• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Dua Peneliti UNPAD Ungkap Kajian Terkait Kebijakan Cukai Rokok

11 September
16:29 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Muncul hasil kajian terkait kebijakan cukai rokok. Kajian ini diungkapkan oleh dua peneliti dari Universitas Padjajaran (UNPAD), Satriya Wibawa dan Bayu Kharisma.

Dalam kajian itu, keduanya mengulas tentang posisi Indonesia dalam Framework Convention on Tobacco Control (FTCC) dan dampak simplifikasi cukai rokok terhadap penerimaan negara, persaingan usaha, dan variabilitas harga. 

Bayu Kharisma menjelaskan, dalam penelitian, pihaknya melakukan simulasi demi mengkaji dampak dari penggabungan volume Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Putih Mesin (SPM). Penggabungan volume ini disimulasikan dengan adanya perubahan harga cukai per-batang pada golongan dua layer satu dan layer dua menjadi golongan satu.

Dia menjelaskan, hasil simulasi memperlihatkan penjualan SKT golongan 2 layer 1 akan turun sebanyak 258 ribu batang per-bulan, sedangkan SKM golongan 2 layer 2 turun sebanyak 113 ribu batang per-bulan. 

"Selanjutnya, pada jenis rokok SPM penggabungan menyebabkan penjualan SPM golongan 2 layer 1 turun sebanyak 2.533 juta batang, dan SPM golongan 2 layer 2 turun sebanyak 1.593 juta batang,” tambahnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (11/9/2019).

Ditekankannya, dari hasil simulasi, pihaknya menemukan kalau penggabungan volume produksi SPM dan SKM akan berdampak luas ke berbagai lini. Misalkan untuk pelaku industri golongan II layer 1 dan 2, kenaikan tarif yang tinggi bakalan mengancam kelangsungan usaha. Ujung-ujungnya lapangan kerja untuk para pekerja akan hilang. Hal itu karena banyak pabrik bangkrut.

Tak hanya itu, menurut dia, pengurangan produksi SKM juga berdampak negatif pada pengurangan serapan tembakau lokal dan cengkeh. Padahal saat ini, SKM golongan 2 menggunakan bahan baku lokal sebanyak 94 persen. 

Untuk itu ditegaskannya, simplifikasi itu sebenarnya bukannya menambah penjualan, melainkan sebaliknya, akan terjadi pengurangan penjualan produk tembakau.

"(Ini) berakibatkan pada penerimaan negara”, tandasnya.

Lebih lanjut Bayu menjelaskan, karena kebijakan simplifikasi itu, perusahaan golongan 2 terpaksa menaikan harga rokok. Kondisi itu kan membuat para konsumen beralih ke rokok yang harganya lebih murah. Parahnya, bukan tidak mungkin akan ada rokok ilegal yang masuk ke negeri ini.

“Masalah lain dari penerapan simplifikasi adanya terbentuknya pasar rokok illegal yang mana adanya penggelapan pajak,” tandas Bayu.

Sementara itu, tambahan, dari sisi persaingan usaha, simplifikasi dan penggabungan yang membuat perusahaan kecil kalah saing gulung tikar, pada akhirnya, bukan tidak mungkin perusahaan kecil itu akan diakuisisi oleh perusahaan yang jauh lebih besar. Ujung-ujungnya, hal itu akan berkmu pada variasi harga rokok.

“Simplifikasi cukai tembakau akan berakibat pada variasi harga produk tembakau semakin sedikit,” tukas Bayu.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00