• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

Menkominfo: Open Source Membuat Lebih Bebas

9 September
14:16 2019
2 Votes (5)

KBRN, Sanur : Komunitas open source menggelar PostgreSQL Conference (PGConf.Asia 2019), di Sanur selama empat hari (9-12 September 2019). Konferensi internasional yang pertama kali dilangsungkan di Indonesia tersebut mengusung tema "Saat Bisnis Bertemu Hacker".

Sejumlah topik yang terbagi kedalam 30 sesi akan dipaparkan seputar implementasi dan dampak PostgreSQL di dunia bisnis. 

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara mengatakan, software database open source berdasarkan PostgreSQL telah memberikan perubahan signifikan. Pengguna disebut lebih bebas, dan tidak bergantung pada merek, dan software berbayar tertentu. 

"Dengan open system, membuat kita tentunya menjadi lebih bebas, tidak bergantung kepada brand tertentu, tidak bergantung kepada proprietary (software berbayar) tertentu yang akan mengakibatkan pada akhirnya nanti kita menjadi murah. Dan yang lebih penting lagi kita menjadi mandiri," ungkap Rudiantara dalam sambutannya yang disiarkan melalui rekaman video pada pembukaan PGConf.Asia 2019 di Sanur, Senin (9/9/2019). 

"Pengembangan PostgreSQL sesuatu hal yang senantiasa diperhatikan juga oleh pemerintah. Pada tahun 80an, kita mengenal yang namanya SQL, Structure Query Language. Saya juga menjadi bagian daripada itu tahun 80an akhir. Saya pernah bekerja untuk Oracle yang mengembangkan SQL. Kemudian berkembang-berkembang terus, Ingres (kemudian muncul), pada akhirnya PostgreSQl yang ita kenal saat ini," lanjut Rudiantara. 

Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati ketika membuka kegiatan tersebut berharap PGConf.Asia 2019 berkontribusi secara konkrit bagi masyarakat, dan pemerintah. Ia tak memungkiri, Information Technology (IT) dewasa ini memiliki andil besar dalam mendukung aktivitas perekonomian, dan perindustrian. 

"Berbicara industri 4.0 saat ini tidak bisa lepas dari fondasinya yang didukung oleh keberadaan open source. Open source adalah darah kehidupan dalam industri 4.0. Karena semua interkoneksi membutuhkan software yang mudah untuk dioperasikan," ujarnya ketika membuka PGConf.Asia 2019. 

Steering Committee PostgreSQL Conference Asia 2019, Julyanto Sutandang menjelaskan, kegiatan ini untuk mempertemukan para ahli, developer, pemerhati, dan pengguna. Ia mengemukakan, konferensi kali ini lebih mengarah kepada acamedy conference yang tidak menghasilkan sebuah keputusan ataupun rekomendasi. Pertemuan tahun ini diharapkan dapat mematangkan PostgreSQL sebagai sofware database open source berbiaya murah. 

"Jadi kita membentuk suatu pemahaman, sharing knowledge, sharing ilmu. Karena yang dibahas ini intinya PostgreSQL sebagai sebuah software. Jadi bagaimana software ini dikembangkan lebih baik lagi dengan masukan dari Jepang, dari China, dari Amerika, dari Australia, dari Rusia, supaya kita bisa mengembangkan PostgreSQL lebih baik lagi dengan masukan-masukan tersebut," jelasnya.

"Karena PostgreSQL digunakan diseluruh dunia. Penggunanya macam-macam, dari bank, telekomunikasi, retail, dan lain sebagainya. Dan itu ada di negara-negara lain. Apalagi sebuah software yang paling mahal experiencenya. Software itu akan lebih bagus kalau dia mengalami hal-hal yang bermacam-macam. Dan kalau sudah mature, dia akan memiliki kemampuan yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan itu maka open source menjadi software yang lebih daripada proprietary, karena banyak digunakan oleh orang lain di seluruh dunia tanpa ada biaya yang mahal," pungkas Julyanto Sutandang. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00