• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Tanggap Bencana

Kabut Asap Kian Tebal Di Palangkaraya, Jarak Pandang Radius 300 meter, Sekolah Pun Diliburkan

15 September
12:17 2019
0 Votes (0)

KBRN, Palangkaraya : Kabut asap yang semakin tebal Di Palangkaraya, berdampak buruk bagi sektor Pendidikan, baik Pemrov Kalteng dan Pemko Palangkaraya sudah sama sama mengeluarkan surat edaran meliburkan sekolah.

Adapun isi dalam surat edaran yang di tanda tangani Sekda Kalteng atas nama Gubernur tersebut menginstruksikan seluruh SMA/SMK/SLB sederajat di kota Sampit dan Kota Palangkaraya, dan beberapa wilayah Kabupaten yang terpapar kabut asap, agar diliburkan dari tanggal 16 s/d 21 September 2019. Selama libur sekolah peserta didik, diberikan tugas pekerjaan rumah dalam bentuk penguatan karakter dan peningkatan literasi.

Saat dikonfirmasi RRI, Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah Slamet Winaryo, membenarkan adanya intruksi meliburkan sekolah, hal ini bertujuan mencegah peserta didik terpapar kabut asap dan munculnya penyakit infeksi saluran pernafasan (ISPA).

“Kami sudah mendapat intruksi dari Gubernur Kalteng, untuk meliburkan sekolah, sifatnya fluktuatif, sambil melihat kondisi cuaca dan kualitas udara normal kembali,” kata Slamet kepada RRI, Minggu (15/9/19).

Ia menambahkan, kendati peserta didik diliburkan sementara waktu, pihak sekolah tetap memberikan penugasan kepada peserta didik, dan tugas tersebut berada dalam pengawasan orang tua. Diharapkan peserta didik tidak ketinggalan materi pelajaran,

Sementara itu di tempat terpisah, menyikapi kabut asap yang kian parah, Plt kepala BPBD Kota Palangkaraya H Suprianto mengatakan, karhutla parah yang terjadi saat ini, murni dari prilaku manusia, sebab rata rata lahan yang terbakar ada pemiliknya dan mirisnya lagi, pemilik seolah membiarkan lahannnya terbakar disaat petugas gabungan, mulai dari aparat TNI, Kepolisian, BPBD, Tagana, Satpol PP, Damkar, TSAK, dan tim serbu api swasta, berjibaku memadamkan api tak kenal waktu siang dan malam.

“Membuka lahan dengan alat berat memerlukan biaya besar, makanya masyarakat pemilik lahan justru senang kalau lahan mereka dibakar dengan sengaja, maupun terbakar dengan sendirinya akibat panas,” sesal Supri

Oleh karena itu, pihaknya mengajak masyarakat, untuk peduli dengan bencana karhutla yang terjadi, dengan cara pro aktif memadamkan titik api di sekitarnya, atau minimal stop melakukan aktivitas membakar lahan dan pekarangan dengan alasan apapun, sebab kalau dibiarkan akan meluas, intinya permasalahan karhutla tidak akan pernah selesai sampai kapanpun, manakala belum munculnya kesadaran dan kepedulian dari masyarakat terutama oknum pembakar lahan.

  • Tentang Penulis

    Edy Suroso

    Reporter RRI Palangkaraya : hari hari saya, saya habiskan untuk kegiatan keagamaan, mencari berita dan dunia pendidikan non formal.

  • Tentang Editor

    Hanum Oktavia

    Editor RRI Malang

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00