• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Agus Widjojo: Alumni Lemhannas Harus Jadi Agen Perubahan

22 August
21:39 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Refleksi hasil proses belajar-mengajar yang didapat dalam Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) 59 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Gubernur Lemhannas Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo berharap, pelajaran dan pengalaman selama mengikuti PPRA 59 dapat dikembangkan di tempat kerja masing-masing Alumni PPRA 59 itu sendiri.

Sedangkan nilai tambah yang didapat dari kesertaan para alumni PPRA 59 adalah adanya kesempatan saling belajar dan berbagi dari kebersamaan yang berasal dari beragam latar belakang, khususnya antara peserta TNI/Polri dan non TNI/Polri, serta negara sahabat. 

Sistem nasional yang efektif, menurut Agus Widjojo, hanya dapat dibangun atas dasar kebersamaan antara dasar kekuatan struktur, disiplin secara individu dan kelembagaan serta patriotisme yang menjadi ciri organisasi TNI/Polri, dengan independensi pemikiran atau cara berfikir eksploratif dalam tradisi berfikir ilmiah sebagai ciri berfikir dari non TNI/Polri. 

"Kedua ciri budaya kelembagaan tersebut perlu dibangun sebagai kompetensi perseorangan guna mendapatkan analisis kritis dalam rangka mendapatkan hasil terbaik dalam sebuah sistem nasional," sebut Gubernur Lemhannas Agus Widjojo dalam Upacara Penutupan Program Pendidikan Reguler Angkatan 59, di Jakarta, Kamis (22/8/2019).

Nilai tambah lainnya dari kehidupan Senat PPRA 59 adalah sebagai laboratorium kehidupan bersama dalam sebuah organisasi, antara lain bagaimana menentukan kesepakatan pilihan dari pemikiran 99 orang anggota Senat, masing-masing berawal dari pendapat perseorangan yang berbeda-beda, dan bagaimana menyikapi kekecewaan apabila pilihan yang dianggap terbaik tidak menjadi pilihan pimpinan.

Kemudian bagaimana menyikapi perbedaan, bagaimana berhadapan dengan otoritas pemimpin. Contoh yang bisa dilihat adalah dalam masyarakat, dimana lebih banyak bukan merupakan contoh yang baik dan tidak patut untuk dijadikan model pencarian solusi atas perbedaan. 

Dalam kaitan itulah para alumni PPRA 59 nanti dapat menjadi agen perubahan dari sistem nasional yang kurang efektif menuju kepada pembangunan sistem nasional yang lebih efektif dalam rangka meningkatkan peradaban bangsa, dalam sebuah kesatuan sikap masyarakat modern dimana setiap warganya menyadari akan hak dan kewajibannya secara seimbang. 

"Hal ini sejalan dengan tagline generasi milenial yang bukan lagi menjadi “yang terbaik” seperti dalam era old, tetapi menjadi “yang pertama” sebagai simbol inovasi. Dalam arti, “yang pertama” menemukan cara baru, “yang pertama” melakukan perubahan," imbuhnya.

Agus lantas mengutip pernyataan Jack Ma, pendiri Alibaba Group dalam World Economic Forum, bahwa pendidikan untuk masa depan bukanlah mendidik generasi muda bersaing dengan mesin tentang hal-hal rutin dan berulang, namun keterampilan yang diperlukan di masa depan justru adalah soft skills seperti berpikir independen, sistem nilai dan kemampuan untuk bekerja sama. 

Sementara itu, sambung Agus Widjojo, contoh lain lagi yakni Minouche Shafik, Direktur London School of Economics, dimana ia menyatakan hal yang serupa, tentang pentingnya soft skills, keterampilan melakukan penelitian, kemampuan mencari informasi dan memadukannya guna menciptakan makna dari keberadaannya, serta mencari nilai implementasinya agar bermanfaat bagi masyarakat.

Para alumni kini tengah berada pada awal pengabdian kembali. Pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kompetensi tidak hadir untuk tujuan pada dirinya sendiri. Semua elemen tersebut hadir guna diabdikan sebagai instrumen pengabdian para peserta didik. Oleh karenanya menjadi penting bagi alumni untuk mengambil intisari dari pembekalan yang diterima dan mencari bentuk operasionalnya sebagai jembatan yang menghubungkan antara pembekalan dalam pendidikan dengan pengabdian di lapangan. 

Apabila melihat perkembangan lingkungan yang terjadi sekarang ini, tuntutan bagi alumni untuk bisa mentransformasikan pembekalan yang diterima di Lemhannas RI menjadi bentuk pengabdian konkret dalam tugas menjadi suatu hal mendesak. Pemahaman yang tepat pada diri sendiri, dalam fungsi organisasi adalah pemahaman atas pengetahuan dan praktek organisasi, pemahaman atas konsep sistem politik yang berlaku, khususnya demokrasi, prosedur dan mekanisme proses pembuatan dan implementasi kebijakan publik.

"Terakhir dan yang terpenting, kesadaran menempatkan diri sebagai warga negara yang baik, apapun jabatan dan bidang pengabdiannya," tandasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00