hutan mengalami sebagai darurat kesehatan.

"Saya akan bahu-membahu bersama kementerian lainnya mengerahkan semua bantuan yang tersedia. Selain masker dan obat-obatan, juga sudah disiapkan rumah-rumah singgah dan berbagai alat penjernih udara," tambahnya.

Selama ini yang menjadi dasar bagi kemenkes adalah jika ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) di atas 50 maka tidak direkomendasikan untuk keluar dari rumah, IPSU di atas 200 tidak sehat dan berisiko bagi anak di bawah 12 tahun.

"Laporan yang diterima beragam, namun hal terpenting adalah penanganan dan penanggulangan agar jangan sampai ada yang meninggal karena kurang cepat mendapat pelayanan atau penanganan," katanya.

Selaku kementerian kesehatan pihaknya akan mengkoordinasikan langkah dan upaya agar korban terdampak mendapatkan layanan kesehatan, sebagi akibat bencana kabut asap akibat Karhutla. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00