• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Jaksa Menyapa

Wakil Jaksa Agung Arminsyah Berkomitmen Majukan Kejaksaan

16 September
22:16 2019
0 Votes (0)

KBRN Jakarta  : Wakil Jaksa Agung RI, Arminsyah mempertegas komitmen untuk membangun dan memajukan kejaksaan secara menyeluruh.

"Di sisa usia saya dinas di kejaksaan, akan terus saya abdikan untuk kemajuan kejaksaan. Lillahitaallah saya akan bangun kejaksaan lebih baik lagi," ungkap Arminsyah kepada wartawan di Jakarta, Senin (16/9/2019).

Membangun institusi Kejaksaan, tegasnya tentu saja tetap merujuk kepada kebijakan pemerintah.

Kebijakan Pak  Jokowi harus kita laksanakan dengan baik. Sami'na Wa Ahto'na, saya dengar dan saya kerjakan. Demikian prinsip saya dalam bekerja," ujarnya.

Ditegaskan  Arminsyah, ada 3 prinsip hidup yang ia pegang dan juga disampaikan ke anak buahnya di kejaksaan. Yakni, ikhlas, bekerja bersemangat dan bersungguh-sungguh atau tidak asal-asalan.

"Jadi ada 3 prinsip saya yang itu secara pribadi. Bekerja itu harus bersemangat, bersungguh-sungguh dan ikhlas. Jangan bekerja sedikit sudah tanya-tanya kapan naik pangkat, kapan promosi. Oh nggak bisa itu. Karena kalau dia kerja nggak ikhlas, dia tidak bersyukur namanya," tegasnya.

Ketiga prinsip itu juga diterapkan kepada putra-putrinya. Namun, penyampaiannya berbeda ketika menyampaikan prinsipnya itu ke anak buah di Kejkasaan.

"Penyampainnya tetap berbeda. Mereka bebas bicara, tentunya saya akan kasih tahu juga, nanti kalau sudah besar, bekerja dengan semangat, sungguh-sungguh dan belajarlah selalu ikhlas dalam bekerja," katanya.

Dan ikhlas itu kata Arminsyah, seperti lagu zaman dulu yakni Kasih Ibu. 'Kasih Ibu, Kepada beta. Tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya, menyinari dunia'.

Diakui memang ikhlas itu berat. Tapi kalau sudah di titik dimana dia bisa ikhlas, dalam bekerja, berbuat, memberi, tidak ada tuntutan apa-apa. 

"Kita sebagai pegawai misalnya, sudah digaji, ya bekerja ikhlas lah. Nanti pimpinan akan lihat. Kalau kita baik, pasti tanpa diminta juga dipromosikan," ujarnya

"Anda boleh mencari pimpinan saya. Satu pun tanya, pernahkah saya minta jabatan. Silahkan dicari. Nggak pernah saya. Atau dari anak buah saya dimana bekerja. Mungkin ajudan saya dulu. Pernahkah saya minta-minta jabatan," paparrnya.

 Katanya, begitu mendapatkan perintah, langsung melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh dan semangat. Dan ia tetap memegang bahwa, dimana dia bekerja, disitu ia mengabdi.

"Pimpinan adalah orang tua kita. Jadi kalau pimpinan katakan A, kerjakan A. Jangan ada agenda-agenda terselubung, nggak baik. Lebih baik sampaikan terus terang kalau nggak bisa. Itu lebih fair. Pak saya nggak bisa pak, saya beban ini. Sampaikan, jangan iya-iya, belakangnya melenceng, nggak baik itu," katanya.

"Pimpinan sudah menggariskan kebijakan A, ya turunnya menuju ke A. Jangan pimpinan tetapkan A, terus diolah lagi, wah ini keliru. Itu yang bikin kacau sebenarnya," tegasnya.

Bahkan ia pernah sampaikan, kalian harus bekerja, jangan khawatir jabatan. Percayalah jabatan itu memang sementara.

"Jangankan jabatan atau pangkat. Nyawa kita saja juga belum tentu berapa lama. Sampean yakin besok masih hidup, apalagi dengan jabatan. Sudahlah, bekerja dengan baik. Layani masyarakat dengan baik," tuturnya.

Menurutnya, yang harus paling inti adalah, bagaimana masyarakat ini bisa sejahtera. Apapun pekerjaannya, rujukan akhirnya adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kebahagiaan masyarakat.

Negara tertentu ada yang merumuskan, bahagia itu yang utama. Bahkan dijadikan target pembangunannya, parameternya bahagia. Tingkat kebahagiaan itulah kemajuan suatu negara.

"Jadi kita bekerja, apapun pekerjaannya. Mau bikin mobil, mau bikin pelabuhan, mau bikin pabrik, mau penegakan hukum, endingnya harus ke sana. Penegakan hukum juga harus ending ke sana. Penegakan hukum adalah meluruskan yang bengkok, mengatur yang kacau, membenarkan yang sudah tidak baik. Tapi, endingnya bukan harus orang dihukum sekian. Seperti Pak Presiden pada pidato beliau di DPR, bahwa penegakan hukum bukan berapa banyak orang ditahan," ujarnya.

Ia menegaskan, nenek moyang mengajarkan 'Toto tentrem kerto raharjo', Menata supaya tidak kacau, supaya tidak bengkok.

"Siapa yang menata, hukum. Siapa orangnya, aparaturnya. Tapi supaya tentram," jelasnya.

"Di sisa masa kerja saya, saya akan abdikan diri saya untuk kejaksaan dan pemerintah. Mau apa lagi, toh mati juga tidak dibawa-bawa. Tapi bisa mengabdi kepada masyarakat adalah suatu hal yang sangat berguna. Sebagai manusia, yang utama adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain," pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00