• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Budaya dan Wisata

Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto Resmi Jadi Warisan Dunia

16 September
23:37 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Setelah melalui proses panjang sejak 2001 atau tepat 18 tahun setelahnya, UNESCO akhirnya secara resmi menetapkan tambang batubara Ombilin Sawahlunto, di Sumatera Barat, sebagai warisan dunia.

Penetapan tersebut sebagai hasil dari Pertemuan Komite Warisan Dunia di kota Baku, Azerbaijan ke - 43 pada 6 Juli 2019.

Senin (16/9/2019), penyerahan sertifikat asli penetapan dari UNESCO itupun dilakukan langsung oleh Dirjen Multilateral, kementerian luar negeri RI, Febrian Ruddyard, kepada dirjen Kebudayaan kementerian pendidikan dan kebudayaan, Hilmar Farid.

Sebelumnya, 23 Agustus 2019, Duta Besar RI di Perancis yang juga merupakan perwakilan tetap RI di UNESCO, Arrmanatha Nasir, telah menyerahkan sertifikat asli tersebut kepada menteri luar negeri, Retno Marsudi.

Dirjen Multilateral, Febrian Ruddyard mengatakan, penetapan tambang batubara Ombilin Sawahlunto sebagai warisan dunia, merupakan suatu "aset" dari diplomasi budaya Indonesia, yang bermanfaat bagi posisi Indonesia di mata dunia.

“Ini adalah satu aset. bagi diplomasi budaya kita ini salah satu upaya untuk mengumpulkan bukan hanya dari kuantitas tapi juga adalah sebuah aset. Kapan kita pakai?, ini sangat kontekstual. Misalnya, kita maju di Dewan Keamanan, kita maju untuk Dewan HAM, jadi ini adalah bagian dari aset-aset Indonesia yang kita bisa tunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang cukup matang untuk melakukan hal-hal inovatif,” ungkap Febrian Ruddyard ketika memberikan penjelasan kepada wartawan, Senin (16/9/2019), di Jakarta.

Selain, Febrian juga menekankan, bahwa penetapan sebagai warisan dunia itu juga merupakan keberhasilan dari sinergitas seluruh pihak bahkan dari tahun 2001 lalu.

“Ini adalah bagian dari diplomasi kebudayaan. dan ini merupakan sinergi dimana upaya bersama seluruh bangsa. Saya bermimpi ini akan menjadi role model kita bagi diplomasi-diplomasi yang lain,” imbuhnya.

Dirjen Kebudayaan kementerian pendidikan dan kebudayaan, Hilmar Farid, mengatakan, pihaknya berencana menyerahkan salinan sertifikat penetapan warisan dunia oleh UNESCO pada Oktober mendatang, kepada pemerintah provinsi Sumatera Barat, PT. Bukit Asam serta pemerintah 5 kabupaten/kota.

“Oktober ini semoga bisa berlangsung pertemuan PT bukit asam sebagai pemiliki situs, pemerinta provinsi, 5 kabupaten/kota. Yang termasuk warisan dunia itu adalah 48 bangunan di Sawahlunto, trayek kereta api, yang dilalui oleh 5 kab/kota,” jelas Hilmar.

Hilmar memaparkan, sebagai upaya pemeliharaan tambang batubara Ombilin Sawahlunto selanjutkan akan diikuti dengan pembentukan Badan Pengelola khusus.

“Akan bentuk badan pengelola sesuai instruksi UU nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya, untuk situs-situs cagar budaya,” terangnya.

Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Arief Rachman, mengatakan, pihaknya berharap Warisan Dunia Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto, akan menjadi "museum" menarik, bagi generasi muda untuk mempelajari dan menggali lebih dalam sejarah kawasan itu.

“Saya ingin sekali supaya awashunto ini tidak menjadi "museum", sebagai kata "museum" anak-anak kalau diajak ke museum tidak semangat. Tapi, harusnya museum itu menjadi kehidupan yang akan datang. Apresiasi terhadap kekuatan-kekuatan, meskipun Sawahlunto ini dulu dididirikan oleh teman-teman dan pemerintah Hindia Belanda waktu itu. Kita harus memaknai apa yang sudah didirikan di masa lalu. Agar Ombilin ini akan menjadi mseum yang jauh lebih hidup, daripada "museum-museum" dalam  tanda petik,” tegas Arief Rachman. 

Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto dipandang pantas diposisikan sebagai warisan dunia, karena konsep tiga serangkai yang dicetuskan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada masa itu. Tiga serangkai meliputi industri pertambangan batubara Ombilin di Sawahlunto, sistem transportasi kereta api melalui wilayah Sumatera Barat dan sistem penyimpanan di Silo Gunung di Pelabuhan Emmahaven atau sekarang dikenal sebagai Teluk Bayur. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00