• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sorotan Kampus

Inilah Pengalaman 5 Mahasiswi Asal Papua Terkait Toleransi di Kota Payakumbuh

13 September
22:51 2019
0 Votes (0)

KBRN, Payakumbuh : Mencermati keragaman di Indonesia memang cukup menarik. Sikap keragaman masyarakat memang sudah masuk pada taraf toleransi, yang artinya suatu kecenderungan untuk membiarkan perbedaan itu sebagai fakta sosial yang tidak bisa dihindari. Sikap ini penting karena mengakui keragamaan sebagai kondisi alamiah yang perlu dihargai.

Toleransi masih memahami kondisi keragaman pada level membiarkan dan menganggap perbedaan sebagai sesuatu yang mutlak ada. Tetapi sikap semacam ini betapapun bagus, tidak cukup bagi merawat kondisi-kondisi keragaman yang begitu banyak memiliki perbedaan antar agama atau kelompok.

Seperti halnya pengalaman lima orang mahasiswi Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh Provinsi Sumatera Barat asal Provinsi Papua berikut, tiga tahun menuntuk ilmu di negeri orang, memberikan pemahaman kepada mereka arti pentingnya sikap untuk saling menghargai dalam perbedaan ras, suku, budaya, dan agama.

Seperti yang disampaikan Olla Ona Oktarina Womsiwor, yang merupakan mahasiswi Program Studi Teknologi Mekanisasi Pertanian di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, awal cerita dia ingin melanjutkan pendidikan dari tingkat SMA ke Perguruan Tinggi Negeri yang berada diluar Provinsi Papua.

“Setelah tamat SMA saya ingin melanjutkan pendidikan, dan bersama teman-teman lainnya kami mengikuti tes di sekolah asal masing-masing, dan sama-sama berkeinginan kuliah di bidang pertanian, hingga kami ditawarkan memilih Perguruan Tinggi Negeri yang berada di Provinsi Sumatera Barat,” terangnya.

Olla Ona Oktarina Womsiwor menceritakan, awalnya mengaku bingung setelah mengetahui diterima di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, dan kemudian menanyakan hal itu pada pihak Dinas Pendidikan Provinsi Papua, dan diterangkan bahwa kampus tersebut berada di Kota Payakumbuh Provinsi Sumatera Barat, jelas saja saya tidak tahu dimana lokasi kampus tersebut.

“Setelah mengikuti pembekalan calon mahasiswa di tingkat Provinsi Papua, barulah diketahui tentang kampus tersebut, setelah itu kami dikirim ke masing-masing Perguruan Tinggi Negeri dimana kami akan melanjutkan pendidikan,” ulasnya, Jum’at (13/9/2019), saat berdialog dengan presenter RRI Bukittinggi Masdiki Putra.

Menurut Olla Ona Oktarina Womsiwor, pihak Dinas Pendidikan Provinsi Papua menyerahkan kami pada pembimbing di Kota Padang Sumatera Barat, dan selanjutnya diantarkan ke Kampus yang menempuh waktu tiga jam perjalanan.

“Sampai di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh kami diterima pihak Kampus, diantarkan ke rumah dinas dan selanjutnya kami terpisah karena sebagian teman dipindahkan asrama mahasiswa, disinilah kami mulai mengenal kehidupan, berosialisasi dengan masyarakat setempat, dan tiga bulan awal kami menjadi pusat perhatian, setiap bertemu masyarakat di jalan selalu diajak berfoto,” terangnya.

Olla Ona Oktarina Womsiwor yang memiliki hobby mendaki gunung itu menambahkan, selama tiga tahun kuliah beberapa gunung sudah didaki, mulai dari Gunung Bungsu di Kabupaten Lima Puluh Kota, berikutnya Gunung Sajo di Kota Payakumbuh, Gunung Marapi di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, terakhir Gunung Talang di Kabupaten Solok.

“Sumatera Barat khususnya Kota Payakumbuh sangat berbeda dengan asal kami di Biak Papua, contoh soal bahasa disini masyarakat menggunakan bahasa minang, awalnya cukup sulit untuk mempelajarinya, namun karena kami akan menetap disini selama kulia, perbedaan bahasa itu kami hargai, dan dipelajari sedikit demi sedikit, akhirnya kami bisa menyatu dengan masyarakat yang memiliki karakter ramah, dan suka berkomunikasi,” jelasnya.

Awal mengenal bahasa minang sambung Olla Ona Oktarina Womsiwor, saat adanya pendidikan dasar atau pengenalan kehidupan kampus, pada saat itu sebagai mahasiwi baru kita wajib mengikutinya, dan senior di kampus ini pada umumnya menggunakan bahasa minang.

“Ucapan “Capek Lah Diak (Cepat lah Dik) sering sekali diteriakkan para senior, awalnya kami tidak paham, malahan kami anggap capek itu seperti arti dalam bahasa indonesia letih begitu, ternyata berbeda artinya dalam bahasa minang, dan perbedaan bahasa terus kami rasakan saat berbincang dengan teman-teman satu kampus yang rata-rata mahasiwa dan mahasiswi asli minang,” ungkapnya.

Di kampus Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, juga ada teman asal Sumatera Utara atau Batak, mereka berkomunikasi dengan bahasa daerahnya, kami pun sebut Olla Ona Oktarina Womsiwor juga menggunakan bahasa daerah, sementara mahasiswa lain yang mayoritas minang juga berbahasa daerah, dan secara perlahan bahasa minang itu dimengerti juga, tepatnya saat sudah semester tiga.

“Mahasiswa dan mahasiswi asal minang disini juga mengajarkan kami bahasa daerahnya, sehingga saat semester tiga kami sudah paham, dan juga mulai menggunakan bahasa minang dalam berkomunikasi, hal ini merupakan anugerah bagi kami karena diterima dengan baik di kampus ini, diajarkan bahasa dan budaya daerah, sehingga terasa toleransi atau perbedaan kami dengan mereka itu dihargai,” katanya.

Sementara itu mahasiswi Program Studi Tata Air Pertania Inge Christiany Imbarkaway Inggamer mengaku banyak sekali pengalaman selama kuliah di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, tahun awal kuliah ada pengalaman yang membuat sedih saat merayakan Natal pertama yang jauh dari orang tua.

“Di Kota Biak Papua kami merayakan natal bersama keluarga, ramai sekali suasananya, dan saat mulai kuliah disini semuanya tidak lagi bisa dirasakan, sehingga rindu dengan kampung halaman,” sebutnya.

Lain lagi cerita Helena Clarita Wabiser, mahasiswi Program Studi Agribisnis ini mengakui bahwa Kota Payakumbuh lebih dingin dari Kota Biak, jam 07.00 WIB udara masih terasa dingin, matahari terasa lama bersinar sehingga jadi malas untuk beraktivitas

“Pengalaman keluar asrama pergi berbelanja ke warung tanpa menggunakan sandal, sehingga masyarakat memperhatikan setiap langkah, sehingga menjadi viral disini, orang papua berjalan tanpa menggunakan sandal atau kaki kosong itu biasa saja,” tuturnya.

Elvadiyati Qoriaina Puarada mahasiswi Program Studi Teknologi Pangan juga menceritakan kisah awalnya tinggal di Payakumbuh yang disangka masyarakat warga Minangkabau, dan menjadi guide atau pemandu teman-teman asal Papua lainnya.

“Pengalaman itu saat pergi berbelanja ke pasar bersama teman-teman, sepanjang perjalanan disapa masyarakat dengan menggunakan bahasa minang, sehingga saya hanya melongo karena tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, setelah diperkenalkan berasal dari Papua masyarakat terkejut, karena mereka mengira saya tidak memiliki wajah seperti orang Papua,” ungkapnya.

Sedangkan Yosiana Karolina D Dogopia mengaku memiliki pengalaman yang hampir sama dengan teman-temannya, dan yang menarik banyak masyarakat menanyakan soal rambut yang menjadi ciri khas masyarakat Papua.

“ Pas waktu kenalan dengan teman-teman dari daerah lain, banyak diantara mereka ingin memegang rambut saya, dan dengan senang hati saya perbolehkan, karena rambut saya dibentuk dijalin atau berlapis, mungkin mereka tidak pernah melihat sebelumnya, ini menjadi unik dan sebenarnya untuk bergaya saja, saat pergi ke kampus itu tidak diperbolehkan dosen,” tuturnya.

Menanggapi kehadiran mahasiwi asal Papua itu, Wakil Direktur I Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Harmailis, menuturkan, awal kedatangan mereka menjadi perhatian dari mahasiswa dan dosen, pihak kampus menyambutnya dengan baik, menempatkan mereka dirumah dinas, sebelum pindah ke asrama.

“Sebelum masuk masa kuliah, kelima mahasiswi asal Papua ini diperkenalkan tentang kampus, bagaimana cara pergaulan disini, bahasa yang digunakan, budaya, adat istiadat, dan secara perlahan mereka memahami, hingga akhirnya terbiasa, serta mereka juga tidak ada merasa tertekan hingga tiga tahun berjalan dan kelimanya menamatkan studi di kampus ini pada 7 September 2019 lalu,” jelasnya.

Harmailis menambahkan, proses belajar mengajar mereka jalani dengan baik, tamat tepat waktu selama tiga tahun atau Program Diploma III, dengan nilai yang cukup memuaskan, melebihi standar Indeks Prestasi Komulatif (IPK) yang ditetapkan Kemenristek Dikti, dengan IPK Minimal 2.00.

“Selama kuliah di kampus Pertanian Negeri Payakumbuh ini, mereka diterima dengan baik, tidak ada mengalami perselisihan dengan pihak kampus, mahasiswa, serta masyarakat disini, karena kami dari pihak kampus juga menjaga keberadaan mereka, malahan mereka diberikan apresiasi karena dapat menyatu dengan segala perbedaan, hal itu juga merupakan upaya dari pihak kampus untuk menjaga segala bentuk perbedaan,” tukasnya. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00