• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Cabor

Audisi Beasiswa Bulutangkis Tidak Ada, Bisa Hambat Munculnya Atlet Daerah

8 September
18:00 2019
0 Votes (0)

KBRN, Purwokerto: Keputusan perkumpulan bulutangkis, PB Djarum yang akan menghentikan audisi beasiswa bulutangkis pada 2020 mendatang sangat disayangkan banyak pihak terlebih klub-klub bulutangkis, orang tua calon atlet dan pencinta perbulutangkisan.

Bahkan, mantan pebulutangkis dunia, Liliana Natsir secara pribadi menyatakan penghentian audisi bisa menghambat munculnya atlet-atlet berprestasi daerah untuk ingin menjadi juara dunia.

Liliana Natsir pun sangat merasakan ketika di Manado belum ada audisi, orang tuanya harus benar-benar mampu untuk membiayai perjalanannya mengikuti seleksi di Jakarta.

Kalau orang tua atlet tidak mampu misalnya, lanjutnya, tentu sangat berat karena harus mengeluarkan biaya yang cukup besar.

”Keluarga mampu pun, apakah dia sanggup, terus nanti sebelum masuk ke klub, dia kan harus mengikuti anaknya turnamen-turnamen dulu, sanggup tidak mengikuti semua turnamen yang ada. Apalagi daerah, dia harus berangkat ke Surabaya , harus berangkat ke kota-kota besar. Itu kan biaya tidak sedikit. Nah dengan tidak ada audisi ini seperti apa. Nah itu yang saya pun tidak bisa jawab, karena sangat disayangkan pastinya,” ungkapnya kepada awak media di GOR Satria Purwokerto, Minggu (8/9/2019).

Sebagai mantan atlet Liliana Natsir mengharapkan ada solusi yang terbaik agar audisi tetap terselenggara mengingat sangat membantu orang tua calon  atlet yang kurang mampu untuk mempunyai mimpi anaknya menjadi pemain dunia. Karena mimpi itu ada menurutnya karena mereka punya tujuan untuk masuk ke klub-klub besar.

”Kalau kita di daerah, kita bisa jago hanya di daerah saja, kita sudah yang terbaik kita mau lawan siapa lagi, jadi tidak ada sparingnya juga, terus motivasinya juga lain. Nah itu yang saya rasa temen-temen, karena saya dari daerah saya juga merasakan itu, temen-temen di daerah juga pasti merasakan yang sama. Dengan tidak adanya audisi ini kesempatan mereka seperti apa nanti,” pungkas Liliana Natsir.

Sementara itu sejumlah klub, orang tua calon atlet, dan pencinta bulutangkis yang sedang mengikuti audisi di kota Purwokerto menyampaikan aspirasinya keberatan dengan dihentikannya audisi pada tahun 2020.

Salah satu perwakilan klub Parjimin asal Boyolali sangat kecewa dan sedih atas keputusan PB Djarum tidak menyelenggarakan lagi audisi di tahun depan.

”Dengan adanya KPAI yang mengatakan eksploitasi anak, itu yang bagaimana. Mohon dijelaskan. kami jelas dengan tidak diadakan audisi yang akan datang, kami semuanya menolak, dengan tidak diadakan audisi. Mohon untuk bisa diadakan audisi lagi seperti ini karena itu bisa membunuh prestasi anak. Karena anak-anak bangsa kita khususnya perbulutangkisan nanti kalau tidak diadakan audisi itu arahnya mau kemana,” ujarnya.

Sedangkan perwakilan PB Bintang Jaya Banjarnegara, Aris Amaluddin menilai KPAI melakukan pemutusan sepihak tanpa adanya opsi-opsi lainnya. "Sampai hari ini tidak ada penjualan produk rokok di ajang audisi,” ungkapnya.

Bahkan Aris menyebutkan KPAI harus membedakan antara bisnis dan prestasi olahraga. "Sampai hari ini luar biasa prestasinya bulutangkis. Jangan membuat sensasi mengcut sebuah prestasi. Kan ini kaya sebuah sensasi, tapi mengcut sebuah prestasi yang dimana sampai hari ini di Indonesia salah satu prestasi dunia adalah bulutangkis,” imbuh Aris Amaludin.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00