• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Kenangan BJ Habibie Sosok Cerdas, Humoris dan Tenang

11 September
22:25 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Mengenang kebersamaan Presiden Ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie) sejak awal kiprahnya sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) RI, kemudian Wakil Presiden, sampai akhirnya menduduki posisi Presiden RI, merupakan salah satu hal yang bisa membuat masyarakat semakin mengetahui seperti apa sepak terjang BJ Habibie sepanjang karirnya.

Mantan Presiden Ke-3 RI, BJ Habibie sempat menjadi narasumber dalam bedah buku karya Franz Magnis Suseno pada hari terakhir "Frankfurt Book Fair 2015", di Jerman, Minggu (18/10/2015) silam. 

Buku Franz Magnis yang dibedah itu berjudul "Neue Schwingen fur Garuda: Indonesien zwischen Tradition und Moderne" (Garuda Rising - Contemplating Modern Indonesia). Dan Habibie membuktikan, sebagai pakar teknologi, ia juga memahami pemikiran seorang filusuf seperti Franz Magnis dalam melihat perkembangan teknologi di alam modernisasi.

BACA JUGA: Tiga Fakta yang Tak Diketahui Masyarakat Tentang BJ Habibie

Presiden Ke-3 RI, BJ Habibie juga dikenal sebagai sosok humoris. Tak tanggung-tanggung, dalam sebuah pidato penting di hadapan Anggota DPR/MPR, ia masih sempat melontarkan joke ringan mengenai sebuah hal besar, yakni Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) pada 4 Januari 1999. Sambil sedikit mengacungkan telunjuk, ia sempat membuat para anggota dewan tersenyum.

Dan saat masih menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Ketua BPPT/Dirut IPTN di era pemerintahan Presiden Ke-2 RI Soeharto, BJ Habibie tampil lugas dan tenang saat menghadapi wartawan untuk menjelaskan perihal penyelesaian kemelut di perusahaan pesawat terbang IPTN Bandung, pada 17 Oktober 1997 di Jakarta.

Masalahnya kala itu sangat krusial, karena berkaitan dengan Forum Komunikasi Karyawan IPTN. Dan Habibie lantas menjelaskan dengan tenang, bahwa tujuan dibentuknya forum tersebut betujuan untuk ketahanan perusahaan, bukannya sebagai organisasi massa.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00