• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Indonesia Semakin Gencar Invasi Peluang Kerjasama Ekonomi Perdagangan ke kawasan Afrika

24 August
00:17 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Sebagai negara besar dengan berbagai potensi dibidang ekonomi dan perdagangan, Indonesia tentunya tidak menyia-nyiakan hal itu untuk melakukan invasi ke negara-negara lain. Tidak hanya Asia, Afrikapun saat ini masuk kedalam daftar utama kawasan tujuan Indonesia dalam melakukan ekspansi kerjasama.

2018 menjadi tahun dimulainya Indonesia mengimplementasikan instruksi presiden Joko Widodo, untuk memaksimalkan penggarapan pasar Afrika dengan menggelar Indonesia-Africa Forum (IAF). IAF menjadi “platform” yang dinilai berhasil dalam mendorong tercapainya upaya memaksimalkan penggarapan pasar Afrika, dengan tercapainya kesepakatan bisnis sekitar 586 juta dolar Amerika Serikat.

Tahun 2019 pemerintah Indonesia memilih Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue (IAID), dengan kembali mengundang 52 negara di kawasan Afrika pada 20 – 21 Agustus di Nusa Dua, Bali. Pelaksanaan IAID dalam dua hari itupun menghasilkan kesepakatan bisnis sebesar 822 juta dolar Amerika Serikat.

Lantas, apakah upaya Indonesia dengan menggelar kedua even tersebut maksimal secara keseluruhan?.

Anggota komisaris Perkeretaapian Nasional Zimbabwe, Ellesh Patel, mengatakan, secara khusus negaranya memerlukan peran besar Indonesia dalam mendukung revitalitasi perkeretaapian dan pembangunan infrastuktur dalam negeri.

“IADI itu sangat bagus sekali, sebab membuka mata kami selain Tiongkok dan India ternyata ada negara seperti Indonesia yang juga memiliki ketertarikan kepada Afrika. Bahkan, Indonesia lebih mengerti apa yang menjadi kebutuhan kami,” ungkap Patel ketika dikonfirmasi RRI, melalui sambungan telepon, Jumat (23/8/2019).

Oleh karena itu, menurut Ellesh, Zimbabwe tertarik untuk mulai menjalin kerjasama dengan PT INKA dan PT WIKA.

“Saya yakin industri kereta api Indonesia akan memainkan bagian signifikan, dalam merestruktrurisasi perkeretaapian Zimbabwe. Sebab, INdonesia memiliki pengalaman, teknologi, memiliki para ahli yang mumpuni. Kami juga ingin melihat para pekerja kami mendapatkan pelatihan dari para ahli Indonesia khususnya terkait perkeretaapian dan memulai kerjasama tentunya,” paparnya.

Ellesh, menambahkan, untuk mendukung terwujudnya kerjasama itu pihaknya akan mulai melakukan penjajakan kerjasama bersama Exim Bank Indonesia bagi mekanisme keuangan.

“Wakil kepala kami kemarin mengunjungi salah satu fasilitas di INKA dan hal itu benar-benar sangat mendorong. Saya rasa apa yang harus kita lakukan saat ini adalah berhubungan dengan Exim Bank Indonesia dan melihat bagaimana hal itu akan bekerja kedepannya,” terang Patel.

Inisiasi Indonesia untuk mendekatkan diri dengan negara-negara Afrika mendorong adanya kerjasama ekonomi dan perdagangan yang intensif, juga mendapatkan apresiasi dari presiden Kamar Dagang dan Industri Afrika Selatan, Mthokozisi Xulu.

Xulu bahkan menilai selain menginginkan adanya intensifitas kerjasama sektor perdagangan dengan Indonesia maupun negara lainnya di kawasan Asia Tengara, menurut Xulu Afrika memerlukan pula adanya investasi bagi produktifitas kapasitas.

“Produk yang canggih yang kami produksi di Afrika bertemu dengan standar konsumen Indonesia, mengenai darimana produk itu berasal yaitu Afrika maupun dari negara lainnya di Asia Tenggara. Kami tentunya mencari kerjasama disektor perdagangan, tapi dalam waktu bersamaan kami juga mengharapkan akan ada investasi kapasitas produktifitas di Afrika,” harap Xulu.

Usai pelaksanaan Indonesia-Africa Forum (IAF) dan Indonesia-Afrika Infrastructure Dialogue (IAID), upaya Indonesia ternyata tidak terhenti pada kedua platform itu saja.

Kerjakeras untuk menggarap pasar Afrika dinilai memerlukan komitmen dari para perwakilan Indonesia yang tersebar di 52 negara Afrika.

Menteri luar negeri RI, Retno Marsudi, menegaskan, memberikan tenggatwaktu bagi para perwakilan di Afrika, untuk memetakan berbagai potensi kerjasama termasuk mekanisme yang dapat digunakan didalamnya.

“Saya berikan waktu satu bulan untuk para dubes untuk memetakan potensi kerjasama bersama dng semua mekanisme yg bsa kita pakai termasuk mekanisme keuangan. Sehingga, paling lambat satu bulan kita sudha bisa kembali melangkah lebih jauh selain menindaklanjuti yang kita hasilkan di IAID. Sehingga, kedepan kita akan memiliki program yang sikapnya lebih konkret. Bulan depan misi Indonesia sudah akan jalan di beberapa negara di Afrika,” tegas Retno, ketika pelaksanaan hari terakhir IAID, Kamis (22/8/2019), di Nusa Dua, Bali.

Retno menambahkan, dengan adanya peningkatan kesepakatan bisnis saat IAID, menjadi bukti semakin menebalnya kepercayaan negara-negara Afrika terhadap Indonesia.

Trust negara-negara Afrika semakin menebal dan memperkokoh yang telah disampaikan tahun 1955. Ini soal solidaritas dan persaudaraan, Indonesia-Afrika dengan itu bisa melompat secara bersama-sama. Pendekatan kita Indonesia bekerjasama sebagai suatu kesatuan secara komprehensif,” ujarnya lagi.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, mengatakan, sejumlah negara di Afrika diantaranya Djibouti, Zanzibar, Kenya, Somalia hingga Uganda, menyatakan ketertarikan untuk bekerjasama dengan Indonesia mulai dari pembangunan infrastruktur, impor tekstil, komoditas pangan, hingga menawarkan peluang bagi Indonesia untuk membuka cabang bank Syariah.

“Dengan Zanzibar, ini merupakan daerah otonom di Tanzania. Ekspor ke Tanzania 263 juta menduduki peringkat kelima. Zanzibar memerlukan impor tekstil dan komoditi pangan lain. Kita diminta bangun sektor pariwisata di sana. Dengan Somalia, sebagai pintu gerbang Etiopia dan Kenya. Di Kenya ada industri Indonesia dan Etiopia. Ekspor ke Somalia masih rendah dan menterinya menyampaikan bahwa mereka menjelaskan mengenai civil war yang terjadi dan mereka ingin membangun perumahannya, untuk low cost housing. Dengan Uganda kita diundang untuk investasi di sektor sepatu kulit dan bank-bank syariah untuk buka cabang di sana,” papar Enggar yang turut mendampingi menlu Retno Marsudi ketika memberikan pernyataan pers bersama di Nusa Dua.

Penggarapan pasar Afrika merupakan instruksi yang disampaikan oleh presiden Joko Widodo pada awal tahun 2018.

Afrika dengan penduduk mencapai 19 miliar jiwa, dinilai memiliki peluang besar bagi produk-produk Indonesia. Indonesiapun menjadikan sejumlah perusahaan BUMN sebagai unggulan mendukung suksesnya misi menjaring pasar Afrika.

Diantaranya, PT. INKA, PT. WIKA, hingga PT. Dirgantara Indonesia.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00