• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Ketika Rasis Ditaklukkan Persatuan Warga Ujung Timur Indonesia  

4 September
16:17 2019
2 Votes (4.5)

KBRN, Merauke : Pasca insiden yang terjadi di asrama pelajar Papua di Surabaya berbuntut panjang dengan terjadinya rangkaian aksi demo berujung anarkis di sejumlah wilayah di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Aksi demo berujung anarkis mengakibatkan sejumlah fasilitas umum terbakar dan mengalami kerusakan bahkan terdapat korban jiwa.

Pemicu utama terjadinya gejolak di bumi cenderawasih akibat adanya tindakan rasis yang di tujukan terhadap pelajar Papua di Surabaya. Sakit hati dan emosional menyulut amarah seluruh warga masyarakat Papua hingga hasrat ingin melepaskan diri dari NKRI terjadi di beberapa wilayah di tanah Papua.

Dari kisah amarah akibat tindakan rasis hingga sampai pada kisah menangnya rasa persatuan dan kerukunan bangsa di Merauke dan kami akan membawa anda menyelami respon masyarakat Merauke pasca insiden yang terjadi di asrama pelajar Papua di Surabaya.

Siang itu, Selasa (20/08/2019) panas terik matahari terasa menyengat ketika kami sampai di perempatan lingkaran brawijaya Merauke, nampak aparat Kepolisian beserta aparat TNI berjaga di wilayah tersebut,  kios maupun pertokoan terlihat tutup lebih awal dari hari biasanya, setelah kami memantau sekitar 50 menit para aksi demo tiba di lingkaran Brawijaya Merauke.

Ketika kami menengok di sekitar lokasi, nampak ratusan masyarakat Papua bernyanyi dan berteriak untuk menyampaikan aspirasi, ada yang berdiri sambil memegang spanduk ada pula yang duduk sambil mendengarkan orasi yang di sampaikan para orator.

Di depan sebuah kios yang terbuat dari papan, dan berjarak sekitar 50 meter dari titik kumpul aksi demo, kami bertemu Lasarus Pirap yang merupakan putra asli Papua menceritakan pihaknya melakukan aksi demo sebagai bentuk solidaritas terhadap para pelajar Papua yang mendapatkan tindakan rasis di Surabaya, namun aksi demo damai yang di lakukan hanya sebatas menyampaikan aspirasi tanpa adanya tindakan anarkis seperti daerah lainnya di tanah Papua.

”Kita hanya mau sampaikan aspirasi ke Pemerintah karena saudara kita di Surabaya sudah dapat tindakan rasis, kita tidak akan rusuh, kita demo baik baik saja,” ungkap Lasarus.

Bahkan, menurut pria yang bertubuh tinggi dengan perawakan atletis ini, pihaknya menjamin aksi demo damai yang di lakukan berlangsung aman dan tertib tanpa adanya aksi kekerasan dan gesekan antara aparat TNI Polri dan masyarakat.

Setelah berbincang sekitar 15 menit, kamipun mencoba menemui Lana, salah seorang wanita yang juga turut dalam aksi demo menceritakan masyarakat Merauke hanya sebatas menyampaikan aspirasi dan tidak akan melakukan tindakan anarkis seperti daerah lainnya di Papua, mengingat budaya warga Merauke cinta damai dan lebih mementingkan rasa persatuan dan kerukunan bangsa.

"Budaya kita itu cinta damai kita dari dulu itu hidup rukun dengan warga pendatang karena kita lebih pentingkan rasa persatuan dan kerukunan di Merauke,” ujarnya.

Wanita berkulit hitam dan berambut keriting dengan wajah yang cantik jelita dengan pesona hidung mancung ini menceritakan sejak turun temurun warga Papua di Merauke hidup rukun dan berbaur dengan masyarakat lain, mengingat Merauke merupakan karikatur indonesia mini yang terdiri dari berbagai Suku dan Agama yang beraneka ragam, sehingga masyarakat Merauke lebih mengutamakan rasa persatuan dan kerukunan bangsa di bandingkan isu rasis yang dapat memecah belah bangsa.

Jam menunjukkan pukul 15.00 WIT, suara adzan Ashar berkumandang dari mesjid raya Al-Agsha Merauke yang terletak di sekitar lokasi demonstrasi, ratusan peserta aksi demo pun mulai bergerak menuju Kantor Bupati Merauke dan setelah sampai di Kantor Bupati, para demonstran menyampaikan aspirasi dan di terima Wakil Bupati Merauke Sularso yang merupakan warga etnis Jawa dan selanjutnya ratusan demonstran membubarkan diri dengan tertib, aman dan kondusif.

Masyarakat Merauke mencerminkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih mengedepankan rasa persatuan dan kerukunan bangsa, selain itu himbauan dari tokoh masyarakat, TNI Polri hingga Pemerintah berjalan dengan baik di ujung timur Indonesia sehingga dapat mengalahkan isu rasis. 

Ketua Lembaga Masyarakat Adat Merauke Frederikus Wanim Mahuze saat kami konfirmasi terkait insiden yang terjadi di asrama Papua di Surabaya memiliki tanggapan sendiri, menurutnya masyarakat hendaknya tidak mudah terprovokasi dengan insiden di asrama Papua di Surabaya dan tetap menjaga kondisi keamanan di Merauke karena tindakan rasis tersebut di lakukan oleh oknum masyarakat dan bukan mewakili masyarakat Surabaya.

”Saya mau sampaikan ke saya punya warga agar tidak terprovokasi dan tetap menjaga keamanan,” ungkap Frederikus.

Hal senada juga diutarakan Tokoh Masyarakat Papua Selatan Yohanis Gluba Gebze, menurut mantan Bupati Merauke dua periode ini warga Merauke senantiasa hidup rukun dan damai dan jangan mudah terjebak dalam dinamika yang terjadi di sebagian wilayah Papua.

”Masyarakat Merauke agar tetap tenang dan jangan mudah terpengaruh karena adanya gejolak di daerah lain di Papua,” ujarnya.

Bahkan sebagai bentuk rasa solidaritas, Ketua Paguyuban Surabaya Merauke Kuncoro melakukan penggalangan dana untuk perbaikan asrama pelajar Papua di Surabaya dimana penggalangan dana di lakukan oleh warga asal pulau Jawa terutama Surabaya dan Malang yang bertempat tinggal di Kabupaten Merauke.

”Kita galang dana untuk perbaiki asrama mahasiswa Papua di Surabaya, setelah terkumpul akan kami tentukan proses penyalurannya,” ungkap Kuncoro.

Berbagai upaya terus di lakukan untuk menjaga kondisi keamanan di Merauke pasca insiden di asrama Papua di Surabaya agar tidak berdampak hingga ke Merauke, termasuk upaya yang di lakukan Bupati Merauke Frederikus Gebze melalui himbauannya kepada warga Merauke.

"Saya mengimbau warga Merauke agar tidak terpancing isu hoax dan lebih cerdas menggunakan media sosial dan bagi tokoh masyarakat, tokoh adat, dan seluruh elemen masyarakat agar bersatu menjaga kedamaian di tanah  animha,” tegas Frederikus Gebze.

Masyarakat Merauke menjadi contoh nyata kerukunan hidup berbangsa dan bernegara, meski di terjang dengan isu rasis, namun kehidupan warganya tetap berjalan aman dan kondusif tanpa adanya gejolak seperti daerah lainnya di tanah Papua.

Adanya permintaan maaf Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawangsah terkait tindakan rasis di asrama pelajar Papua di Surabaya di terima dengan lapang dada oleh masyarakat Merauke, mengingat budaya masyarakat asli Papua di Merauke menganut sikap saling memaafkan antar sesama umat manusia.

Pernyataan panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahyanto untuk menjaga kondisi keamanan di Papua, selaras dengan respon masyarakat Merauke, demikian pula himbauan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian untuk menjaga kondisi keamanan berjalan dengan baik di Kabupaten Merauke, bahkan pernyataan Presiden Indonesia Joko Widodo agar masyarakat Papua saling memaafkan benar benar tercipta dan terwujud di wilayah ujung timur tepatnya di Kabupaten Merauke.

”Saudara saudaraku, pace mace, mama mama di Papua dan Papua Barat saya tahu ada ketersinggungan, oleh sebab itu sebagai saudara sebangsa dan setanah air yang paling baik adalah saling memaafkan, emosi itu boleh tetapi memaafkan lebih baik,” ungkap Presiden Joko Widodo. 

Potret kehidupan warga Merauke yang tidak terhasut isu rasis menjadi contoh bagi wilayah lainnya di Papua, bahkan telah terbukti dengan tidak adanya gejolak hingga tindakan anarkis di Merauke seperti daerah lainnya di tanah Papua.

Warga Merauke sejak dahulu lebih mengedepankan rasa persatuan dan kerukunan bangsa, bukan hanya dari kondisi keamanan yang selalu aman dan kondusif tetapi juga dari pernyataan Lasarus Pirap dari ujung timur nusantara ,”Kami ini cinta Indonesia,” pernyataan tegas kami cinta Indonesia mengakhiri cerita kami dari ujung timur nusantara.

                         

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00