• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

Lukma Neska Dicekal ke Luar Negeri Terkait Kasus Dugaan Suap Mafia Migas

11 September
17:18 2019
1 Votes (4)

KBRN, Jakarta : Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali  mengajukan permohonan pencegahan ke luar negeri kepada Direktorat Jenderal (Dirjen) Imigrasi Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Republik Indonesia dalam kasus perkara dugaan korupsi.

Kabiro Humas KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi wartawan menjelaskan, salah satu yang dicekal adalah pemegang saham SIAM Group Holding, Lukma Neska. Lukma dicegah ke luar negeri selama 6 bulan ke depan.

“Penyidik KPK telah mengirimkan surat pelarangan ke luar negeri terhadap satu orang yaitu Lukma Neska, pemegang saham dari SIAM Group Holding,” Febri Diansyah di Gedung KPK Jakarta, Rabu (11/9/2019).

Yang bersangkutan dimasukkan ke dalam daftar cekal karena diduga terkait kasus dugaan suap yang menjet tersangka Bambang Irianto, mantan Managing Director Pertamina Energy Service Pte Ltd (PES). 

Febri mengatakan pelarangan atau pencegahan bepergian ke luar negeri dilakukan dalam proses penyidikan kasus perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)  penerimaan suap.

Kasus suap yang dimaksud adalah dugaan penerimaan hadiah atau janji terkait kegiatan perdagangan minyak mentah dan produk kilang di Pertamina Energy Services Pte Ltd (PES) selaku subsidiary companyPT Pertamina (Persero) dengan tersangka Bambang Irianto.

Penyidik KPK meyakini tersangka Bambang diduga menerima uang suap sebesar 2,9 juta Dolar Amerika (USD). Uang itu kemudian ditransfer atau disimpan lewat perusahaan yang didirikannya di British Virgin Island yakni SIAM Group Holding Ltd.

KPK menduga uang itu  diberikan kepada Bambang karena yang bersangkutan telah membantu mengamankan jatah Kernel Oil dalam tender pengadaan atau penjualan minyak mentah atau produk kilang.

PES seharusnya mengacu pada pedoman yang menyebutkan penetapan penjual atau pembeli yang akan diundang untuk ikut dalam competitive biddingatau direct negotiationmengacu pada aturan PT Pertamina (Persero) dengan urutan prioritas: NOC (National Oil Company), Refiner/Producer, dan Potential Seller/Buyer.

Menurut penyelidikan KPK ternyata  tidak semua perusahaan yang terdaftar pada Daftar Mitra Usaha Terseleksi (DMUT) PES itu diundang mengikuti tender di PES.

Tersangka Bambang bersama dengan sejumlah oknum pejabat PES diduga menentukan rekanan yang akan diundang mengikuti tender, salah satu NOC (National Oil Company) yang sering diundang untuk mengikuti tender dan akhirnya menjadi pihak yang mengirimkan kargo untuk PES/PT Pertamina (Persero) adalah Emirates National Oil Company (ENOC). 

KPK menduga ENOC diundang sebagai kamuflase agar seolah-olah PES bekerja sama dengan National Oil Company agar memenuhi syarat pengadaan, padahal minyak berasal dari Kernel Oil.

PT Pertamina (Persero) sebelumnya diketahui membentuk fungsi Integrated Supply Chain (ISC). Fungsi ini bertugas melaksanakan kegiatan perencanaan, pengadaan, tukar-menukar, penjualan minyak mentah, intermedia, serta produk kilang untuk komersial dan operasional.

PT Pertamina (Persero) kemudian mendirikan beberapa perusahaan subsidiari yang dimiliki dan dikendalikan penuh, yakni: Pertamina Energy Trading Limited (Petral), yang berkedudukan hukum di Hong Kong, dan Pertamina Energy Services Pte Ltd (PES), yang berkedudukan hukum di Singapura. 

Petral sebenarnya tidak punya kegiatan bisnis pengadaan dan penjualan yang aktif. Sedangkan PES menjalankan kegiatan bisnis utama, yaitu pengadaan dan penjualan minyak mentah dan produk kilang di Singapura untuk mendukung perusahaan induknya yang bertugas menjamin ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) secara nasional.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00