• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

10 Muharam, Wali Kota Baubau Gelar Pekandeana Ana-Ana Maelu

10 September
16:21 2019
0 Votes (0)

KBRN, Baubau : Setiap tanggal 10 Muharam masyarakat Kota Baubau Sulawesi Tenggara (Sultra) yang berkecukupan menggelar ritual Pekandeana Ana-Ana Maelu atau pemberian makan kepada anak yatim piatu.

Tradisi ini telah berjalan sejak  masuknya ajaran islam di Kesultanan Buton oleh para penyiar agama Islam dan telah berjalan selama lebih dari empat abad.

Peringatan  10 Muharram 1441 Hijriyah 2019 Masehi ini, Wali Kota Baubau As Tarmin menggelar acara tersebut di Rumah jabatannya.

Tahun ini pihaknya mengundang  47 anak-anak yatim piatu dari Panti Asuhan Al Ikhlas dan Panti Asuhan Al Muslimin.

Menurutnya, selain sebagai sunah rasul, tradisi tersebut bertujuan agar anak yatim dapat merasakan kebahagiaan melalui perhatian pemerintah daerah meski apa yang diberikan tidak seberapa jumlahnya.

“Di Buton ini setiap tahun tepatnya 10 Muharram merupakan kebiasaan memberikan makanan atau bingkisan kepada  anak yatim agar mereka merasa diperhatikan dan ini tentunya bernilai ibadah,” ujar As Tamrin, Selasa(10/9/2019).

“Kita harapkan agar ritual ini dapat menyentuh secara hakekat dihati kita, agar turut serta merasakan hidup tanpa orang tua,” sambungnya.

Dalam ritual tersebut kata Wali Kota juga terkandung maksud pomaa-maasiaka atau saling menyayangi antara sesama.

Rangkaian adat dan budaya pekandeana ana ana maelu dimulai dengan memandikan anak-anak yatim piatu oleh seorang perempuan yang disebut bhisa. khusus anak-anak laki-laki dimandikan dengan air yang dicampur dengan bunga  Jempaka, sedangkan anak perempuan dimandikan dengan air yang telah dicampur  dengan “Bunga Kamba Manuru”.

Kedua bunga tersebut memiliki filosofis tersendiri, Bunga “Jempaka” melambangkan kejantanan seorang laki-laki, sedangkan Bunga “Kamba Manuru” melambangkan kelembutan dan keramahtamahan dari seorang perempuan.

Selanjutnya anak-anak yatim piatu akan digiring ke tempat khusus yang telah disediakan  berbagai macam makanan tradisional.

Kemudian sebelum prosesi penyuapan terlebih dahulu diawali dengan pembacaaan doa dan tolak bala oleh seorang lebe.

Dan terakhir prosesi pengusapan kepala bagi anak yatim piatu, lalu penyuapan terhadap anak yatim oleh ibu-ibu yang telah ditunjuk.

Usai kegiatan seluruh anak yatim mendapat bingkisan dari Wali Kota Baubau.


tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00