• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

Bandara Ngurah Rai Dibekali 3 Alat Canggih

3 September
15:12 2019
1 Votes (5)

KBRN, Mangupura : Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai kini dibekali tiga alat baru. Tiga alat itu meliputi boarding pass scanner (flap barrier), x-ray Automated Tray Return System (x-ray ATRS), dan autogate paspor (imigrasi).

Mesin autogate paspor terdapat 16 unit, dimana 6 unit ditempatkan di terminal kedatangan internasional, dan 10 unit di terminal keberangkatan internasional. Sedangkan 12 boarding pass scanner diletakkan di terminal keberangkatan internasional.

Penggunaan tiga alat itu diresmikan Direktur Utama PT. Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi, dan Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Irjen Pol (Purn) Ronny Franky Sompie, Selasa (3/9/2019). 

Ronny Sompie menilai ketiga alat itu akan meningkatkan kecepatan pelayanan. Melalui dukungan teknologi informasi, pelayanan juga disebut akan lebih akurat. 

"Kita lebih tahu, disamping profiling dan juga intuisi para petugas, maka bantuan alat ini memperkuat pengawasan terhadap para penumpang yang akan berangkat maupun baru datang ke Bali ini," katanya kepada wartawan di terminal keberangkatan internasional Bandara Ngurah Rai, Rabu (3/9/2019). 

"Untuk Bali memang antreannya sering panjang sekali, dan sekarang ini kita sendiri bahwa dengan peralatan yang didukung teknologi informasi yang modern, maka pelayanan itu bisa lebih cepat," imbuhnya. 

Ronny Sompie menjelaskan, waktu pelayanan penumpang dapat dipangkas secara signifikan dengan pengoperasian ketiga alat tersebut. Seperti contoh autogate paspor yang mampu melayani penumpang internasional tidak lebih dari 1 menit. 

Autogate paspor ini juga terkoneksi dengan sistem informasi manajemen keimigrasian. Jadi otomatis, dengan autogate paspor akan mempermudah proses identifikasi warga negara asing yang dicekal masuk Indonesia, termasuk yang menjadi buronan interpol. 

"Kita mulai dari pemberangkatan dulu, karena di kedatangan kita mengambil sidik jarinya, biometrik sidik jari maupun wajah untuk memudahkan ketika dia kembali, tidak perlu lagi melalui counter, dia bisa menggunakan autogate. Kedepan, pemilik KITAS (kartu izin tinggal terbatas), dan KITAP (kartu izin tinggal tetap) warga negara asing sudah bisa melalui autogate di terminal kedatangan. Karena dia sudah terdata biometriknya. Diambil biometriknya pada saat di perwakilan negara kita ketika dia mengambil Vitas, visa tinggal terbatas," ujarnya. 

Mantan Kapolda Bali itu membeberkan, autogate paspor baru bisa melayani warga negara asing dari 13 negara. Ketiga belas negara itu diantaranya Brunei Darussalam, Timor Leste, Kamboja, Malaysia, Thailand, Australia, dan Selandia Baru. 

Direktur Utama PT. Angkasa Pura I (Persero), Faik Fahmi pada kesempatan yang sama mengungkapkan, Bandara Ngurah Rai menjadi lokasi tahap awal pengembangan ketiga alat tersebut. Alasannya Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menjadi pintu udara terpadat dikawasan Indonesia tengah, dan timur. 

"Jadi untuk tahap pengembangan awal ini kita lakukan disini, dan tentu saja alasan lainnya adalah berangkat dari permasalahan yang muncul ya. Karena kan dengan semakin banyaknya jumlah turis yang datang ke Bali, dibutuhkan satu fasilitas yang bisa melayani tidak hanya lebih cepat, tetapi dari sisi pengawasannya juga bisa diawasi dengan lebih baik lagi," katanya.

"Jadi saya kira tiga sistem yang kita kembangkan ini merupakan salah satu solusi yang efektif untuk bagaimana kita tetap memberikan pelayanan yang baik, tetapi dengan pengawasan yang meningakat. Tentu saja tanpa dukungan imigrasi, ini tidak bisa dilakukan," sambungnya. 

Sesuai hasil studi, Faik Fahmi mengklaim, pengoperasian autogate paspor 300 kali lebih cepat dalam melayani penumpang. Jika menggunakan pola manual, pelayanan mencapai 3 menit. Melihat manfaat positif itu, pihaknya berencana mengembangkan alat serupa di bandara lain. 

Bandara yang diproyeksikan mengoperasikan boarding pass scanner , x-ray ATRS, dan autogate paspor, diantaranya Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin (Makasar), Bandar Udara Internasional Juanda (Sidoarjo) serta Bandar Udara Internasional Yogyakarta. Berbicara investasi, PT. Angkasa Pura I (Persero) dikatakan merogoh kocek sebesar Rp60 miliar untuk pengembangan teknologi ketiga alat tersebut.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00