• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Budaya dan Wisata

Kebo-Keboan Alasmalang, Ritual Adat Berusia 300 Tahun

15 September
17:06 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Warga Desa Alasmalang, Banyuwangi, Jawa Timur, menggelar tradisi ritual Kebo-Keboan pada Minggu (15/9/2019).

Warga yang berdandan seperti hewan Kerbau (Kebo), badan dicat hitam, lengkap dengan tanduk dan kuping kerbau yang panjang, nampak menari-nari di area sawah sambil mengelilingi penonton.

Ritual adat yang diadakan satu kali dalam setahun pada bulan Muharam tersebut, merupakan tradisi warisan leluhur yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Alasmalang atas hasil panen selama satu tahun. 

Dalam ritual adat tersebut, warga yang berdandan Kebo-Keboan (kerbau) nantinya akan mengelilingi penonton, kemudian satu persatu menceburkan penonton ke dalam kubangan. Penonton tersebut akan ditarik lalu dicampakkan ke kubangan dengan sangat kuat hingga orang itu melayang akrobatik lantas mendarat di kubangan dengan sangat keras.

Begitu seterusnya ritual ini dilakukan, sampai semua orang yang ada di tempat itu berlumuran lumpur seperti main Kebo-Keboan.

Sejarah Tradisi Kebo-Keboan Desa Alasmalang, Banyuwangi, Jawa Timur

Kebo-Keboan merupakan salah satu upacara adat yang biasa dilakukan oleh masyarakat Banyuwangi. Sesuai nama, Kebo-Keboan dilakukan dengan mengarak kerbau. Namun, kerbau yang digunakan bukan asli, melainkan manusia yang berdandan seperti kerbau. Dengan dilumuri cat berwarna gelap, dan asesoris tanduk di kepala jadilah kerbau yang siap diarak oleh masyarakat. 

Upacara adat tersebut sudah ada sejak 300 tahun yang lalu, tepatnya pada abad ke-18. Kebo-Keboan biasa dilakukan di awal bulan Suro, penanggalan Jawa. Tujuan upacara adat ini sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen yang melimpah dan merupakan doa, agar proses tanam benih untuk tahun depan dapat menghasilkan panen yang melimpah. 

Terdapat dua desa di Banyuwangi yang masih melestarikan tradisi Kebo-Keboan. Desa Aliyan dan Alasmalang. Tujuan dan fungsinya sama, yang membedakan adalah alur penyajiannya. Di desa Aliyan seluruh ritual masih dilakukan secara aturan adat, sedangkan Kebo-Keboan di desa Alasmalang merupakan imitasi yang dilakukan dengan tujuan pariwisata. 

BACA JUGA: Sail Nias 2019, Lompat Batu dan Surfing Jadi Pemikat Utama

Kerbau mempunyai simbol sebagai tenaga andalan bagi petani. Binatang kerbau sangat lekat dengan kebudayaan agraris, termasuk sapi juga. Keduanya dianggap binatang yang sangat membantu pekerjaan petani. dalam mengolah lahan sawahnya. Akan tetapi, untuk urusan mengolah sawah, kerbau dianggap lebih kuat daripada sapi. Binatang kerbau juga menjadi hewan penting dalam ritual adat di berbagai wilayah Indonesia.

Legenda tentang upacara adat Kebo-Keboan berasal dari kisah Buyut Karti yang mendapat wangsit untuk menggelar upacara bersih desa, dengan tujuan agar bisa menyembuhkan wabah penyakit di Desa Alasmalang karena penyakit tersebut tidak bisa disembuhkan oleh kekuatan manusia. 

Bila terkena penyakit di malam hari, paginya orang tersebut akan mati. Selain wangsit tersebut, para petani juga diminta agar menjelma menjadi seperti kerbau. Hingga akhirnya upacara adat tersebut menjadi sebuah kebiasaan dan dianggap kearifan lokal Desa Alasmalang, Banyuwangi. 

Bila melihat sejarah upacara Kebo-Keboan, sudah ada sejak abad 18. Upacara adat ini pada zaman dahulu merupakan media untuk melestarikan tradisi luhur. Pada 1960 tradisi ini mulai jarang dilaksanakan. Setelah reformasi, tradisi Kebo-Keboan muncul kembali di Desa Alasmalang. Inisiator kembalinya Kebo-Keboan di masyarakat atas bantuan Sahuni. Selain di desan Alasmalang, tradisi ini juga berkembang lagi di desa Aliyan.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00