• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

Kreatif, Siswa SMPN 22 Malang Ciptakan Tempe Biji Nangka Hingga Budidaya Cacing

22 August
16:22 2019
2 Votes (4.5)

KBRN, Malang: Sebagai salah satu lembaga pendidikan di Kota Malang, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 22 Malang mengembangkan edukasi berbasis kearifan lokal pada siswa di sekolahnya. Ada berbagai inovasi yang telah dibuat sekolah ini untuk memeberikan inspirasi pada masyarakat sekitar melalui pengolahan potensi lokal.

Siswa di sekolah tersebut, dilatih untuk mengolah sampah, termasuk mengolah biji nangka yang tidak terpakai menjadi produk makanan berupa tempe. Inovasi ini diharapkan menjadi alternatif dalam membuat tempe, khususnya ketika harga kedelai di pasaran sedang tinggi. 

"Sehingga diharapkan dapat memberikan inspirasi kepada masyarakat, khususnya anak didik kami untuk mampu mengembangkan potensi yang dimilik untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomis," kata Ketua Tim Adiwiayata SMPN 22 Malang, Dwi Utami, Kamis (22/8/2019).

Ia mengungkapkan, untuk membuat tempe dari biji nangka caranya relaitf mudah. Yakni memisahkan dan membersihkan biji nangka, kemudian biji nangka direbus di dalam air mendidih selama kurang lebih 20 menit, biji nangka yang sudah dikupas kulitnya dipotong kecil-kecil. 

"Biji nangka itu dicampur tepung terigu, kemudian dibungkus daun jati atau daun pisang selama dua hari. Setelah itu jadilah tempe biji nagka dan siap untuk dimasak," paparnya. 

Selain dilatih untuk membuat tempe biji nangka, siswa juga dilatih untuk melakukan budidaya cacing. Budidaya itu dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menjadikan lingkungan lebih baik, mulai dari membantu mengolah sampah organik menjadi kompos, sumber protein tinggi untuk hewan ternak, serta mencipatakan sistem drainase alami dari tanah.

"Kami ingin memberikan pemahaman bahwa sampah harus dikelola dengan baik, memberikan pengalaman kepada siswa dalam pengelolaan sampah organik di sekolah, serta memberikan wawasan bahwa sampah organik dapat diolah menjadi bahan yang bernilai," tutur Dwi. 

Ke depan, sambung Dwi, pihak sekolah berharap SMP Negeri 22 Malang bisa menjadi pelopor destinasi wisata edukasi yang mengangkat kearifan lokal sebagai unggulannya. "Kearifan lokal ini dikembangkan mulai dari pembibitan, penanaman hingga pengolahan serta pemanfaatan limbahnya," tandasnya. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00