• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sigap Polri

Pesan Tersirat Dibalik Kematian Mahasiswi Asal Nagan Raya

23 August
01:04 2019
0 Votes (0)

KBRN, Banda Aceh : Warga Desa Meunasah Papeun, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, dikejutkan dengan penemuan seorang mahasiswi yang tewas gantung diri di rumah kos-kosan yang berada di Lorong Tgk. Diteupin, Dusun Puklat, Desa Meunasah Papeun, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Rabu (21/8/2019).

Mahasiswi tersebut berinisial LY (25) warga Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Jasat korban pertama kali ditemukan oleh sepupunya berinisial PE (19) pada pukul 13.00 WIB. Saksi PE diketahui tinggal bersama korban dan dua rekan kontrakan lainya yang saat kejadian sedang berada di kampung halaman. 

Menurut keterangan pihak kepolisian, kronologi kejadian berawal ketika saksi pulang ke rumah kostnya. Sontak saja terkejut saat saksi membuka pintu rumah dan melihat korban dalam kondisi  dengan kain selendang yang terikat pada leher tergantung di kusen pintu kamarnya. 

Peristiwa ini langsung menghebohkan warga desa setempat dan kejadian ini langsung dilaporkan kepada aparat kepolisian setempat. 

Menurut hasil olah tempat kejadian perkara, polisi tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Namun ada fakta lain, selembar surat ditemukan di dalam kamar korban dan sebuah pulpen. 

Surat tersebut mengisyaratkan bahwa itu pesan terakhir korban sebelum meninggal dunia. Di dalam surat itu tertulis pesan permintaan maaf korban kepada kedua orang tuanya. Kemudian permintaan maaf juga disampaikan kepada seorang pria bernama Hendra. Belakangan diketahui Hendra adalah calon suami korban. 

Menurut saksi PE, kakak sepupunya itu akan menikah dengan calon suaminya Hendra. Pernikahan itu sedianya akan berlangsung pada tanggal 23 Agustus 2019 di kampung halaman korban, di Nagan Raya. 

Namun apakah surat itu merupakan tulisan korban atau bukan, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan. 

"Kita belum bisa menyimpulkan apakah itu tulisan yang ditulis oleh korban, kita perlu mencocokkan tulisan di surat itu dengan tulisan korban sebenarnya," kata Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Trisno Ryanto pada awak media, Kamis (22/8/2019). 

Namun Trisno memastikan, bahwa korban meninggal dunia karena bunuh diri. "Tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, tidak ada bekas senjata tajam, benda tumpul dan sebagainya. Korban murni bunuh diri. Namun penyebab yang mendorong korban untuk melakukan hal tersebut, ini masih kita lakukan penyelidikan," ungkap Trisno. 

Namun menurut saksi PE yang diperkuat oleh Keterangan pihak keluarga, ada kejanggalan dibalik kematian korban. Saksi menyebutkan bahwa surat tersebut diduga bukan tulisan tangan korban. Untuk mengungkap ini, polisi masih bekerja.  

Lalu siapa sosok Hendra calon suami korban ? 

Belakangan, sebuah surat rekomendasi nikah yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lueng Bata beredar dan viral di grup-grup WhatsApp dan media sosial. Surat itu sebagai syarat untuk menikah antara korban dengan calon suaminya. 

Di dalam surat yang diterbitkan pada tanggal 14 Agustus 2019 itu, terungkap calon suami korban merupakan warga Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh, statusnya beristri. 

Dikonfirmasi RRI, pihak Kementerian Agama Wilayah Aceh pun membenarkan surat tersebut. Kasi Kepenghuluan Kanwil Kemenag Aceh Haswin mengatakan, mengenai status calon suami telah beristri sudah sesuai input data kependudukan sipil atau berdasarkan KTP. 

"Status yang bersangkutan adalah duda, namun karena sistem kita online maka kita harus mengisi sesuai data KTP. Sementara di status KTPnya belum dirubah di catatan sipil. Namun yang bersangkutan adalah duda dengan dibuktikan surat dari pengadilan," jelas Haswin. 

Dia menyebutkan, pasangan calon suami istri ini telah mendatangi KUA Lueng Bata untuk menjalani bimbingan pranikah. Saat mendatangi KUA, keduanya menurut pihak KUA juga terlihat romantis.

Menjelang hari pernikahan, hingga korban meninggal dengan cara yang tragis, tidak ada tanda-tanda mencurigakan yang terlihat di rumah kontrakan korban. 

Salah satu tetangga korban yang tidak ingin disebutkan namanya menceritakan,  pada malam sebelum ditemukan korban meninggal dunia, tidak ada tanda-tanda aneh di rumah kos korban. 

"Tidak ada ada tanda mencurigakan. Tidak ada terdengar suara apa-apa. Tapi yang kami tahu, korban tinggal sendiri di rumah, karena sepupunya tidur di asrama kampus," katanya. 

Di mata para tetangga, korban merupakan sosok yang pendiam namun ramah dan akrab jika berinteraksi dengan anak-anak. Para tetangga pun juga tidak terlalu mengetahui tentang kepribadian korban. 

Menurut pemilik kontrakan, Muktar (69), korban baru sekitar satu tahun tinggal di kos tersebut. "Korban tinggal bersama tiga orang temannya, mereka tinggal satu kos. Namun dua orang temannya sudah pulang kampung, jadi tinggal berdua," kata Mukhtar. 

"Jadi duluan kawan-kawannya yang sewa, belakangan baru korban," tambah Muktar. 

Jenazah korban telah dilakukan visum di RSUDZA Banda Aceh, namun hasilnya belum terungkap. Pihak keluarga juga telah menjemput jenazah korban pada Rabu malam dan Kamis siang telah dimakamkan di kampung halamannya.

Korban yang merupakan mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala itu harus tewas dengan cara tak wajar. Seharusnya saat ini korban sedang menanti-nanti hari pernikahannya dengan calon suami, Hendra. Namun kehendak berkata lain. Hingga kini penyebab korban mengakhiri hidupnya masih menjadi misteri, sekalipun pihak kepolisian menyatakan korban meninggal dunia karena bunuh diri. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00